Istri tetanggaku tante girang

Cerita tante kali ini tentang seorang yang lagi ronda dan mendapati istri tetangganya yang lagi kesepian karena suami kerja. nah dalam kesempatan itu, si cowok berhasil membujuk dan merayu si tante untuk mendapatkan sensasi seks yang lain dengan dirinya. Bagaimana cerita selengkapnya, kita ketekapeh aja langsung nyoook,,,,,,
Sudah bertahun-tahun kegiatan ronda malam di lingkungan tempat tinggalku berjalan dengan baik. Setiap malam ada satu grup terdiri dari tiga orang. Sebagai anak muda yang sudah bekerja saya  dapat giliran ronda pada malam minggu.

Pada suatu malam minggu saya  giliran ronda. Tetapi sampai pukul 23.00 dua orang temanku tidak muncul di pos perondaan. saya  tidak peduli mau datang apa tidak, karena saya  maklum tugas ronda adalah sukarela, sehingga tidak baik untuk dipaksa-paksa. Biarlah saya  ronda sendiri tidak ada masalah.

Karena memang belum mengantuk, saya  jalan-jalan mengontrol kampung. Biasanya kami mengelilingi rumah-rumah penduduk. Pada waktu sampai di samping rumah Pak Tadi, saya  melihat kaca nako yang belum tertutup. saya  mendekati untuk melihat apakah kaca nako itu kelupaan ditutup atau ada orang jahat yang membukanya. Dengan hati-hati kudekati, tetapi ternyata kain korden tertutup rapi. Kupikir kemarin sore pasti lupa menutup kaca nako, tetapi langsung menutup kain kordennya saja. Mendadak saya  mendengar suara aneh, seperti desahan seseorang. Kupasang telinga baik-baik, ternyata suara itu datang dari dalam kamar. Kudekati pelan-pelan, dan darahku berdesir, ketika ternyata itu suara orang bersetubuh. Nampaknya ini kamar tidur Pak Tadi dan istrinya. saya  lebih mendekat lagi, suaranya dengusan nafas yang memburu dan gemerisik dan goyangan tempat tidur lebih jelas terdengar. "Ssshh.. hhemm.. uughh.. ugghh, terdengar suara dengusan dan suara orang seperti menahan sesuatu. Jelas itu suara tante Tadi yang ditindih suaminya. Terdengar pula bunyi kecepak-kecepok, nampaknya penis Pak Tadi sedang mengocok liang vagina tante Tadi. Aduuh, darahku naik ke kepala, penisku sudah berdiri keras seperti kayu. saya  betul-betul iri membayangkan Pak Tadi menggumuli istrinya. Alangkah nikmatnya menyetubuhi tante Tadi yang cantik dan bahenol itu.

"Oohh, sshh buu, saya  mau keluar, sshh.. sshh.." terdengar suara Pak Tadi tersengal-sengal. Suara kecepak-kecepok makin cepat, dan kemudian berhenti. Nampaknya Pak Tadi sudah ejakulasi dan pasti penisnya dibenamkan dalam-dalam ke dalam vagina tante Tadi. Selesailah sudah persetubuhan itu, saya  pelan-pelan meninggalkan tempat itu dengan kepala berdenyut-denyut dan penis yang kemeng karena tegang dari tadi.

Sejak malam itu, saya  jadi sering mengendap-endap mengintip kegiatan suami-istri itu di tempat tidurnya. Walaupun nako tidak terbuka lagi, namun suaranya masih jelas terdengar dari sela-sela kaca nako yang tidak rapat benar. saya  jadi seperti detektip partikelir yang mengamati kegiatan mereka di sore hari. Biasanya pukul 21.00 mereka masih melihat siaran TV, dan sesudah itu mereka mematikan lampu dan masuk ke kamar tidurnya. saya  mulai melihat situasi apakah aman untuk mengintip mereka. Apabila aman, saya  akan mendekati kamar mereka. Kadang-kadang mereka hanya bercakap-cakap sebentar, terdengar bunyi gemerisik (barangkali memasang selimut), lalu sepi. Pasti mereka terus tidur. Tetapi apabila mereka masuk kamar, bercakap-cakap, terdengar ketawa-ketawa kecil mereka, jeritan lirih tante Tadi yang kegelian (barangkali dia digelitik, dicubit atau diremas buah dadanya oleh Pak Tadi), dapat dipastikan akan diteruskan dengan persetubuhan. Dan saya  pasti mendengarkan sampai selesai. Rasanya seperti kecanduan dengan suara-suara Pak Tadi dan khususnya suara tante Tadi yang keenakan disetubuhi suaminya.

Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Apabila saya  bertemu tante Tadi juga biasa-biasa saja, namun tidak dapat dipungkiri, saya  jadi jatuh cinta sama istri Pak Tadi itu. Orangnya memang cantik, dan badannya padat berisi sesuai dengan seleraku. Khususnya pantat dan buah dadanya yang besar dan bagus. saya  menyadari bahwa hal itu tidak akan mungkin, karena tante tadi istri orang. Kalau saya  berani menggoda tante Tadi pasti jadi masalah besar di kampungku. Bisa-bisa saya  dipukuli atau diusir dari kampungku. Tetapi nasib orang tidak ada yang tahu. Ternyata saya  akhirnya dapat menikmati keindahan tubuh tante Tadi.

Pada suatu hari saya  mendengar Pak Tadi opname di rumah sakit, katanya operasi usus buntu. Sebagai tetangga dan masih bujangan saya  banyak waktu untuk menengoknya di rumah sakit. Dan yang penting saya  mencoba membangun hubungan yang lebih akrab dengan tante Tadi. Pada suatu sore, saya  menengok di rumah sakit bersamaan dengan adiknya Pak Tadi. Sore itu, mereka sepakat tante Tadi akan digantikan adiknya menunggu di rumah sakit, karena tante Tadi sudah beberapa hari tidak pulang. saya  menawarkan diri untuk pulang bersamaku. Mereka setuju saja dan malah berterima kasih. Terus terang kami sudah menjalin hubungan lebih akrab dengan keluarga itu.

Sehabis mahgrib saya  bersama tante Tadi pulang. Dalam mobilku kami mulai mengobrol, mengenai sakitnya Pak Tadi. Katanya seminggu lagi sudah boleh pulang. saya  mulai mencoba untuk berbicara lebih dekat lagi, atau katakanlah lebih kurang ajar. Inikan kesempatan bagus sekali untuk mendekatai tante Tadi.
"Bu, maaf yaa. ngomong-ngomong tante Tadi sudah berkeluarga sekitar 3 tahun kok belum diberi momongan yaa", kataku hati-hati.
"Ya, itulah Dik Budi. Kami kan hanya lakoni. Barangkali Tuhan belum mengizinkan", jawab tante Tadi.
"Tapi anu tho bu.. anuu.. bikinnya khan jalan terus." godaku.
"Ooh apa, ooh. kalau itu sih iiya Dik Budi" jawab tante Tadi agak kikuk. Sebenarnya kan saya  tahu, mereka setiap minggunya minmal 2 kali bersetubuh dan terbayang kembali desahan tante Tadi yang keenakan. Darahku semakin berdesir-desir. saya  semakin nekad saja.
"Tapi, kok belum berhasil juga yaa bu?" lanjutku.
"Ya, itulah, kami berusaha terus. Tapi ngomong-ngomong kapan Dik dandi kawin. Sudah kerja, sudah punya mobil, cakep lagi. Cepetan dong. Nanti keburu tua lhoo", kata tante Tadi.
"Eeh, benar nih tante Tadi. saya  cakep niih. Ah kebetulan, tolong carikan saya  Bu. Tolong carikan yang kayak Ibu Tadi ini lhoo", kataku menggodanya.
"Lho, kok hanya kayak saya. Yang lain yang lebih cakep kan banyak. Saya khan sudah tua, jelek lagi", katanya sambil ketawa.
Aku harus dapat memanfaatkan situasi. Harus, tante tadi harus saya  dapatkan.
"Eeh, tante Tadi. Kita kan nggak usah buru-buru nih. Di rumah tante Tadi juga kosong. Kita cari makan dulu yaa. Mauu yaa bu, mau yaa", ajakku dengan penuh kekhawatiran jangan-jangan dia menolak.
"Tapi nanti kemaleman lo Dik", jawabnya.
"Aah, baru jam tujuh. Mau ya Buu", saya  sedikit memaksa.
"Yaa gimana yaa.. ya deh terserah Dik Budi. Tapi nggak malam-malam lho." tante Tadi setuju. Batinku bersorak.

Kami berehenti di warung bakmi yang terkenal. Sambil makan kami terus mengobrol. Jeratku semakin saya  persempit.
"Eeh, saya  benar-benar tolong dicarikan istri yang kayak tante Tadi dong Bu. benar nih. Soalnya begini bu, tapii eeh nanti tante Tadi marah sama saya. Nggak usaah saya  katakan saja deh", kubuat tante Tadi penasaran.
"Emangnya kenapa siih." tante tadi memandangku penuh tanda tanya.
"Tapi janji nggak marah lho." kataku memancing. Dia mengangguk kecil.
"Anu bu.. tapi janji tidak marah lho yaa."
"Bu Tadi terus terang saya  terobsesi punya istri seperti tante tadi. saya  benar-benar bingung dan seperti orang gila kalau memikirkan tante Tadi. saya  menyadari ini nggak betul. tante Tadi kan istri tetanggaku yang harus saya  hormati. Aduuh, maaf, maaf sekali bu. saya  sudah kurang ajar sekali", kataku menghiba. tante Tadi melongo, memandangiku. sendoknya tidak terasa jatuh di piring. Bunyinya mengagetkan dia, dia tersipu-sipu, tidak berani memandangiku lagi.

Sampai selesai kami jadi berdiam-diaman. Kami berangkat pulang. Dalam mobil saya  berpikir, ini sudah telanjur basah. Katanya laki-laki harus nekad untuk menaklukkan wanita. Nekad kupegang tangannya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku memegang setir. Di luar dugaanku, tante Tadi balas meremas tanganku. Batinku bersorak. saya  tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada kata-kata, batin kami, perasaan kami telah bertaut. Pikiranku melambung, melayang-layang. Mendadak ada sepeda motor menyalib mobilku. saya  kaget.
"Awaas! hati-hati!" tante Tadi menjerit kaget.
"Aduh nyalib kok nekad amat siih", gerutuku.
"Makanya kalau nyetir jangan macam-macam", kata tante tadi. Kami tertawa. Kami tidak membisu lagi, kami ngomong, ngomong apa saja. Kebekuan cair sudah. Sampai di rumah saya  hanya sampai pintu masuk, saya  lalu pamit pulang.

Di rumah saya  mencoba untuk tidur. Tidak bisa. Nonton siaran TV, tidak nyaman juga. saya  terus membayangkan tante Tadi yang sekarang sendirian, hanya ditemani pembantunya yang tua di kamar belakang. Ada dorongan sangat kuat untuk mendatangi rumah tante Tadi. Berani nggaak, berani nggak. Mengapa nggak berani. Entah setan mana yang mendorongku, tahu-tahu saya  sudah keluar rumah. saya  mendatangi kamar tante Tadi. Dengan berdebar-debar, saya  ketok pelan-pelan kaca nakonya, "Buu Tadi, saya  Budi", kataku lirih. Terdengar gemerisik tempat tidur, lalu sepi. Mungkin tante Tadi bangun dan takut. Bisa juga mengira saya  maling. "Aku Budi", kataku lirih. Terdengar gemerisik. Kain korden terbuka sedikit. Nako terbuka sedikit. "Lewat belakang!" kata tante Tadi. saya  menuju ke belakang ke pintu dapur. Pintu terbuka, saya  masuk, pintu tertutup kembali. saya  nggak tahan lagi, tante Tadi saya  peluk erat-erat, kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya dengan lembut dan mesra, penuh kerinduan. tante Tadi membalas memelukku, wajahnya disusupkan ke dadaku.

"Aku nggak bisa tidur", bisikku.
"Aku juga", katanya sambil memelukku erat-erat.
Dia melepaskan pelukannya. saya  dibimbingnya masuk ke kamar tidurnya. Kami berpelukan lagi, berciuman lagi dengan lebih bernafsu. "Buu, saya  kangen bangeet. saya  kangen", bisikku sambil terus menciumi dan membelai punggungnya. Nafsu kami semakin menggelora. saya  ditariknya ke tempat tidur. tante Tadi membaringkan dirinya. Tanganku menyusup ke buah dadanya yang besar dan empuk, aduuh nikmat sekali, kuelus buah dadanya dengan lembut, kuremas pelan-pelan. tante Tadi menyingkapkan dasternya ke atas, dia tidak memakai BH. Aduh buah dadanya kelihatan putih dan menggung. saya  nggak tahan lagi, kuciumi, kukulum pentilnya, kubenamkan wajahku di kedua buah dadanya, sampai saya  nggak bisa bernapas. Sementara tanganku merogoh kemaluannya yang berbulu tebal. Celana dalamnya kupelorotkan, dan tante Tadi meneruskan ke bawah sampai terlepas dari kakinya. Dengan sigap saya  melepaskan sarung dan celana dalamku. Penisku langsung tegang tegak menantang. tante Tadi segera menggenggamnya dan dikocok-kocok pelan dari ujung penisku ke pangkal pahaku. Aduuh, rasanya geli dan nikmat sekali. saya  sudah nggak sabar lagi. saya  naiki tubuh tante Tadi, bertelekan pada sikut dan dengkulku.

Kaki tante Tadi dikangkangkannya lebar-lebar, penisku dibimbingnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Digesek-gesekannya di bibir kemaluannya, makin lama semakin basah, kepala penisku masuk, semakin dalam, semakin.. dan akhirnya blees, masuk semuanya ke dalam kemaluan tante Tadi. saya  turun-naik pelan-pelan dengan teratur. Aduuh, nikmat sekali. Penisku dijepit kemaluan tante Tadi yang sempit dan licin. Makin cepat kucoblos, keluar-masuk, turun-naik dengan penuh nafsu. "Aduuh, Dik Budi, Dik Budii.. enaak sekali, yang cepaat.. teruus", bisik tante Tadi sambil mendesis-desis. Kupercepat lagi. Suaranya vagina tante Tadi kecepak-kecepok, menambah semangatku. "Dik Budii saya  mau muncaak.. muncaak, teruus.. teruus", saya  juga sudah mau keluar. saya  percepat, dan penisku merasa akan keluar. Kubenamkan dalam-dalam ke dalam vagina tante Tadi sampai amblaas. Pangkal penisku berdenyut-denyut, spermaku muncrat-muncrat di dalam vagina tante Tadi. Kami berangkulan kuat-kuat, napas kami berhenti. Saking nikmatnya dalam beberapa detik nyawaku melayang entah kemana. Selesailah sudah. Kerinduanku tercurah sudah, saya  merasa lemas sekali tetapi puas sekali.

Kucabut penisku, dan berbaring di sisinya. Kami berpelukan, mengatur napas kami. Tiada kata-kata yang terucapkan, ciuman dan belaian kami yang berbicara.
"Dik Budi, saya  curiga, salah satu dari kami mandul. Kalau saya  subur, saya  harap saya  bisa hamil dari spermamu. Nanti kalau jadi saya  kasih tahu. Yang tahu bapaknya anakku kan hanya saya  sendiri kan. Dengan siapa saya  membuat anak", katanya sambil mencubitku. Malam itu pertama kali saya  menyetubuhi tante Tadi tetanggaku. Beberapa kali kami berhubungan sampai saya  kawin dengan wanita lain. tante Tadi walaupun cemburu tapi dapat memakluminya.

Keluarga Pak tadi sampai saat ini hanya mempunyai satu anak perempuan yang cantik. Apabila di kedepankan, tante Tadi sering menciumi anak itu, sementara matanya melirikku dan tersenyum-senyum manis. Tetanggaku pada meledek tante Tadi, mungkin waktu hamil tante Tadi benci sekali sama saya . Karena anaknya yang cantik itu mempunyai mata, pipi, hidung, dan bibir yang persis seperti mata, pipi, hidung, dan bibirku.

Seperti telah anda ketahui hubunganku dengan tante Tadi istri tetanggaku yang cantik itu tetap berlanjut sampai kini, walaupun saya  telah berumah tangga. Namun dalam perkawinanku yang sudah berjalan dua tahun lebih, kami belum dikaruniai anak. Istriku tidak hamil-hamil juga walaupun penisku kutojoskan ke vagina istriku siang malam dengan penuh semangat. Kebetulan istriku juga mempunyai nafsu seks yang besar. Baru disentuh saja nafsunya sudah naik. Biasanya dia lalu melorotkan celana dalamnya, menyingkap pakaian serta mengangkangkan pahanya agar vaginanya yang tebal bulunya itu segera digarap. Di mana saja, di kursi tamu, di dapur, di kamar mandi, apalagi di tempat tidur, kalau sudah nafsu, ya saya  masukkan saja penisku ke vaginanya. Istriku juga dengan penuh gairah menerima coblosanku. saya  sendiri terus terang setiap saat melihat istriku selalu nafsu saja deh. Memang istriku benar-benar membuat hidupku penuh semangat dan gairah.

Tetapi karena istriku tidak hamil-hamil juga saya  jadi agak kawatir. Kalau mandul, jelas saya  tidak. Karena sudah terbukti tante Tadi hamil, dan anakku yang cantik itu sekarang menjadi anak kesayangan keluarga Pak Tadi. Apakah istriku yang mandul? Kalau melihat fisik serta haidnya yang teratur, saya  yakin istriku subur juga. Apakah saya  kena hukuman karena saya  selingkuh dengan tante Tadi? aah, mosok. Nggak mungkin itu. Apakah karena dosa? Waah, mestinya ya memang dosa besar. Tapi karena menyetubuhi tante Tadi itu enak dan nikmat, apalagi dia juga senang, maka hubungan gelap itu perlu diteruskan, dipelihara, dan dilestarikan.

Untuk mengatur perselingkuhanku dengan tante Tadi, kami sepakat dengan membuat kode khusus yang hanya diketahui kami berdua. Apabila Pak Tadi tidak ada di rumah dan benar-benar aman, tante Tadi memadamkan lampu di sumur belakang rumahnya. Biasanya lampu 5 watt itu menyala sepanjang malam, namun kalau pada pukul 20.00 lampu itu padam, berarti keadaan aman dan saya  dapat mengunjungi tante Tadi. (Anda dapat meniru caraku yang sederhana ini. Gratis tanpa bayar pulsa telepon yang makin mahal). Karena dari samping rumahku dapat terlihat belakang rumah tante Tadi, dengan mudah saya  dapat menangkap tanda tersebut. Tetapi pernah tanda itu tidak ada sampai 1 atau 2 bulan, bahkan 3 bulan. saya  kadang-kadang jadi agak jengkel dan frustasi (karena kangen) dan saya  mengira juga tante Tadi sudah bosan denganku. Tetapi ternyata memang kesempatan itu benar-benar tidak ada, sehingga tidak aman untuk bertemu.

Pada suatu hari saya  berpapasan dengan tante Tadi di jalan dan seperti biasanya kami saling menyapa baik-baik. Sebelum melanjutkan perjalanannya, dia berkata, "Dik Budi, besok malam minggu ada keperluan nggak?"
"Kayaknya sih nggak ada acara kemana-mana. Emangnya ada apa?" jawabku dengan penuh harapan karena sudah hampir satu bulan kami tidak bermesraan.
"Nanti ke rumah yaa!" katanya dengan tersenyum malu-malu.
"Emangnya Pak Tadi nggak ada?" kataku. Dia tidak menjawab, cuma tersenyum manis dan pergi meneruskan perjalanannya. Walaupun sudah biasa, darahku pun berdesir juga membayangkan pertemuanku malam minggu nanti.

Seperti biasa malam minggu adalah giliran ronda malamku. Istriku sudah tahu itu, sehingga tidak menaruh curiga atau bertanya apa-apa kalau pergi keluar malam itu. saya  sudah bersiap untuk menemui tante Tadi. saya  hanya memakai sarung, (tidak memakai celana dalam) dan kaos lengan panjang biar agak hangat. Dan memang kalau tidur saya  tidak pernah pakai celana dalam tetapi hanya memakai sarung saja. Rasanya lebih rileks dan tidak sumpek, serta penisnya biar mendapat udara yang cukup setelah seharian dipepes dalam celana dalam yang ketat.

Waktu menunjukkan pukul 22.00. Lampu belakang rumah tante Tadi sudah padam dari tadi. saya  berjalan memutar dulu untuk melihat situasi apakah sudah benar-benar sepi dan aman. Setelah yakin aman, saya  menuju ke samping rumah tante Tadi. saya  ketok kaca nako kamarnya. Tanpa menunggu jawaban, saya  langsung menuju ke pintu belakang. Tidak berapa lama terdengar kunci dibuka. Pelan pintu terbuka dan saya  masuk ke dalam. Pintu ditutup kembali. saya  berjalan beriringan mengikuti tante Tadi masuk ke kamar tidurnya. Setelah pintu ditutup kembali, kami langsung berpelukan dan berciuman untuk menyalurkan kerinduan kami. Kami sangat menikmati kemesraan itu, karena memang sudah hampir satu bulan kami tidak mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Setelah itu, tante Tadi mendorongku, tangannya di pinggangku, dan tanganku berada di pundaknya. Kami berpandangan mesra, tante tadi tersenyum manis dan memelukku kembali erat-erat. Kepalanya disandarkan di dadaku.

"Paa, sudah lama kita nggak begini", katanya lirih. tante Tadi sekarang kalau sedang bermesraan atau bersetubuh memanggilku Papa. Demikian juga saya  selalu membisikkan dan menyebutnya Mama kepadanya. Nampaknya tante Tadi menghayati betul bahwa Nia, anaknya yang cantik itu bikinan kami berdua.
"Pak Tadi sedang kemana sih maa", tanyaku.
"Sedang mengikuti piknik karyawan ke Pangandaran. saya  sengaja nggak ikut dan hanya Nia saja yang ikut. Tenang saja, pulangnya baru besok sore", katanya sambil terus mendekapku.
"Maa, saya  mau ngomong nih", kataku sambil duduk bersanding di tempat tidur. tante Tadi diam saja dan memandangku penuh tanda tanya.
"Maa, sudah dua tahun lebih saya  berumah tangga, tetapi istriku belum hamil-hamil juga. Kamu tahu, mustinya secara fisik, kami tidak ada masalah. saya  jelas bisa bikin anak, buktinya sudah ada kan. saya  nggak tahu kenapa kok belum jadi juga. Padahal bikinnya tidak pernah berhenti, siang malam", kataku agak melucu. tante Tadi memandangku.
"Pa, saya  harus berbuat apa untuk membantumu. Kalau saya  hamil lagi, saya  yakin suamiku tidak akan mengijinkan adiknya Nia kamu minta menjadi anak angkatmu. Toh anak kami kan baru dua orang nantinya, dan pasti suamiku akan sayang sekali. Untukku sih memang seharusnya bapaknya sendiri yang mengurusnya. Tidak seperti sekarang, keenakan dia. Cuma bikin doang, giliran sudah jadi bocah orang lain dong yang ngurus", katanya sambil merenggut manja. saya  tersenyum kecut.
"Jangan-jangan ini hukuman buatku ya maa, saya  dihukum tidak punya anak sendiri. Biar tahu rasa", kataku.
"Ya sabar dulu deh paa, mungkin belum pas saja. Spermamu belum pas ketemu sama telornya Rina (nama istriku). Siapa tahu bulan depan berhasil", katanya menghiburku.
"Ya mudah-mudahan. Tolong didoain yaa.."
"Enak saja. Didoain? Mustinya saya  kan nggak rela Papa menyetubuhi Rina istrimu itu. Mustinya Papa kan punyaku sendiri, saya  monopoli. Nggak boleh punya Papa masuk ke perempuan lain kan. Kok malah minta didoain. Gimana siih", katanya manja dan sambil memelukku erat-erat. Benar juga, mestinya kami ini jadi suami-istri, dan Nia itu anak kami.
"Maa, kalau kita ngomong-ngomong seperti ini, jadinya nafsunya malah jadi menurun lho. Jangan-jangan nggak jadi main nih", kataku menggoda.
"Iiih, dasar", katanya sambil mencubit pahaku kuat-kuat.
"Makanya jangan ngomong saja. Segera saja Mama ini diperlakukan sebagaimana mestinya. Segera digarap doong!" katanya manja.

Kami berpelukan dan berciuman lagi. Tentu saja kami tidak puas hanya berciuman dan berpelukan saja. Kutidurkan dia di tempat tidur, kutelentangkan. tante Tadi mandah saja. Pasrah saja mau diapain. Dia memakai daster dengan kancing yang berderet dari atas ke bawah. Kubuka kancing dasternya satu per satu mulai dari dada terus ke bawah. Kusibakkan ke kanan dan ke kiri bajunya yang sudah lepas kancingnya itu. Menyembullah buah dadanya yang putih menggunung (dia sudah tidak pakai BH). Celana dalam warna putih yang menutupi vaginanya yang nyempluk itu saya  pelorotkan. saya  benar-benar menikmati keindahan tubuh istri gelapku ini. Saat satu kakinya ditekuk untuk melepaskan celana dalamnya, gerakan kakinya yang indah, vaginanya yang agak terbuka, aduh pemandangan itu sungguh indah. Benar-benar membuatku menelan ludah. Wajah yang ayu, buah dada yang putih menggunung, perut yang langsing, vagina yang nyempluk dan agak terbuka, kaki yang indah agak mengangkang, sungguh mempesona. saya  tidak tahan lagi. saya  lempar sarungku dan kaosku entah jatuh dimana. saya  segera naik di atas tubuh tante Tadi. Kugumuli dia dengan penuh nafsu. saya  tidak peduli tante Tadi megap-megap keberatan saya  tindih sepenuhnya. Habis gemes banget, nafsu banget sih.
"Uugh jangan nekad tho. Berat nih", keluh tante Tadi.
Aku bertelekan pada telapak tanganku dan dengkulku. Penisku yang sudah tegang banget saya  paskan ke vaginanya. Terampil tangan tante Tadi memegangnya dan dituntunnya ke lubang vaginanya yang sudah basah. Tidak ada kesulitan lagi, masuklah semuanya ke dalam vaginanya. Dengan penuh semangat kukocok vagina tante Tadi dengan penisku. tante Tadi semakin naik, menggeliat dan merangkulku, melenguh dan merintih. Semakin lama semakin cepat, semakin naik, naik, naik ke puncak.
"Teruus, teruus paa.. sshh.. ssh.." bisik tante Tadi
"Maa, saya  juga sudah mau.. keluaarr",
"Yang dalam paa.. yang dalamm. Keluarin di dalaam Paa.. Paa.. Adduuh Paa nikmat banget Paa.., ouuch..", jeritnya lirih yang merangkulku kuat-kuat. Kutekan dalam-dalam penisku ke vaginanyanya. Croot, cruut, crruut, keluarlah spermaku di dalam rahim istri gelapku ini. Napasku seperti terputus. Kenikmatan luar biasa menjalar kesuluruh tubuhku. tante Tadi menggigit pundakku. Dia juga sudah mencapai puncak. Beberapa detik dia saya  tindih dan dia merangkul kuat-kuat. Akhirnya rangkulannya terlepas. Kuangkat tubuhku. Penisku masih di dalam, saya  gerakkan pelan-pelan, aduh geli dan ngilu sekali sampai tulang sumsum. Vaginanya licin sekali penuh spermaku. Kucabut penisku dan saya  terguling di samping tante Tadi. tante Tadi miring menghadapku dan tangannya diletakkan di atas perutku. Dia berbisik, "Paa, Nia sudah cukup besar untuk punya adik. Mudah-mudahan kali ini langsung jadi ya paa. saya  ingin dia seorang laki-laki. Sebelum Papa tadi mengeluh Rina belum hamil, saya  memang sudah berniat untuk membuatkan Nia seorang adik. Sekalian untuk test apakah Papa masih joos apa tidak. Kalau saya  hamil lagi berarti Papa masih jooss. Kalau nanti pengin menggendong anak, ya gendong saja Nia sama adiknya yang baru saja dibuat ini." Dia tersenyum manis. saya  diam saja. menerawang jauh, alangkah nikmatnya bisa menggendong anak-anakku.

Malam itu saya  bersetubuh lagi. Sungguh penuh cinta kasih, penuh kemesraan. Kami tuntaskan kerinduan dan cinta kasih kami malam itu. Dan saya  menunggu dengan harap-harap cemas, jadikah anakku yang kedua di rahim istri gelapku ini? Salam. Demikian cerita tante girang kali ini, sukses terus semoga anda terhibur denganc erita cerita yang kami suguhkan. tetep positif thingking dan liat tante tante yang memang layak dijadikan korban :P , jangan sembarang tante dijerumuskan ya :D

Tante Virna Yang Baik

Cerita tante Girang - Pengalaman seks seorang mahasiswa sebuah universitas terkenal. pertemuannya dengan tante girang membuat dia terjerumus dalam dnia seks. Hubungannya pun berlanjut menikmati kepuasan birahi nya. Lebih lanjut selamat membaca cerita nya.


Nama Aku Aldi. Sekarang Aku masih kuliah di Universitas dan Fakultas paling favorit di Yogyakarta. Aku ingin menceritakan pengalaman Aku pertama kali berkenalan dengan permainan seks yang mungkin membuat Aku sekarang haus akan seks.Waktu itu Aku masih sekolah di salah satu SMP favorit di Yogyakarta. Hari itu Aku sakit sehingga Aku tidak bisa berangkat sekolah, setelah surat ijin Aku titipkan ke teman terus Aku pulang. Ketika sampai di rumah Papa dan Mama sudah pergi ke kantor dan Mama pesan supaya Aku istirahat saja di rumah dan Mama sudah memanggil Tante virna untuk menjaga Aku. Tante virna waktu itu masih sekolah di sekolah perawat. Sehabis minum obat, mata Aku terasa mengantuk. Ketika mau terlelap Tante virna mengetuk kamarku.

Dia bilang, "Al, sudah tidur?" Aku jawab dari dalam, "Belum, tante!" Tante virna bertanya, "Kalau belum boleh tante masuk." Terus Aku bukakan pintu, waktu itu Aku sempat kaget juga melihat Tante virna. Dia baru saja pulang dari aerobik, masih dengan pakaian senam dia masuk ke kamar. Walau masih SMP kelas 2 lihat Tante virna dengan pakaian gitu merasa keder juga. Payudaranya yang montok seperti tak kuasa pakaian senam itu menahannya. Kemudian dia duduk di samping. Dia bilang, "Al, kamu mau Aku ajari permainan nggak Al?" Tanpa pikir panjang, Aku jawab, "Mau tante, tapi permainan apa lha wong Aldi baru sakit gini kok!"

Tante virna berkata, "Namanya permainan kenikmatan, tapi mainnya harus di kamar mandi. Yuk" Sambil Tante virna menggandeng tanganku masuk ke kamar mandi Aku. Aku sih mau-mau saja. Kemudian mulai dia melorotkan celana Aku sambil berkata, "Wah, burungmu untuk anak SMP tergolong besar Al." Tante virna terkagum-kagum. Waktu itu Aku cuma cengengesan saja, lha wong hati Aku deg-degan sekali waktu itu.

Terus dia mulai membasahi kemaluan Aku dengan air, kemudian dia beri shampo, terus digosok. Lama-lama Aku merasa kemaluan Aku semakin lama semakin keras. Setelah terasa kemudian dia melucuti pakaiannya satu demi satu. Ya, tuhan ternyata tubuhnya sintal banget. Payudaranya yang montok, dengan pentil yang tegang, pantat yang berisi dan sintal kemudian vaginanya yang merah muda dengan rambut kemaluan yang lebat. Kemudian dia berjongkok, setelah itu dia mengulum penis Aku, dadanya yang montok ikut bergoyang. Dada dan nafasku semakin memburu.

Aku cuma bisa memejamkan mata, aduh nikmatnya yang namanya permainan seks. Kemudian, Aku nggak tahu tiba-tiba saja naluri Aku bergerak. Tangan Aku mulai meremas-remas dadanya, sementara tangan Aku yang satu turun mencari liang vaginanya. Kemudian Aku masukkan jari Aku, dia meritih, "Akhh, Aldi!" Aku semakin panas, Aku kulum bibirnya yang ranum, Aku nggak peduli lagi. Setelah bibir, kemudian turun Aku ciumi leher dan akhir Aku kulum punting susunya. Dia semakin merintih, "Aakhh, Aldi terus Al!" Aku nggak tahu berapa lama kami di kamar mandi, terus tahu-tahu dia sudah di atas Aku. "Aldi sekarang tante kasih akhir permaianan yang manis, ya?"

Dia meraih kemaluan Aku yang sudah tegang sekali waktu itu. Kemudian dimasukkan ke dalam vaginanya. Kami berdua sama-sama merintih, "Akhh! Lagi tante.. lagi tantee." Terus dia mulai naik turun, sampai Aku merasa ada yang meletus dari penis Aku dan kami sama-sama lemas. Setelah itu kami mandi bersama-sama. Waktu mandi pun kami sempat mengulangi beberapa kali.

Setelah itu kami berdua sama-sama ketagihan. Kami bermain mulai dari kamar Aku, pernah di sebuah hotel di kaliurang malah pernah cuma di dalam mobil. Rata-rata dalam satu minggu kami bisa 2-3 kali bermain dan pasti berakhir dengan kepuasan karena Tante virna pintar membuat variasi permainan sehingga kami tidak bosan. Setelah Tante virna menikah Aku jadi kesepian. Kadang kalau baru kepingin Aku cuma bisa dengan pacar Aku, Nanda.

Untung kami sama-sama tegangan tinggi, tapi dari segi kepuasan Aku kurang puas mungkin karena Aku sudah jadi "Hiperseks" atau mungkin Tante virna yang begitu mahirnya sehingga bisa mengimbangi apa yang Aku mau. Nah, buat cewek-cewek atau tante-tante bermukim di Yogya yang sama-sama tegangan tinggi, kapan-kapan kita bisa saling berkenalan dan berhubungan. Mungkin kita bisa bermain seperti Tante virna.

Demikian cerita dari aldi, Semoga bermanfaat dan bisa dijadikan pelajaran.

Ngeseks dengan Pacarku

Stok Cerita Tante girang lagi abis nih, buat mengisi kekosongan gue pengen berbagi cerita seks anak muda yang lagi dimabok asmara, Langsung aja lu baca ceritanya berikut ini yang penuh birahi tinggi.


Aku dan dia semobil dari keliling Jateng, mulai Semarang-Salatiga-Sragen -nginep di Solo. Walo capek, tp seneng aja. Ketawa - tawa, nyanyi - nyanyi di mobil. Sampai Solo, kita nyari hotel yg rate-nya gak nguras dompet. Akhirnya nemu di jln terusannya stadion. Nama hotelnya kayak yg di daerah Bratang. Kita masuk-masukin barang, order makan malam, terus nonton tipi. Posisi jam 9an. Belum mandi. "Yank..mo dipijat gak..? Seharian di mobil", aku nawarin ke dia. "Mas aja yg tak pijat. Nyetir terus kan, gak tak gantiin", dia jawab. "Yo wis..aku dulu. Abis itu kamu ya." Dia bangun, ambil body lotion merk Vitalis. Bukan promosi lho..but..emang enak baunya. Cocok buat hal - hal yg romantis..he3x.

Aku langsung lepas baju-celana, tinggal cd yg belum. Tubuh kuposisikan di tengah tempat tidur. Dia mulai melumuri dua tangannya dengan Vitalis. Juga ke tubuhku. Pertama, bagian wajah. Dipijat - pijat sekitar mata, turun ke leher. Dituang lagi ke tangan. Sekarang dua bahu, turun sampai ke jari jemariku.Diulang 2x. Sambil diremas-remas pelan. Lotion dituang ke dada sampai perutku. Di dada diurut aja, gak dipijat. Turun ke perut. Balik dada lagi. Dua pentilku disentil-sentil pelan. Kadang ditekan. Kaosku yg ada di meja samping tempat tidur diambil, lalu dilapkan ke pentilku. Aku dari tadi diem aja. Biar dia yg jadi bos. Dua pentilku dijilat-jilat. Digigit-gigit pelan. Sesekali diisep. Reaksiku sebatas ngusap-usap rambutnya yg menjuntai ke dadaku. Punyaku mulai wakeup pelan-pelan. Ada 5 menit bermain-main di dadaku. Lotion dituang ke tangannya lagi. Kali ini bagian pahaku yg dilumuri. Rata sampai jari kaki. Diulang 2x. Lalu mulai memijat, paha kiri dulu, lalu kanan. Diremas - remas agak keras.

Tangan kanannya kadang mampir ke cdku. Diusep - usep dan sesekali diremas lembut. "Balik badan Mas.", dia kasih perintah. Aku lalu balik badan. Sekarang bagian punggung yg dilumuri lotion. Diusap - usap dan dipijat - pijat. Turun ke pantatku. Walo masih pake cd, diremas - remas pantatku. Turun ke paha. Kayak yg paha depan tadi aksinya. "Udah Mas..lumayan enak abis dipijat tho..?",dia tanya aku. "Iya Yank..makasih banget ya." Aku bangun lalu cium mesra bibirnya. "Sesuai janji..sekarang kamu yg tak pijat". Dia gak jawab, cuma senyum. Kulepas kaos dan bhnya. Lalu celana, minus cdnya. Dia telungkup. Vitalis kutuang ke punggung sampai pinggangnya. Pelan kupijat, mulai leher belakang dulu. Turun ke punggung. Dua tangan bagian belakang juga kupijat. Balik ke punggung lagi. Dari bagian samping, kusentuh daging susunya, sebentar.

Turun ke pinggang. Di sana kupijat dan kuremas - remas lembut. Turun lagi ke pahanya. Agak keras kupijat dan kuurut. "Balik Yank..", aku perintah dia. Dia sekarang telentang. Dua matanya merem. Tangan kanan - kirinya kugeser agak menjauh dari tubuhnya. Seputar mata kupijat pelan. Turun ke leher, juga kupijat pelan. Bagian depan dua tangannya ku remas dan kupijat lembut. Lotion kutuang ke tanganku. Di dadanya kuusap rata, minus pentil. Di sana kupijat, kuurut, kuremas lembut. Sekitar 5menitan. Mulai ada reaksi hormonal. Sekitar lehernya ada semburat warna merah. Bagi yg gak ngeh, itu tandanya dia mulai terangsang. Tanda itu makin menjadi kala dia orgasme. Sampai di pentil, kujilat - jilat, kugigit, dan kusentil - sentil.

Enaknya gak kalah deh ama tante girang, bahkan lebih enak yang ini kalo gw pikir. okedeh tamat dulu cerita ngeseks gue, lagi mo ada acara nih ma tante meli di hotel, ntar deh gue ceritain ngapain aja ama tante meli yang ndut.

Calon Mertua Ku Tante girang

Cerita tante girang kali ini tentang camer alias calon mertua yang binal, udah pacaran ama anaknya eh dapet bonus calon mertua gue ternyata bispak, mirip mirip tante girang kali ya kwkwkwk, Berikut Ceritanya.


aku udah punya seorang cewek......yah dia kan udah gede ...tinggi banget anaknya
alkisah, aku pacaran ama dia lama banget, tapi aku belum pernah sekalipun bertemu engan keluarganya..dikarenakan dia tinggal dengan neneknya. Ibunya tinggal di luarkota untuk cari duit. Pertamanya aku kasihan lihat cewekku, bapaknya kan udah cerai ama ibunya. so dia tinggal sendiri sama neneknya.
Pernah sih sesekali ngobrol lewat telpon sama ibunya. enak juga sih diajak ngobrol, klihatannya kalo dari gaya bicaranya, dia masih muda banget, lalu aka tanyain ama cewekku, eh ternyata apa katanya?????
Umurnya masih 25..hehehe masih sexy tuh paling

Setahun sudah aku pacaran ma dia, sebut saja namanya rani. Aku ga tau kenapa nekad aja, pas suatu malam.
Aku ajak dia jalan2 keliling kota, pertamanya sih ga ada niatan apa2, tapi pas kita berhenti di suatu toko, aku ga sengaja lihat majalah yang agak senonok gitu deh.
otakku jadi kaco. nafsuku jadi semakin ga karuan..Tanpa ba bi bu, aku ajak aja si rina pulang. "Ayo rin kerumahku dulu, kita nyante dulu dirumah", ajak ku.

setibanya dirumah, kayaknya emang kesempatan memihak padaku. Rumahku sepi banget
orang2 ga ada dirumah.....

Basa basi dulu deh ma rani "ran ibumu ga pulang yah?" tanyaku.
"pulang bulan depan mas, "jawab rani lugu.
"oh gitu yah?" ku tanggapi dengan bimbang,karena nafsuku udah ga tahan nih pingin segera meletus letus.

Langsung aja deh aku deketin dia pelan2, seperti biasanya kalo aku sedang ingin kissing.
dia juga membalas ciumanku dengan mesra dan penuh kasih sayang, tapi aku mencumbunya dengan penuh nafsu...
Tanganku mulai bergerilya di balik kaos ketat merk c59 itu, segera menerjang kebelakang untuk membuka Bra yang dipakainya.
Tanpa melepas kaosnya, aku udah melepas ikatan Branya ...(orang buru2 yah gini ini)

Tak begitu lama, segera saja tanganku pindah kedepan, kuraba dengan halus kulit nya yang sangat mulus, sampa iakhirnya kurasakan bagian yang agak menonjol. 34 b
setelah kuremas pelan bagian yang kenyal itu, lalu aku raba sedikit bagian pucuk pentilnya.

aku mainkan sedikit di bagian itu, eh dia mulai ga konsen dengan ciumannya, dia malah merem melek, mendesis seperti ular ketemu mangsanya...." SSSZZZZTTTTTT" desahnya yang bikin aku ngaceng banget

Ga sabar banget nih, rasanya ubun2ku udah mau pecah

Segera aja aku buka kaosnya beserta Branya...
Langsung aku lahap puntingnya, dan ku hisap hisap sampai dia menggerang "aaooouuhgghht"
Sebalah kiri ku hisap, sebelah kanan ku remas remas pelan.

Setalah cukup disebelah kiri segara saja aku hisap juga sebelah kanan.....
"Aaaaggghhttt, mas geli ah" rintihnya
"tapi enak kan dek?" tanyaku dengan canda
"iiiyyyaaa massss, aagghhhhtthh" dia mulai kehilangan pegangan

melihat dia lupa daratan, segera kuslipkan jemariku di balik celananya.

ohhh begitu hangatnya dan sangat basah disini
dia terlihat diam dan menikmatinya
semakin aku ingin memainkan klitorisnya
"aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh mas aaaahhhhhggggtt" rintihnya mengeras saat itu kudengar suara motor masuk ke garasi

segera saja aku dan rani langsung sadar...(padahal aku belum perawani dia)
kenapa kesempatan ga ada yah??/???? "sial" umpatku
well akhirnya aku ga berhasil perwani dia hahahaha(jangan kecewa, masih ada yang lainnya kok)

akhirnya, tiba hari dimana ibunya Rani pulang.
Aku ikut menyambut kedatangan Ibunya rani(sebut saja tante lia) di rumah tante lia sendiri.
ternyata tante lia benar2 masih muda n sexy banget......wajahnya ga jauh beda dengan anaknya
"Selamat datang Tante,"sembari kusalami tante lia, tercuim bau harum menusuk hidungku
"Oh iya, km yah pacarnya Rani?" Tanya nya dengan pandangan yang liar.
"Iya tante," jawabku dengan sedikit grogi.
"tolong dong kamu bantuin rani angkat barang2 di taksi" dia memintaku
" baik tante," segera saja aku angkat barang2nya.

(langsung aja di hari yang paling enak)
ku ambil motor, setelah aku berdandan rapi
aku niatnya sih apel kerumah rani,
tapi begitu aku sampai dirumah rani...............
kuketok pintu rumah rani.....apa yang aku lihat benar2 membuatku ga tahan.
Tante lia keluar membuka pintu dengan pakaian yang sangat minim, celana pendek 15 cm diatas lutut dan baju tanpa lengan...

"tante Raninya ada?" tanyaku dengan sopan dan halus.
"Aduh Rani tadi masih aku suruh ambil barang dirumah neneknya," jawabnya dengan halus. wah padahal rumahnya si nenek jauh banget.
"dah dari tadi yah tante?" tanyaku penasaran.
"barusan berangkat nih, masuk dulu deh, ditunggu aja, toh dia juga ga lama, cuma ambbil barang," sembari menyuruhku masuk.
"iya deh tante," jawabku sangat sopan.
setelah aku duduk di kursi, tante membuatkanku minum, saat kulihat dari belakang...buseeeeeeettttt pantatnya...bikin ga tahan aja

"ini diminum dulu dek," sambil menyuguhkan minuman dingin.
"iya makasih tante," hehe
"Tante mandi dulu ya dek, gerah banget di sini," minta izin dengan sedikit senyuman nakal.
"Iya tante biar saya disini aja," keringat dingin keluar di seluruh tubuhku

sambil mengisi waktu luang, aku melihat2 foto2 yang ada di dinding..... foto masa kecil rani, foto bapaknya, dan foto masa muda tante lia.
Emang bener2 cantik masa muda tante lia..
Beberapa menit berlalu, aku mulai bosan melihat foto2 ini.
Aku beranjak dari tempatku melihat foto, ehhh ternyata....kamar mandinya ga ditutup rapat pintunya

Bergegas saja aku menuju pintu kamar mandi itu, aku menyelipkan pandanganku di balik pintu itu.
Disana terlihat tubuh yang indah dan begitu mulusnya tanpa bercak sedikitpun.
Beberapa menit berlalu, saat tante mulai menggosok badanya dengan sabun, torpedoku mulai terangkat, mulai ga mau diatur.

aku pegang saja torpedoku agar terasa enak gitu.........
sampai2 aku tak sadar kalo tante udah mulai ambil handuk.....segera saja aku berlari ke kursiku, dengan sedikit membuat suara gaduh karena buru buru.

tante mulai berjalan kekamarnya........
tak lama kemudian terdengar suara mamanggilku
"dek randy tolong kesini sebentar dong, bantuin tante....," suara tante.
"iya tante," dengan hati berdegub aku datang kekamar tante lia.
sesampainya di kamar, aku lihat tante memakai celana + bra, tapi branya ga di talikan.

"Tolong ini ikatin dong dek." pintanya manja.
"ii iiya tante," aku semakin gemetar.air liurku serasa habis aku telan terus.

terasa begitu halus kulit tante lia, seakan aku mau terus menyentuhnya, aku ga memasang Branya.
"lho dek, ayo dong cepet pasang, gimana sih?" pintanya.
"ooo iya tante, maaf," aku terkejut, seakan di tampar seribu kali,

"Dek tadi apa ada orang masuk rumah?" Tanyanya menyela.
"Ga ada tuh tante. emang kenapa?" tanyaku penasaran.
"Ga, tadi kayaknya ada yang ngintip aku mandi deh." .........
Wah aku semakin kalut., keringatku semakin bercucuran, untung saja aku udah selesai memasang Branya

"eeehh anuuu tante,,, giniii eeehhh,mmmmmm" aku mulai gugup
"anu kenapa? jangan2..............," tante mulai curiga.
"Tidak tante, aku tudak ngintip lho, aku ga tau sama sekali, bener deh, aku ga tau pokoknya" kegugupan ku semakin parah
"Lho ya, kok kamu gugup banget, santai aja..."sembari dia memegang pinggangku.

"kalo dek randy yang ngintip aku iklas kok," langsung saja dilemparkannya tubuhku ke atas tempat tidur.

Aku tak bisa apa apa, hanyabisa menelan air liur yang sudah habis dari tadi.
Segera saja, dia ikut terjun di atas tempat tidur, dengan tanpa memakai pakaian.
Tepat berada diatasku.
Kembali dia tanggalkan bra yang aku pasangin tadi
"dek udah pernah ngerasaain belu?" tannyanya dengan tangannya mulai menggerayangi torpedoku yang udah menegang dari tadi.
"mmeemmmmmmmmmmmmmmhhhhhhhh" aku tak bisa berkata apapun.

Dia langsung aja mencopot ikat pinggangku beserta celanaku....sampai akhirnya torpedoku keluar semua tanpa ada yang tertutupi.
Dibuangnya celanaku dengan keras di bawah tempat tidur....
Dengan pandangan centil, langsung saja dia melahap torpedoku.....

Hangat sekali rasanya..... "ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh" rintihku pelan menikmati permainan tante lia.
dia sanngat prof dalam masalah ginian. maklumlah namanya juga udah tante
dilahap semua sampai tak tersisa, sampai2 dua telurku juga di jilat, ah bener2 nikmat.

Sekarang dia mulai mencopot celananya, tetapi mulutnya masih saja menjilati torpedoku, seakan dia tak mau membiarkan torpedoku istirahat barang sejenak.

Begitu celananya terlepas dari tubuhnya, dia memindah posisinya....
Kepalaku di apit oleh kedua pahanya. Terus dia tetap aja menjulati dan menghisap torpedoku.

Aku tak tau harus bagai mana. tapi begitu ada daging merah yang ditumbuhi bulu2 halus itu, segera saja aku juga menjilatinya dengan pelan dan lembut.
setiap lipatan kunikmati, ku julurkan lidahku kedalam,........
ohhhh baunya benar2 nikmat...........
saat kurasakan tubuhnya mulai gemetar, semakin keras kupermainkan kliorisnya............
tak lama kemudian
"aaaahhhhhhhhhhhh" tante lia merintih kecil, disertai kluarnya cairan hangat dan kental dari lubang indah itu.
Tak mau melewatkannya, ku jilat habis cairan itu.
"Ayo dek, tante udah ga tahan, gatal banget di dalam sana." pintanya dengan mesra.
segera saja dia berpindah arah, dia duduk diatas tubuhku, dan memasukan torpedoku ke dalam lubang indah itu.
"aaahhhh" rintihku kenakan. benar - benar hangat dan begitu sempitnya lubang vagina ini.

dia mulai bergerak pelan, naik turun, sembari menata tubuh.
Setelah mulai tertata. tempo gerakannya mulai dipercepat........sampai terdengar suara.."plok plok plok," suara pantatnya menepuk - nepuk pahaku.

"aaaahhh ahhh" tante mulai hilang kendali, merintih tanpa pedulikan apapun

Sampai 3 menit..........gerakan tante semakin keras,, tak tau kenapa, sangat keras gerakanya sampai akhirnya......
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH," terasa di atas torpedoku cairan hangat yang memenuhi lubang nikmat itu, memaksa torpedoku untuk keluar dari lubang itu,

tante tak bergerak sedikitpun, Terlihat dia lemas. lalu
"dek kamu di atas yah," pintanya dengan memelas
"iya deh," Segera saha aku berdiri dan pindah posisi.

Aku mulai memasukan torpedoku ke dalam lubang itu,
aku gerakan maju mundur dengan pelan.......
saat udah mulai lancar, aku sedikit menambah kecepatann pergerakanku...

kurasakan posisiku agak begitu tak nyaman. ku angkat kedua kakinya, berada di pundakku.

"aaaahhh dek, aaaaaaaahhhh kamu pinter dekm," dengan wajahnya yang sangat menikmati permainanku.
"alah tante nih bisa aja." sambil ku tersenyum....

"aahhhh dek aaaah ayo lebih cepat dek," pintanya sambil dia menggigit bibirnye.
Akupun menjadi semakin menggila, ku pecepat gerakanku....

"Aaahh terus dekk kkkkk haaaaaaaahhhhhhhhhhhhh tuh kan keluar lagi tante," sambil mempermainkan klitorisnya sendiri..
Aku tetap menggerakan torpedoku maju mundur walau apapun yang terjadi.........

" Dekkkk dogy yu..." pintanya dengan terlihat sangat kelelahan..tapi juga sangat kenikmatan.

Tanpa banyak kata segera saja aku cabut torpedo ini..........
dia langsung memasang posisinya, dan terlihat dari belakan, daging merah yang merekah, yang membuatku terpana.

"ayo deeekk, kok malah bengong, masukin donk..bikin tante seneng,." pintanya dengan genit.
"iya tante, maaf" aku malu banget, karena kurang banyak bicara.

segera kuhujamkan turpedo ku kedalam lipatand aging itu, serasa lain rasanya kalau lewat belakang.
"Aaahhh bener gitu dek ahhhh." rintihnya menikmati.
" ahhh ahh enak tante, vagina mantap" aku sudah berani bicara........

"aaaaaaaaahhhhhhhhhh tersu dek, tabah kecepatan dek" dengan menggrutu, dia meremas remas senduru susunya.
"aaaahhhh dek tersuuuuuuuuuuuuuuusssssssss" semakin keras menggrutu

tak lama, kurasakan, ada sesuatu yang mau keluar dari tubuhku, seakan tak mau ditahan, aku tak sanggup menahannya
aku semakin keras menghentak kan tubuhku,,
"aahhhh ayo dek aku juga mau keluar nih,,,,,,,,,'" keras banget suarnya..

sampai akhirnya tak tertahan " ahhhhhhhhhhhhhhhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh tante,,,, ga tahan ahhhaaaaaaaaaaahhhggggggttt " kukeluarkan semua cairan sperma yang ada di tubuhku.
Rasanya seperti hilang semua energiku.................

Kudiamkan beberapa detik torpedoku di lubang itu, sampai akhirnya kami berdua terkulai lemas.........

akhirnya....acara apelku gagal, aku pulang, tapi aku puas bisa mlampiaskan nafsuku...

Dan itu awal gue selingkuh dengan calon mertua sendiri, dan terus berlanjut ampe sekarang, kadang nyesel juga, tapi nafsu gue susah kali dibendung kalo dah liat pantat semok calon mertua.

Tante Mia Bercerita

Ada tante girang lagi curhat nih, biasa kalo tante girang curhat pasti gak jauh jauh dari cerita seks atau cerita panas diseputaan lendir dan selangkangan, menarik mungkin bisa menambah gairah seks anda terhadap pasangan sendiri, asal jangan kepada pasangan lain seperti cerita berikut ini.


Namaku Mia, karyawati sebuah bank swasta terkenal, yang semenjak beberapa lama aku mengalami frigiditas dalam persetubuhan, terutama sejak melahirkan anak pertamaku. Atas anjuran suamiku, aku dibawa suamiku ke dukun yang bernama Ki Alugoro yang bermukim di desa kecil di luar Jakarta untuk menyembuhkan frigiditasku. Sejak itu, setelah sembuh, gairahku untuk bersetubuh malah jadi menggebu-gebu, mungkin karena dalam rangka penyembuhan tersebut aku harus mau menuruti semua persyaratan yang diajukan oleh Ki Alugoro, antara lain diurut dengan semacam obat dalam keadaan telanjang bulat dan disetubuhi olehnya (waktu itu disetujui dan malah disaksikan oleh suamiku). Akupun setuju asal aku dapat sembuh dari frigiditasku. Dan mungkin karena ****** Ki Alugoro memang benar-benar besar, lagi pula dia pandai sekali mencumbu den membangkitkan gairahku, ditambah dengan ramuan-ramuan yang diberikan olehnya, maka sekarang aku benar-benar sembuh dari frigiditasku, dan menjadi wanita dengan gairah seks yang lumayan tinggi. Hanya saja, karena ukuran ****** suamiku jauh lebih kecil dari ****** Ki Alugoro, maka dengan sendirinya suamiku tidak pernah bisa memuaskanku dalam bersetubuh. Apakah aku harus datang lagi ke tempat Ki Alugoro dengan pura-pura belum sembuh? (padahal supaya aku disetubuhi lagi olehnya). Mula-mula terbersit pikiran untuk berbuat begitu, tapi setelah kupikir-pikir lagi kok gengsi juga ya? Masak seorang istri baik-baik datang ke laki-laki lain supaya disetubuhi walaupun kalau mengingat ****** Ki Alugoro yang luar biasa besar itu aku sering tidak bisa tidur dan gairahku untuk bersetubuh memuncak habis. Sering-sering aku harus memuaskan diri dengan dildo yang kubeli tempo hari di depan suamiku sehabis kami bersetubuh karena suamiku tidak bisa memuaskan diriku. Malah sering suamiku sendiri yang merojok-rojokkan dildo itu ke dalam tempikku. Untunglah, entah karena mengerti penderitaanku atau tidak, ternyata suamiku mempunyai angan-angan untuk melakukan persetubuhan three in one atau melihat aku disetubuhi oleh laki-laki lain, terutama setelah dia melihat aku disetubuhi Ki Alugoro tempo hari. Pantesan sejak itu, sebelum bercinta, dia selalu mengawalinya dengan angan-angannya. Angan-angan yang paling merangsang bagi suamiku, adalah membayangkan aku bersetubuh dengan laki-laki lain dengan kehadiran suamiku, seperti dengan Ki Alugoro tempo hari. Setelah beberapa lama dia menceritakan angan-angannya tersebut, suatu hari dia bertanya bahwa apakah aku mau merealisasikan angan-angan tersebut. Pada awalnya aku pura-pura mengira dia cuma bercanda. Namun dia semakin mendesakku untuk melakukan itu, aku bertanya apakah dia serius. Dia jawab, ''Ya aku serius!'' Kemudian dia berkata, bahwa motivasi utamanya adalah untuk membuatku bahagia dan mencapai kepuasan setinggi-tingginya. Karena dengan melihat wajahku ketika mencapai orgasme dengan Ki Alugoro tempo hari, selain sangat merangsang juga memberikan kepuasan tersendiri bagi dirinya (rupanya, waktu melihat tempikku dianceli ****** gede Ki Alugoro, diam-diam dia mengocok-ngocok ******nya sendiri sampai orgasme.) Tentu saja hal itu sebetulnya sangat aku harapkan. Inilah yang namanya dildo dicinta, ******pun tiba. Secara terus terang, seperti aku tuturkan diatas, aku tidak pernah merasa puas dengan ****** suamiku yang kecil, terutama setelah tempikku dianceli oleh ****** Ki Alugoro yang luar biasa itu. Wah, rasanya sampai tidak bisa aku katakan. Kuakui selama ini aku juga sering mengalami gejolak birahi yang tiba-tiba muncul, apalagi di pagi hari apabila malamnya kami melakukan persetubuhan karena suamiku tidak dapat melakukannya secara sempurna dan aku tidak sampai orgasme. Rupanya angan-angan seksual suamiku tersebut bukan hanya merupakan sekadar angan-angan saja akan tetapi dia sangat bersikeras untuk dapat mewujudkannya menjadi suatu kenyataan dan suamiku terus membujukku agar aku mau membantunya dalam melaksanakan angan-angannya (padahal sebenarnya aku sudah sangat mengharapkan, kapan rencana itu diwujudkan?). Tetapi untuk meyakinkan keseriusannya aku pura-pura terpaksa mengalah dan berjanji akan membantunya sepanjang aku dapat melakukannya dan kutanyakan apakah dia tidak cemburu melihat istrinya ditelanjangi dan tempiknya dianceli dengan ****** orang lain? Dia bilang sama sekali tidak. ''Karena aku hanya ingin melihat kau bahagia dan terpuaskan dalam persetubuhan'' jawabnya mantab waktu itu. ''Tentu saja aku akan mencarikan kau temanku yang mempunyai ****** besar dan keras. Setidak tidaknya sama dengan ****** Ki Alugoro tempo hari'' janjinya lebih lanjut. Sejak itu dia rajin menawarkan nama-nama temannya untuk mensetubuhiku. ''Terserah kaulah, kan kau yang punya rencana aku disetubuhi temanmu'' jawabku waktu itu. Akhirnya di suatu hari suamiku berbisik padaku, ''Aku telah mengundang Edo untuk menginap di sini malam ini'' Hatiku berdebar keras mendengar kata-kata suamiku itu, karena Edo teman suamiku itu adalah salah seorang idola di sekolahku dulu dan dia adalah cowok yang menjadi rebutan cewek-cewek dan sangat kudambakan jadi pacarku semasa SMA. Suamikupun kenal baik dengan dia karena kami memang berasal dari satu kota kabupaten yang tidak seberapa besar. Terus terang kuakui bahwa penampilan Edo sangat oke. Bentuk tubuhnya pun lebih tinggi, lebih kekar dan lebih atletis dari tubuh suamiku karena dia dulu jago basket dan olah raga yudo. Walaupun Edo adalah cowok yang kudambakan semasa SMA dulu, tetapi kami belum pernah berpacaran karena dia memang agak acuh terhadap cewek dan disamping itu, banyak sainganku cewek-cewek yang mengejar-ngejar dia. Apalagi waktu itu sudah menjelang EBTANAS, dan setelah itu dia sibuk dengan persiapan masuk universitas. Waktu itu aku kelas 1, sedang dia kelas 3 SMA. Ketika Edo datang, aku sedang mematut-matut diri dan memilih gaun yang seksi dengan belahan dada yang cukup rendah agar aku terlihat menarik. Dari cermin rias di kamar tidurku, kuamati gaun yang kukenakan terlihat sangat ketat melekat pada tubuhku sehingga lekukan-lekukan tubuhku terlihat dengan jelas. Susuku kelihatan sangat menonjol membentuk dua buah bukit daging yang indah. Tubuhku memang ramping dan berisi. Susuku yang subur juga kelihatan sangat kenyal. Demikian pula pantatku yang cenderung nonggeng itu menonjol seakan menantang laki-laki yang melihatnya. Dengan perutku yang masih cukup rata dengan kulitku yang puber (putih bersih) membuat tubuhku menjadi sangat sempurna. Apalagi wajahku memang tergolong cantik. Dan terus terang, dari dulu aku memang bangga dengan tubuh dan wajahku. Tiba-tiba aku baru tersadar, pantas saja suamiku mempunyai angan-angan untuk melihat aku disetubuhi oleh laki laki-lain. Ingin membandingkan dengan film BF yang sering kami lihat mungkin. Setelah mematut-matut diri, aku keluar untuk menyediakan makan malam. Setelah makan malam, Edo dan suamiku duduk mengobrol di teras belakang rumah dengan santai sambil menghabiskan beberapa kaleng bir yang dicampur dengan sedikit minuman keras pemberian teman suamiku yang baru pulang dari luar negeri. Tidak berapa lama aku pun ikut duduk minum bersama mereka. Malam itu hanya kami berdua ditambah Edo saja di rumah. Pembantuku yang biasa menginap, tadi siang telah kuberikan istirahat untuk pulang ke rumahnya selama beberapa hari, sedang anakku satu-satunya tadi siang dijemput mertuaku untuk menginap di rumahnya. Ketika hari telah makin malam dan udara mulai terasa dingin, tiba-tiba suamiku berbisik kepadaku, ''Aku telah bicara dengan Edo mengenai rencana kita. Dia setuju malam ini menginap di sini. ''Tapi walaupun demikian kalau kamu kurang cocok dengan pilihanku ini, kamu tidak usah takut berterus terang padaku!'' bisik suamiku selanjutnya. ''Tapi kujamin ******nya memang gede, aku beberapa kali melihatnya waktu kencing di kantor. Tapi soal kekerasannya, kamu sendiri yang dapat membuktikannya nanti'' lanjutnya lagi. Mendengar bisikan suamiku itu, diam-diam hatiku gemetar sambil bersorak gembira, tetapi aku pura-pura diam saja, tidak menunjukkan sikap yang menolak atau menerima. Dalam hati aku mau lihat bagaimana reaksinya nanti bila aku benar-benar bersetubuh dengan laki-laki lain. Apakah dia nanti tidak akan cemburu melihat istrinya disetubuhi lelaki lain secara sadar dan seluruh bagian tubuh istrinya yang sangat rahasia dilihat dan dinikmati oleh laki-laki lain yang sudah amat dia kenal (kalau dengan Ki Alugoro kan dalam rangka penyembuhan?). Tidak berapa lama kemudian aku masuk ke kamar dan berganti pakaian memakai baju tidur tipis tanpa BH, sehingga susuku, terutama pentil susuku yang besar itu terlihat membayang di balik baju tidur. Ketika aku keluar kamar, baik suamiku maupun Edo kelihatan terpana untuk beberapa saat. Akan tetapi mereka segera bersikap biasa kembali dan suamiku langsung berkata, ''Ayo..!'' katanya dengan senyum penuh arti kepada kami berdua dan kamipun segera masuk ke kamar tidur. Di kamar tidur suamiku mengambil inisiatif lebih dulu dengan mulai menyentuh dan melingkarkan tangan di dadaku dan menyentuh susuku dari luar baju tidur. Melihat itu, Edo mulai mengelus-elus pahaku yang terbuka, karena baju tidurku tersingkap ke atas. Dengan berpura-pura tenang aku segera merebahkan diri tengkurap di atas tempat tidur. Sebenarnya nafsuku sudah mulai naik karena tubuhku dijamah oleh seorang laki-laki yang tidak lain adalah idolaku waktu di SMA dulu, apalagi aku dalam keadaan hanya memakai sehelai baju tidur tipis tanpa BH. Akan tetapi kupikir aku harus berpura-pura tetap tenang untuk melihat inisiatif dan aktivitas Edo dalam memancing gairah birahiku. Aku ingin tahu sampai seberapa kemahirannya. Beberapa saat kemudian kurasakan bibir Edo mulai menyusur bagian yang sensitif bagiku yaitu bagian leher dan belakang telinga. Merasakan gesekan-gesekan itu aku berpikir bahwa inilah saat untuk merealisasikan angan-angan suamiku. Seperti mengerti keinginanku, Edo mulai mengambil alih permainan selanjutnya. Aku langsung ditelentangkan di pinggir ranjang, kemudian tangannya yang kiri mulai memegang sambil memijit-mijit susuku yang sebelah kanan, sedangkan tangannya yang kanan mengelus-elus dan memijit-mijit bibir tempikku yang masih dibalut celana dalam, sambil mulutnya melumat bibirku dengan gemas. Tangan Edo yang berada di susuku mulai memelintir dengan halus ujung pentilku yang besar dan mulai mengeras. Masih dalam posisi terlentang, kurasakan jemari Edo. terus meremas-remas susuku dan memilin-milin pentilnya. Saat itu sebenarnya nafsuku belum begitu meninggi, tetapi rupanya Edo termasuk jagoan juga karena terbukti dalam waktu mungkin kurang dari 5 menit aku mulai mengeluarkan suara mendesis yang tak bisa kutahan. Kulihat dia tersenyum dan menghentikan aktivitasnya. Kini Edo mulai membuka baju tidurku dan beberapa saat kemudian aku merasakan tarikan lembut di pahaku. Lalu aku merasakan hembusan lembut hawa dingin AC di tempikku yang berarti celana dalamku telah dilepas oleh Edo. Kini Edo telah menelanjangi diriku sampai aku benar-benar dalam keadaan telanjang bulat tanpa ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhku. Aku hanya bisa pasrah saja merasakan gejolak birahi dalam diriku ketika tubuhku ditelanjangi laki-laki idolaku dihadapan suamiku sendiri. Kulirik Edo penuh nafsu menatap tubuhku yang telah telanjang bulat sepuas-puasnya. Aku benar-benar tidak dapat melukiskan betapa perasaanku saat itu. Aku ditelanjangi oleh laki-laki idolaku dan yang sebenarnya aku harapkan kehadirannya. Belum pernah aku bertelanjang bulat di hadapan laki-laki lain, kecuali dengan Ki Alugoro dalam keadaan setengah sadar dalam rangka penyembuhan tempo hari, apalagi dalam situasi seperti sekarang ini. Aku merasa sudah tidak ada lagi rahasia tubuhku yang tidak diketahui Edo. Maka, secara reflek dalam keadaan terangsang, aku mengusap-usap ****** Edo yang telah tegang dari luar celananya. Ini kelihatan karena bagian bawah celana Edo mulai menggembung besar. Aku mengira-ngira seberapa besar ****** Edo ini. Kemudian aku mengarahkan tanganku ke arah retsluiting celananya yang telah terbuka dan menyusupkan tanganku memegang ****** Edo yang ternyata memang telah ngaceng itu. Aku langsung tercekat ketika terpegang ****** Edo yang seperti kata suamiku ternyata memang besar. Kulirik suamiku sedang membuka retsluiting celananya dan mulai mengelus-elus ******nya sendiri. Dia kelihatan benar-benar sangat menikmati adegan ini. Tanpa berkedip dia menyaksikan tubuh istrinya digauli dan digerayangi oleh laki-laki lain. Sebagai seorang wanita dengan nafsu birahi yang lumayan tinggi, keadaan ini mau tidak mau akhirnya membuatku terbenam juga dalam suatu arus birahi yang hebat. Jilatan-jilatan Edo pada bagian tubuhku yang sensitif membuatku bergelinjang dengan dahsyat menahan arus birahi yang mulai menjalari diriku dan tempikku. Setelah beberapa saat aku memegang sambil mengelus-elus ****** Edo, tiba-tiba Edo berdiri dan membuka celana beserta celana dalamnya sehingga ******nya tiba-tiba melonjak keluar, seakan-akan baru bebas dari kungkungan dan sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas. Setelah membuka seluruh pakaiannya, kini Edo benar-benar bertelanjang bulat. Sehingga aku dapat melihat dengan jelas ukuran ****** Edo dalam keadaan ngaceng, yang ternyata memang jauh lebih besar dan lebih panjang dari ukuran ****** suamiku. Bentuknya pun agak berlainan. ****** Edo ini mencuat lurus ke depan agak mendongak ke atas, sedang ****** suamiku jauh lebih kecil, agak tunduk ke bawah dan miring ke kiri. Aku betul-betul terpana melihat ****** Edo yang sangat besar dan panjang itu. ****** yang sebesar itu memang belum pernah aku lihat (waktu dengan Ki Alugoro aku tidak sempat memperhatikan seberapa besar ******nya, karena aku agak malu-malu dan setengah sadar). Batang ******nya kurang lebih berdiameter 5 cm dikelilingi oleh urat-urat yang melingkar dan pada ujung kepalanya yang sangat besar, panjangnya mungkin kurang lebih 18 cm, pada bagian pangkalnya ditumbuhi dengan rambut-rambut keriting yang lebat. Kulitnya kelihatan tebal, lalu ada urat besar disekeliling batangnya dan terlihat seperti kabel-kabel di dalam kulitnya. Kepala batangnya tampak kenyal, penuh, dan mengkilat. Kemudian dia menyodorkan ******nya tersebut ke hadapan wajahku. Aku melirik ke arah suamiku, yang ternyata tambah asyik menikmati adegan ini sambil tersenyum puas dan mengelus-elus ******nya, karena melihat aku kelihatan bernafsu menghadapi ****** yang sebesar itu. Aku sebenarnya sudah amat terangsang, tetapi untuk menunjukkan pada Edo, aku agak tidak enak hati. Tapi entah kenapa, tanpa kusadari tiba-tiba aku telah duduk di tepi ranjang sambil menggenggam ****** itu yang terasa hangat dalam telapak tanganku. Kugenggam erat-erat, terasa ada kedutan terutama di bagian uratnya. Lingkaran genggamanku hampir penuh menggapai lingkaran batang ******nya. Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan pernah memegang ****** sebesar ini, dari seorang laki-laki lain secara sadar dan penuh nafsu dihadapan suamiku. Kembali aku melirik kepada suamiku. Kulihat dia semakin bertambah asyik menikmati adegan ini, malah kali ini bukan hanya mengelus-elus, tetapi malah sambil mengocok ******nya sendiri, yaitu adegan istrinya yang penuh nafsu birahi sedang digauli oleh laki-laki lain, yang juga merupakan idolaku dulu. Tiba-tiba muncul nafsu hebat terhadap idolaku itu, sehingga dengan demonstratif kudekatkan mulutku ke ****** Edo, kujilati seluruh permukaannya dengan lidahku kemudian kukulum dan kuhisap-hisap dengan nafsu birahi yang membara. Aku merasa sudah kepalang basah maka aku akan nikmati ****** itu dengan sepuas-puasnya sebagaimana kehendak suamiku. Kuluman dan hisapanku itu membuat ****** Edo yang memang telah berukuran besar itu menjadi bertambah besar, bertambah keras dan kepala ******nya jadi tambah mengkilat merah keungu-unguan.. Dalam keadaan sangat bernafsu, ****** Edo yang sedang mengaceng keras dalam mulutku itu mengeluarkan semacam aroma yang khas yang aku namakan aroma lelaki. Aroma itu menyebabkan gairah birahiku semakin memuncak dan lubang tempikku mulai terasa berdenyut-denyut hebat hingga secara tidak sadar membuatku bertambah gemas dan semakin menjadi-jadi menghisap ****** itu seperti hisapan sebuah vacuum cleaner. Kuluman dan hisapanku yang amat bernafsu itu rupanya membuat Edo tidak tahan lagi. Tiba-tiba dia mendorong tubuhku sehingga telentang di atas tempat tidur. Aku pun kini semakin nekat dan semakin bernafsu untuk melayaninya. Aku segera membuka kedua belah pahaku lebar-lebar. ''Do...'' kataku pelan dan aku bahkan tidak tahu memanggilnya untuk apa. Sambil berlutut mendekatkan tubuhnya diantara pahaku, Edo berbisik, ''Ssttt............!'' bisiknya sambil kedua tangannya membuka pahaku sehingga selangkanganku terkuak. Itu berarti bahwa sebentar lagi ******nya akan bercumbu dengan tempikku. Benar saja, aku merasakan ujung ******nya yang hangat menempel tepat di permukaan tempikku. Tidak langsung dimasukkan di lubangnya, tetapi hanya digesek-gesekkan di seluruh permukaan bibirnya, ini membuat tempikku tambah berdenyut-denyut dan terasa sangat nikmat. Dan makin lama aku makin merasakan rasa nikmat yang benar-benar bergerak cepat di sekujur tubuhku dimulai dari titik gesekan di tempikku itu. Beberapa saat Edo melakukan itu, cukup untuk membuat tanganku meraih pinggangnya dan pahaku terangkat menjepit pinggulnya. Aku benar-benar menanti puncak permainan ini. Edo menghentikan aktivitasnya itu dan menempelkan kepala ******nya tepat di antara bibir tempikku dan terasa bagiku tepat di ambang lubang tempikku. Aku benar-benar menanti tusukannya. ''Oocchh.. Ddoo, please..'' pintaku memelas. Sebagai wanita di puncak birahi, aku betul-betul merasa tidak sabar dalam kondisi seperti itu. Sesaat aku lupa kalau aku sudah bersuami, yang aku lihat cuma Edo dan ******nya yang besar dan panjang. Ada rasa deg-deg plas, ada pula rasa ingin cepat merasakan bagaimana rasanya dicoblos ****** yang lebih besar dan lebih panjang. ''Ooouugghhh......'' batinku yang merasa tak sabar benar untuk menunggunya. Tiba-tiba aku merasakan sepasang jemari membuka bibir-bibir tempikku. Dan lebih dahsyat lagi aku merasakan ujung ****** Edo mulai mendesak di tengah-tengah lubang tempikku.. Aku mulai gemetar hebat, karena tidak mengira akan senikmat ini aku akan merasakan kenikmatan bersetubuh. Apalagi dengan orang yang menjadi idolaku, yang sangat kukagumi sejak dulu. Perlahan-lahan Edo mulai memasukkan ******nya ke dalam tempikku. Aku berusaha membantu dengan membuka bibir tempikku lebar-lebar. Kelihatannya sangat sulit ****** sebesar itu masuk ke dalam lubang tempikku yang kecil. Tangan Edo yang satu memegang pinggulku sambil menariknya ke atas, sehingga pantatku agak terangkat dari tempat tidur, sedangkan tangannya yang satu memegang batang ******nya yang diarahkan masuk ke dalam lubang tempikku. Pada saat Edo mulai menekan ******nya, aku mulai mendesis-desis, ''Sssshhhhh...... Eddooo...... ppelan-ppelan Ddooo... ssshhhh...... desisku gemetar. Edo lalu menghentikan aktivitasnya sebentar untuk memberiku kesempatan untuk mengambil nafas, kemudian Edo melanjutkan kembali usahanya untuk memasukkan ******nya. Setelah itu ****** Edo mulai terasa mendesak masuk dengan mantap. Sedikit demi sedikit aku merasakan terisinya ruangan dalam lubang tempikku. Seluruh tubuhku benar-benar merinding ketika merasakan kepala ******nya mulai terasa menusuk mantap di dalam lubang tempikku, diikuti oleh gesekan dari urat-urat batang ****** itu setelahnya. Aku hanya mengangkang merasakan desakan pinggul Edo sambil membuka pahaku lebih lebar lagi. Kini aku mulai merasakan tempikku terasa penuh terisi dan semakin penuh seiring dengan semakin dalamnya ****** itu masuk ke dalam lubang tempikku. Sedikit suara lenguhan kudengarkan dari Edo ketika hampir seluruh ******nya itu amblas masuk. Aku sendiri tidak mengira ****** sebesar dan sepanjang tadi bisa masuk kedalam lubang tempikku yang kecil. Walaupun belum seluruh ****** Edo masuk ke dalam tempikku, rasanya seperti ada yang mengganjal dan untuk menggerakkan kaki saja rasanya agak aneh. Tetapi sedikit demi sedikit aku mulai bisa menyesuaikan diri dan menikmati rasa yang nyaman dan nikmat. Ketika hampir seluruh batang ****** Edo telah amblas masuk ke dalam lubang tempikku, tanpa sengaja aku terkejang sehingga berakibat bagian dinding dalam tempikku seperti meremas batang ****** Edo. Aku agak terlonjak sejenak ketika merasakan ****** Edo seperti berkerojot di dalam lubang tempikku akibat remasan tersebut. Aku terlonjak bukan karena ****** itu merupakan ****** dari seorang laki-laki lain yang pertama yang kurasakan memasuki tubuhku selain ****** suamiku dan Ki Alugoro, akan tetapi karena aku merasakan ****** Edo memang terasa lebih istimewa dibandingkan ****** suamiku maupun ****** Ki Alugoro, baik dalam ukuran maupun ketegangannya. Selama hidupku memang aku belum pernah melakukan persetubuhan dengan laki-laki lain selain dengan suamiku dan Ki Alugoro dan keadaan ini memberikan pengalaman baru bagiku. Aku tidak menyangka ukuran ****** seorang laki-laki berpengaruh besar sekali terhadap kenikmatan bersetubuh seorang wanita. Oleh karena itu secara refleks aku mengangkat kedua belah pahaku tinggi-tinggi dan menjepit pinggang Edo erat-erat untuk selanjutnya aku mulai mengoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan tubuh Edo. Saat itu kakiku masih menjuntai di lantai karpet kamar. Tanganku memegangi lengannya yang mencengkeram pinggulku. Aku menariknya kembali ketika Edo menarik ******nya dari tempikku. Tapi dan belum sampai tiga perempat ******nya berada di luar tempikku, tiba-tiba dia menghujamkannya lagi dengan kuat. Aku nyaris menjerit menahan lonjakan rasa nikmat yang disiramkan kepadaku secara tiba-tiba itu. Begitulah beberapa kali Edo melakukan hujaman-hujaman ke dalam lubang tempikku tersebut. Setiap kali hujaman seperti menyiramkan rasa nikmat yang amat sangat ke tubuhku. Aku begitu terangsang dan semakin terangsang seiring dengan semakin seringnya permukaan dinding lubang tempikku menerima gesekan-gesekan dari urat-urat ****** Edo yang seperti kabel-kabel yang menjalar-jalar itu. Biasanya suamiku kalau bersetubuh semakin lama semakin cepat gerakannya, tetapi Edo melakukan gerakan yang konstan seperti mengikuti alunan irama musik evergreen yang sengaja aku setel sebelumnya. Tapi anehnya, justru aku semakin bisa merasakan setiap milimeter permukaan kulit ******nya dengan rytme seperti itu. Tahap ini sepertinya sebuah tahap untuk melakukan start menuju ke sebuah ledakan yang hebat, aku merasakan tempikku baik bagian luar maupun dalam berdenyut-denyut hebat seiring dengan semakin membengkaknya rasa nikmat di area selangkanganku. Tubuh kami sebentar menyatu kemudian sebentar lagi merenggang diiringi desah nafas kami yang semakin lama semakin cepat. Sementara itu aku pun kembali melirik ke arah suamiku. Kulihat suamiku agak ternganga menyaksikan bagaimana diriku disetubuhi oleh Edo. Melihat penampilan suamiku itu, timbul kembali rasa puas di hatiku, maka secara lebih demonstratif lagi kulayani permainan Edo sehebat-hebatnya secara aktif bagaikan adegan dalam sebuah BF. Keadaan ini tiba-tiba menimbulkan suatu kepuasan lain dalam diriku. Bukan saja disebabkan oleh kenikmatan persetubuhan yang sedang kualami bersama Edo, akan tetapi aku juga memperoleh suatu kepuasan lain karena aku telah dapat melaksanakan angan-angan suamiku. Suamiku menghendaki aku bersetubuh dengan laki-laki lain dan malam ini akan kulaksanakan sepuas-puasnya. Tiba tiba Edo semakin mempercepat hunjaman-hunjaman ******nya ke dalam lubang tempikku. Tentu saja ini membuat aku semakin bernafsu sampai-sampai mataku terbeliak-beliak dan mulutku agak terbuka sambil kedua tanganku merangkul pinggulnya kuat-kuat. Aku tadinya tak menyangka sedikitpun kalau ****** Edo yang begitu besar mulai bisa dengan lancar menerobos lubang tempikku yang sempit dan sepertinya belum siap menerima hunjaman ****** dengan ukuran sedemikian besar itu. Terasa bibir tempikku sampai terkuak-kuak lebar dan seakan-akan tidak muat untuk menelan besar dan panjangnya ****** Edo. . ''Ooukkhhss.. sshhh.. Ddoo ..! Terrruusshh.. terrusshh.. Ddoo... mmmmhhhh...!'' rintihku merasakan kenikmatan yang semakin lama semakin hebat ditempikku. . ''Hhhmmh.. tempikmu.. niikmaat.. sekalii.. Mmiiaaa.. uukkhh.. uukkhh..'' Edo mulai mengeluarkan kata-kata vulgar yang malah menambah nafsu birahiku mendengarnya. Gejolak birahi Edo ternyata makin menguasai tubuhnya dan tanpa canggung lagi ia terus menghunjam hunjamkan ******nya mencari dan menggali kenikmatan yang ia ingin berikan kepadaku. Untuk tambah memuaskanku dan dirinya juga, batang ****** Edo terus menyusupi lubang tempikku sehingga akhirnya betul-betul amblas semuanya. ''Aarrggccchhhhhh...!!'' aku melenguh panjang, kurasakan badanku merinding hebat, wajahku panas dan mungkin berwarna merah merona. Mataku memandang Edo dengan pandangan sayu penuh arti meminta sesuatu, yaitu meminta diberi rasa nikmat yang sebesar-besarnya. Edo kelihatan betul-betul terpana melihat wajahku yang diliputi ekspresi sensasional itu. Kemudian Edo tambah aktif lagi bergoyang menarik ulur batang ******nya yang besar itu, sehingga dinding tempikku yang sudah dilumuri cairan kawin itu terasa tambah banjir dan licin. Wajahku semakin lepas mengekspresikan rasa sensasi yang luar biasa yang tidak pernah aku perkirakan sebegitu nikmatnya. Saking begitu nikmatnya perasaan maupun tempikku disetubuhi oleh Edo, tanpa kusadari aku mulai berceloteh di luar sadarku, ''Ohhss.. sshhh.. enaakk.. sseekalii... k******mu Ddoo...!! Oougghh.. terusshh.... teerruusshh..!!! Aku mendesah, merintih dan mengerang sepuas-puasnya. Aku sudah lupa diri bahwa yang menyetubuhiku bukanlah suamiku sendiri. Yang ada di benakku hanyalah letupan birahi yang harus dituntaskan. Dengan penuh nafsu kami saling berpelukan sambil berciuman. Nafas kami saling memburu kencang, lidah kami saling mengait dan saling menyedot, saling bergumul. Edo mengambil inisiatif dengan menggenjot pantatnya yang tampak naik turun semakin cepat diantara selangkanganku yang semakin terbuka lebar, akupun mengangkat kedua kakiku tinggi-tinggi sambil kutekuk dan kusampirkan ke pundaknya, pantatku kuangkat untuk lebih memudahkan batang ****** Edo masuk seluruhnya dan menggesek syaraf-syaraf kenikmatan di rongga tempikku, akibatnya Edopun semakin mudah menyodokkan ******nya yang panjang, besar dan keras itu keluar masuk sampai ke pangkal ******nya hingga mengeluarkan suara berdecak-decak crot... crot... seperti suara bebek menyosor lumpur seiring dengan keluar masuknya ****** itu di dalam tempikku Edo melihat ke arah selangkanganku, tempikku mencengkeram ******nya erat sekali, ia tersenyum puas bisa menaklukkan tempikku, yang semakin basah membanjir penuh dengan lendir pelumas putih kental sehingga membasahi bulu-bulu jembutku yang tidak terlalu lebat maupun bulu-bulu jembutnya itu dan sekaligus juga batang ******nya yang semakin tambah mengeras. Edo mendengus-dengus bagai harimau terluka, genjotannya makin ganas saja. Mata Edo terlihat lapar menatap susuku yang putih montok dikelilingi bulatan coklat muda di tengahnya dan pentilku yang besar dan sudah begitu mengeras karena birahiku yang sudah demikian memuncak, maka tanpa menyia-nyiakan kesempatan Edo langsung menyedot pentil susuku yang begitu menantang itu. Tubuhku menggelinjang hebat. Dan susukupun makin kubusungkan bahkan dadaku kugerakkan ke kiri dan ke kanan supaya kedua pentil susuku yang makin gatal itu mendapatkan giliran dari serbuan mulutnya. Desahan penuh birahi langsung terlontar tak tertahankan begitu lidah Edo yang basah dan agak kasar itu menggesek pentil susuku yang peka. Edo begitu bergairah menjilati dan menghisap susu dan pentilku di sela-sela desah dan rintihanku yang sedang menikmati gelombang rangsangan demi rangsangan yang semakin lama semakin menggelora ini. ''Oouugghhss.. oouugghhss.. sshhhh... tteerruss Ddooo...'' aku makin meracau tidak karuan, pikiranku sudah tidak jernih lagi, terombang ambing di dalam pusaran kenikmatan, terseret di dalam pergumulan persetubuhan dengan Edo, tubuh telanjangku serasa seenteng kapas melambung tinggi sekali. Aku merasakan kenikmatan bagai air bah mengalir ke seluruh tubuhku mulai dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun terutama sekali di sekitar tempikku. Tubuhku akhirnya mengejang sambil memeluk tubuh Edo erat sekali sambil menjerit-jerit kecil tanpa sadar. ''Aaaaccchhh...... Dddooo... mmmmmhhhhhh... konnttolmmmuuu... aakkkuu...... kkeeelluuaaarrrr......'' jeritku keenakan. Badan telanjangku terasa berputar-putar merasakan semburan kenikmatan yang dahsyat diterjang gelombang orgasme. ****** Edo masih terus menggenjot lubang tempikku, dan aku hanya pasrah dipelukannya mengharapkan gelombang kenikmatan selanjutnya. Lebih dari sejam Edo menyetubuhiku tanpa henti, aku makin lama makin terseret di dalam kenikmatan pergumulan persetubuhan yang belum pernah kurasakan. Tubuhku akhirnya melemas setelah aku menyemburkan lagi cairan kawinku untuk kesekian kalinya bersamaan dengan Edo yang juga rupanya sudah tidak tahan lagi dan...... ''Aaacchhh..... oooccchhh... Mmiiaaa... teemmpiikkmmuuu...... nniikkkmaattttt... sseekkalliiii... adduuhhh...... aaakkuu.. kkekkeeeluaarrr...'' erangnya sambil menyemburkan pejunya di dalam tempikku Kemudian untuk beberapa saat Edo masih membiarkan ******nya menancap di dalam tempikku. Akupun tidak mencoba untuk melepas ****** itu dari tempikku. Setelah agak beberapa lama, Edo mengeluarkan ******nya yang ternyata masih berdiri dengan tegar walaupun sudah orgasme di lubang tempikku. Walaupun ******nya masih sangat tegar berdiri dengan kerasnya, Edo menghentikan persetubuhan ini karena dia meminta suamiku menggantikannya untuk menyetubuhiku. Kini ganti dia yang akan menonton diriku disetubuhi oleh suamiku sendiri yang ternyata entah sejak kapan dia sudah bertelanjang bulat. Suamiku dengan segera menggantikan Edo dan mulai menyetubuhi diriku dengan hebat. Kurasakan nafsu birahi suamiku sedemikian menyala-nyala sehingga sambil berteriak-teriak kecil dia menghunjamkan ******nya yang kecil itu ke dalam lubang tempikku. Akan tetapi apakah karena aku masih terpengaruh oleh pengalaman yang barusan kudapatkan bersama Edo, maka ketika suamiku menghunjamkan ******nya ke dalam lubang tempikku, kurasakan ****** suamiku itu kini terasa hambar. Kurasakan otot-otot lubang tempikku tidak lagi sedemikian tegangnya menjepit ****** suamiku sebagaimana ketika ****** Edo yang berukuran besar dan panjang itu menerobos sampai ke dasar lubang tempikku. ****** suamiku kurasakan tidak sepenuhnya masuk ke dalam lubang tempikku dan terasa lebih lembek bahkan dapat kukatakan tidak begitu terasa lagi dalam lubang tempikku yang barusan diterobos oleh ****** yang begitu besar dan panjang. Mungkin disebabkan pengaruh minuman alkohol yang terlalu banyak, atau mungkin juga suamiku telah berada dalam keadaan yang sedemikian rupa sangat tegangnya, sehingga hanya dalam beberapa kali saja dia menghunjamkan ******nya ke dalam lubang tempikku dan dalam waktu kurang dari satu menit, suamiku telah mencapai puncak ejakulasi dengan hebat. Malahan karena ****** suamiku tidak berada dalam lubang tempikku secara sempurna, dia telah menyemprotkan separuh pejunya agak di luar lubang tempikku dengan berkali-kali dan sangat banyak sekali sehingga seluruh permukaan tempik sampai ke sela paha dan jembutku basah kuyup dengan peju suamiku. Selanjutnya suamiku langsung terjerembab tidak bertenaga lagi terhempas kelelahan di sampingku. Sementara itu, karena aku pasif saja waktu disetubuhi suamiku, dan membayangkan ****** Edo yang luar biasa itu, maka aku sama sekali tidak kelelahan, malah nafsuku kembali memuncak. Bagaikan seekor kuda betina binal aku jadi bergelinjangan tidak karuan karena aku ingin mengalami puncak orgasme lagi dengan disetubuhi oleh Edo. Tapi yang disampingku kini suamiku, yang telah lemas dan tak berdaya sama sekali. Oleh karena itu dengan perasaan kecewa berat aku segera bangkit dari tempat tidur dalam keadaan tubuh yang masih bertelanjang bulat hendak menuju kamar mandi yang memang berada di dalam kamar tidur untuk membersihkan cairan-cairan bekas persenggamaan yang melumuri selangkangan dan tubuhku. Namun untunglah, seperti mengerti perasaanku, tiba-tiba Edo yang masih dalam keadaan bertelanjang bulat dan ngaceng ******nya itu memelukku dari belakang sambil memagut serta menciumi leherku secara bertubi-tubi. Selanjutnya dia membungkukkan tubuhku ke pinggir ranjang. Aku kini berada dalam posisi menungging. Dalam posisi yang sedemikian Edo menusukkan ******nya ke dalam tempikku dari belakang dengan garangnya. Karena posisiku menungging, aku jadi lebih leluasa menggoyang-goyangkan pantatku, yang tentu saja tempikku juga ikut bergoyang ke kiri dan ke kanan. Hal ini membuat Edo semakin bernafsu menghujam-hujamkan ******nya ke dalam tempikku sehingga dengan cepat tubuhku kembali seperti melayang-layang merasakan kenikmatan yang tiada tara ini. Tak berapa lama tubuhku mengejang dan... ''Dddooo...... oooccchhhh... aacchhh... Ddooo... akk... aakkuu... mmaaauu... kkkeelluuuaaaarrrrrr......'' rintihku sambil mencengkeram pinggir ranjang, aku telah mencapai puncak persetubuhan terlebih dahulu. Begitu aku sedang mengalami puncak orgasme, Edo menarik ******nya dari lubang tempikku, sehingga seluruh tubuhku terasa menjadi tidak karuan, kurasakan lubang tempikku berdenyut agak aneh dalam suatu denyutan yang sangat sukar sekali kulukiskan dan belum pernah kualami. Namun walaupun sudah orgasme, aku masih berkeinginan sekali untuk melanjutkan persetubuhan ini. Dalam keadaan yang sedemikian tiba-tiba Edo yang masih bertelanjang bulat sebagaimana juga diriku, menarikku dan mengajakku tidur bersamanya di kamar tamu di sebelah kamarku. Bagaikan kerbau dicocok hidung, aku mengikuti Edo ke kamar sebelah. Kami berbaring di ranjang sambil berdekapan dalam keadaan tubuh masing-masing masih bertelanjang bulat bagaikan sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu. Kemudian Edo melepaskan pelukannya dan menelentangkan diriku lalu dengan bernafsu menciumi susuku dan menyedot-nyedot pentilnya yang mancung itu sehingga aku kembali merasakan suatu rangsangan birahi yang hebat. Tidak lama kemudian tubuh kami kami pun udah bersatu kembali dalam suatu permainan persetubuhan yang dahsyat. Kali ini rupanya Edo ingin mengajakku bersetubuh dengan cara yang lain. Mula-mula Edo membalikkan tubuhku sehingga posisiku kini berada di atas tubuhnya. Selanjutnya dengan spontan kuraih ****** Edo dan memandunya ke arah lubang tempikku. Kemudian kutekan tubuhku agak kuat ke tubuh Edo dan mulai mengayunkan tubuhku turun-naik di atas tubuhnya. Mula-mula secara perlahan-lahan akan tetapi lama-kelamaan semakin cepat dan kuat sambil berdesah-desah kecil, ''Occhhh... oocchhh... acchhh... sssshhhh...'' desahku dibuai kenikmatan. Sementara itu Edo dengan tenang telentang menikmati seluruh permainanku sampai tiba-tiba kurasakan suatu ketegangan yang amat dahsyat dan dia mulai mengerang-erang kecil, ''Oocchhh... oocchhh... Mmiiaaaa... ttteeemmpppiikkmuuu... mmmhhhhh...'' Akupun semakin cepat menggerakkan tubuhku turun-naik di atas tubuh Edo dan nafasku pun semakin memburu berpacu dengan hebat menggali seluruh kenikmatan tubuh laki-laki yang berada di bawahku. Tidak berapa lama kemudian aku menjadi terpekik kecil melepaskan puncak ejakulasi dengan hebat. ''Ooooccchhhhh...... mmmmhhhhhh... ooocccchhhh...... mmmmhhhhhh......'' pekikku keenakan dan tubuhkupun langsung terkulai menelungkup di atas tubuh Edo. Tapi ternyata Edo belum sampai pada puncaknya. Maka tiba-tiba dia bangkit dengan suatu gerakan yang cepat. Kemudian dengan sigap dia menelentangkan tubuhku di atas tempat tidur dan mengangkat tinggi-tinggi kedua belah pahaku ke atas sehingga lubang tempikku yang telah basah kuyup oleh lendir kawin tersebut menjadi terlihat jelas menganga dengan lebar. Selanjutnya Edo mengacungkan ******nya yang masih berdiri dengan tegang itu ke arah lubang tempikku dan menghunjamkan kembali ******nya tersebut ke lubang tempikku dengan garang. Aku menjadi terhentak bergelinjang kembali ketika ****** Edo mulai menerobos dengan buasnya ke dalam tubuhku dan membuat gerakan mundur-maju dalam lubang tempikku. Aku pun kini semakin hebat menggoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan turun-naiknya ****** Edo yang semakin lama semakin cepat merojok-rojokkan ****** besarnya ke lubang tempikku. Aku merasakan betapa lubang tempikku menjadi tidak terkendali berusaha menghisap dan melahap ****** Edo yang teramat besar dan panjang itu sedalam-dalamnya serta melumat seluruh otot-ototnya yang kekar dengan rakusnya. Selama pertarungan itu beberapa kali aku terpekik agak keras karena ****** Edo yang tegar dan perkasa itu menggesek bagian paling dalam tempikku (mungkin titik itu yang dinamakan G-Spot atau titik gairah seksual tertinggi wanita) Akhirnya, bersamaan dengan orgasmeku yang entah ke berapa kali aku tak ingat lagi, kulihat Edo tiba juga pada puncaknya. ''Mmmiiiaaaa... ooocchhh............... ooocccchhhhhh... Mmmiiiiaaaaaaaa........................ ttteeemmmppikkkmmmuuu... ooccchhhsss... aakkkuu... kkkellluuaaarrrrrr......'' rintihnya dengan mimik wajah yang sangat luar biasa dia menyebut-nyebut namaku sambil mengeluarkan kata-kata vulgarnya lagi dan melepaskan puncak ejakulasinya secara bertubi-tubi menyemprotkan seluruh pejunya di dalam tempikku dalam waktu yang amat panjang. Sementara itu ******nya tetap dibenamkannya sedalam-dalamnya di lubang tempikku sehingga seluruh pejunya terhisap dalam tempikku sampai titik penghabisan. Selanjutnya kami terhempas kelelahan ke tempat tidur dengan tubuh yang tetap menyatu. Selama kami tergolek, ****** Edo masih tetap terbenam dalam tempikku, dan aku pun memang tetap berusaha menjepitnya erat-erat karena tidak ingin segera kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhku. Setelah beberapa lama kami tergolek melepaskan lelah, Edo mulai bangkit dan menciumi wajahku dengan lembut yang segera kusambut dengan mengangakan mulutku sehingga kini kami terlibat dalam suatu adegan cium yang mesra penuh dengan perasaan. Sementara itu tangannya dengan halus membelai-belai rambutku sebagaimana seorang suami yang sedang mencurahkan cinta kasihnya kepada istrinya. Suasana romantis ini akhirnya membuat gairah kami muncul kembali. Kulihat ****** Edo mulai kembali menegang tegak sehingga secara serta merta Edo segera menguakkan kedua belah pahaku membukanya lebar-lebar untuk kemudian mulai memasukkan ******nya ke dalam tempikku kembali. Berlainan dengan suasana permulaan yang kualami tadi, dimana kami melakukan persetubuhan dalam suatu pertarungan yang dahsyat dan liar. Kali ini kami bersetubuh dalam suatu gerakan yang santai dalam suasana yang romantis dan penuh perasaan. Kami menikmati sepenuhnya sentuhan-sentuhan tubuh telanjang masing-masing dalam suasana kelembutan yang mesra bagaikan sepasang suami istri yang sedang melakukan kewajibannya. Aku pun dengan penuh perasaan dan dengan segala kepasrahan melayani Edo sebagaimana aku melayani suamiku selama ini. Keadaan ini berlangsung sangat lama sekali dan kubisikkan padanya bahwa ada bagian tertentu di dalam tempikku yang kalau tersentuh ******nya, dapat menghasilkan rasa nikmat yang amat sangat. Edopun kelihatannya mengerti dan berusaha menyentuh bagian itu dengan ******nya. Keadaan ini berakhir dengan tibanya kembali puncak persenggamaan kami secara bersamaan. Inilah yang belum pernah kualami, bahkan kuimpikanpun belum pernah. Mengalami orgasme secara bersama-sama dengan pasangan bersetubuh! Rasanya tak bisa kulukiskan dengan kata kata. Kami kini benar-benar kelelahan dan langsung tergolek di tempat tidur untuk kemudian terlelap dengan nyenyak dalam suatu kepuasan yang dalam. Semenjak pengalaman kami malam itu, aku selalu terbayang-bayang kehebatan Edo. Tetapi entah kenapa suamiku malah tidak pernah membicarakan lagi soal angan-angan seksualnya dan tidak pernah menyinggung lagi soal itu. Padahal aku malah ingin mengulanginya lagi. Karena apa yang kurasakan bersama suamiku sama sekali tidak sehebat sebagaimana yang kualami bersama Edo. Kuakui malam itu Edo memang hebat. Walaupun telah beberapa waktu berlalu namun bayangan kejadian malam itu tidak pernah berlalu dalam benakku. Malam itu aku telah merasakan suatu kepuasan persetubuhan yang luar biasa hebatnya yang belum pernah aku alami selama ini. Bahkan dengan Ki Alugoropun tidak sehebat ini, karena dengan Edo aku merasakan orgasme berkali-kali, sedang dengan Ki Alugoro cuma sekali. Dan walaupun telah beberapa kali menyetubuhiku, Edo masih tetap saja kelihatan bugar. ******nya pun masih tetap ngaceng dan berfungsi dengan baik melakukan tugasnya keluar-masuk lubang tempikku dengan tegar hingga membuatku menjadi agak kewalahan. Aku telah terkapar lunglai dengan tidak putus-putusnya mengerang kecil karena terus-menerus mengalami puncak orgasme dengan berkali-kali namun ****** Edo masih tetap ngaceng bertahan. Inilah yang membuatku terkagum-kagum. Terus terang kuakui bahwa selama melakukan persetubuhan dengan suamiku, aku tidak pernah mengalami puncak orgasme sama sekali. Apalagi dalam waktu yang berkali-kali dan secara bertubi-tubi seperti malam itu. Sehingga, karena desakan birahi yang selalu datang tiap hari, dengan diam-diam aku masih menjalin hubungan dengan Edo tanpa sepengetahuan suamiku. Awalnya di suatu pagi Edo berkunjung ke rumahku pada saat suamiku sudah berangkat ke tempat tugasnya. Secara terus terang saat itu dia minta kepadaku untuk mau disetubuhi. Mulanya aku pura-pura ragu memenuhi permintaannya itu. Akan tetapi karena aku memang mengharapkan, akhirnya aku menyetujui permintaan tersebut. Apalagi kebetulan anakku juga lagi ke sekolah diantar pembantuku. Sehingga kubiarkan saja dia menyetubuhiku di rumahku sendiri. Hubungan sembunyi-sembunyi itu rupanya membawa diriku ke dalam suatu alam kenikmatan lain tersendiri. Misalnya ketika kami bersetubuh secara terburu-buru di ruang tamu yang terbuka, kurasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat dan sangat menegangkan. Keadaan ini membawa hubunganku dan Edo semakin berlanjut. Demikianlah sehingga akhirnya aku dan Edo sering melakukan persetubuhan tanpa diketahui oleh suamiku. Pernah kami melakukan persetubuhan yang liar di luar rumah, yaitu di taman dibelakang rumah, sambil menatap awan-awan yang berarak, ternyata menimbulkan sensasi tersendiri dan kenikmatan yang ambooii. ''Mestinya pemerintah memperbolehkan rakyatnya melakukan persetubuhan di tempat terbuka, asal tidak terdapat unsur paksaan!'' anganku saat itu. Aku berpikir, kalau melakukan persetubuhan di tempat terbuka dengan disaksikan oleh orang lain, pasti lebih nikmat lagi deh! Sampai di suatu hari, Edo membisikkan rencananya kepadaku bahwa ia ingin bercinta secara three in one, tetapi bukan satu cewek dua cowok, tetapi satu cowok dua cewek. Maksudnya dia minta aku melibatkan satu orang temen cewekku untuk bersetubuh bersama. Mula-mula aku agak kaget dibuatnya, tetapi aku pikir-pikir boleh juga ya, hitung-hitung buat menambah pengalaman dalam bersetubuh. ''Wuih, pasti lebih seru nih'' pikirku dalam hati sambil membayangkan kenikmatan di tempikku, apalagi sambil melihat juga Edo bersetubuh dengan cewek lain. ''Eh, tapi.. aku cemburu nggak ya? Tapi biarlah, ini kan suatu sensasi lain yang belum pernah kualami'' pikirku lagi. Aku malah menambahkan usul kepada Edo, bagaimana kalau dilakukan di taman belakang rumah, habis asik sih! Lagipula aku memang punya temen (namanya Lina) yang ketika aku ceritain soal pengalamanku dengan Ki Alugoro maupun dengan Edo, keliatannya dia bernafsu banget dan pengin ikut-ikutan menikmati, boleh secara three in one ataupun sendiri sendiri, katanya. Soalnya ****** suaminya memang berukuran kecil dan pendek, apalagi suaminya sekarang lagi bertugas ke luar negeri dalam waktu yang lama, sehingga dia selalu kesepian di rumahnya yang besar itu. Ketika hal itu aku katakan pada Edo, dia langsung setuju dan menanyakan kapan hal itu akan dilaksanakan? Tentu saja aku jawab secepatnya. Keesokan harinya, sehabis berbelanja di salah satu mall aku mampir ke rumah Lina dan menceriterakan tentang rencanaku tersebut. Tentu saja dia sangat setuju dan antusias sekali mendengarnya, tetapi dia mengajukan sebuah syarat, yaitu itu dilakukan di taman di tepi kolam renang di belakang rumahnya. naila 10-07-2007, 01:36 AM Namaku Mia, karyawati sebuah bank swasta terkenal, yang semenjak beberapa lama aku mengalami frigiditas dalam persetubuhan, terutama sejak melahirkan anak pertamaku. Atas anjuran suamiku, aku dibawa suamiku ke dukun yang bernama Ki Alugoro yang bermukim di desa kecil di luar Jakarta untuk menyembuhkan frigiditasku. Sejak itu, setelah sembuh, gairahku untuk bersetubuh malah jadi menggebu-gebu, mungkin karena dalam rangka penyembuhan tersebut aku harus mau menuruti semua persyaratan yang diajukan oleh Ki Alugoro, antara lain diurut dengan semacam obat dalam keadaan telanjang bulat dan disetubuhi olehnya (waktu itu disetujui dan malah disaksikan oleh suamiku). Akupun setuju asal aku dapat sembuh dari frigiditasku. Dan mungkin karena ****** Ki Alugoro memang benar-benar besar, lagi pula dia pandai sekali mencumbu den membangkitkan gairahku, ditambah dengan ramuan-ramuan yang diberikan olehnya, maka sekarang aku benar-benar sembuh dari frigiditasku, dan menjadi wanita dengan gairah seks yang lumayan tinggi. Hanya saja, karena ukuran ****** suamiku jauh lebih kecil dari ****** Ki Alugoro, maka dengan sendirinya suamiku tidak pernah bisa memuaskanku dalam bersetubuh. Apakah aku harus datang lagi ke tempat Ki Alugoro dengan pura-pura belum sembuh? (padahal supaya aku disetubuhi lagi olehnya). Mula-mula terbersit pikiran untuk berbuat begitu, tapi setelah kupikir-pikir lagi kok gengsi juga ya? Masak seorang istri baik-baik datang ke laki-laki lain supaya disetubuhi walaupun kalau mengingat ****** Ki Alugoro yang luar biasa besar itu aku sering tidak bisa tidur dan gairahku untuk bersetubuh memuncak habis. Sering-sering aku harus memuaskan diri dengan dildo yang kubeli tempo hari di depan suamiku sehabis kami bersetubuh karena suamiku tidak bisa memuaskan diriku. Malah sering suamiku sendiri yang merojok-rojokkan dildo itu ke dalam tempikku. Untunglah, entah karena mengerti penderitaanku atau tidak, ternyata suamiku mempunyai angan-angan untuk melakukan persetubuhan three in one atau melihat aku disetubuhi oleh laki-laki lain, terutama setelah dia melihat aku disetubuhi Ki Alugoro tempo hari. Pantesan sejak itu, sebelum bercinta, dia selalu mengawalinya dengan angan-angannya. Angan-angan yang paling merangsang bagi suamiku, adalah membayangkan aku bersetubuh dengan laki-laki lain dengan kehadiran suamiku, seperti dengan Ki Alugoro tempo hari. Setelah beberapa lama dia menceritakan angan-angannya tersebut, suatu hari dia bertanya bahwa apakah aku mau merealisasikan angan-angan tersebut. Pada awalnya aku pura-pura mengira dia cuma bercanda. Namun dia semakin mendesakku untuk melakukan itu, aku bertanya apakah dia serius. Dia jawab, ''Ya aku serius!'' Kemudian dia berkata, bahwa motivasi utamanya adalah untuk membuatku bahagia dan mencapai kepuasan setinggi-tingginya. Karena dengan melihat wajahku ketika mencapai orgasme dengan Ki Alugoro tempo hari, selain sangat merangsang juga memberikan kepuasan tersendiri bagi dirinya (rupanya, waktu melihat tempikku dianceli ****** gede Ki Alugoro, diam-diam dia mengocok-ngocok ******nya sendiri sampai orgasme.) Tentu saja hal itu sebetulnya sangat aku harapkan. Inilah yang namanya dildo dicinta, ******pun tiba. Secara terus terang, seperti aku tuturkan diatas, aku tidak pernah merasa puas dengan ****** suamiku yang kecil, terutama setelah tempikku dianceli oleh ****** Ki Alugoro yang luar biasa itu. Wah, rasanya sampai tidak bisa aku katakan. Kuakui selama ini aku juga sering mengalami gejolak birahi yang tiba-tiba muncul, apalagi di pagi hari apabila malamnya kami melakukan persetubuhan karena suamiku tidak dapat melakukannya secara sempurna dan aku tidak sampai orgasme. Rupanya angan-angan seksual suamiku tersebut bukan hanya merupakan sekadar angan-angan saja akan tetapi dia sangat bersikeras untuk dapat mewujudkannya menjadi suatu kenyataan dan suamiku terus membujukku agar aku mau membantunya dalam melaksanakan angan-angannya (padahal sebenarnya aku sudah sangat mengharapkan, kapan rencana itu diwujudkan?). Tetapi untuk meyakinkan keseriusannya aku pura-pura terpaksa mengalah dan berjanji akan membantunya sepanjang aku dapat melakukannya dan kutanyakan apakah dia tidak cemburu melihat istrinya ditelanjangi dan tempiknya dianceli dengan ****** orang lain? Dia bilang sama sekali tidak. ''Karena aku hanya ingin melihat kau bahagia dan terpuaskan dalam persetubuhan'' jawabnya mantab waktu itu. ''Tentu saja aku akan mencarikan kau temanku yang mempunyai ****** besar dan keras. Setidak tidaknya sama dengan ****** Ki Alugoro tempo hari'' janjinya lebih lanjut. Sejak itu dia rajin menawarkan nama-nama temannya untuk mensetubuhiku. ''Terserah kaulah, kan kau yang punya rencana aku disetubuhi temanmu'' jawabku waktu itu. Akhirnya di suatu hari suamiku berbisik padaku, ''Aku telah mengundang Edo untuk menginap di sini malam ini'' Hatiku berdebar keras mendengar kata-kata suamiku itu, karena Edo teman suamiku itu adalah salah seorang idola di sekolahku dulu dan dia adalah cowok yang menjadi rebutan cewek-cewek dan sangat kudambakan jadi pacarku semasa SMA. Suamikupun kenal baik dengan dia karena kami memang berasal dari satu kota kabupaten yang tidak seberapa besar. Terus terang kuakui bahwa penampilan Edo sangat oke. Bentuk tubuhnya pun lebih tinggi, lebih kekar dan lebih atletis dari tubuh suamiku karena dia dulu jago basket dan olah raga yudo. Walaupun Edo adalah cowok yang kudambakan semasa SMA dulu, tetapi kami belum pernah berpacaran karena dia memang agak acuh terhadap cewek dan disamping itu, banyak sainganku cewek-cewek yang mengejar-ngejar dia. Apalagi waktu itu sudah menjelang EBTANAS, dan setelah itu dia sibuk dengan persiapan masuk universitas. Waktu itu aku kelas 1, sedang dia kelas 3 SMA. Ketika Edo datang, aku sedang mematut-matut diri dan memilih gaun yang seksi dengan belahan dada yang cukup rendah agar aku terlihat menarik. Dari cermin rias di kamar tidurku, kuamati gaun yang kukenakan terlihat sangat ketat melekat pada tubuhku sehingga lekukan-lekukan tubuhku terlihat dengan jelas. Susuku kelihatan sangat menonjol membentuk dua buah bukit daging yang indah. Tubuhku memang ramping dan berisi. Susuku yang subur juga kelihatan sangat kenyal. Demikian pula pantatku yang cenderung nonggeng itu menonjol seakan menantang laki-laki yang melihatnya. Dengan perutku yang masih cukup rata dengan kulitku yang puber (putih bersih) membuat tubuhku menjadi sangat sempurna. Apalagi wajahku memang tergolong cantik. Dan terus terang, dari dulu aku memang bangga dengan tubuh dan wajahku. Tiba-tiba aku baru tersadar, pantas saja suamiku mempunyai angan-angan untuk melihat aku disetubuhi oleh laki laki-lain. Ingin membandingkan dengan film BF yang sering kami lihat mungkin. Setelah mematut-matut diri, aku keluar untuk menyediakan makan malam. Setelah makan malam, Edo dan suamiku duduk mengobrol di teras belakang rumah dengan santai sambil menghabiskan beberapa kaleng bir yang dicampur dengan sedikit minuman keras pemberian teman suamiku yang baru pulang dari luar negeri. Tidak berapa lama aku pun ikut duduk minum bersama mereka. Malam itu hanya kami berdua ditambah Edo saja di rumah. Pembantuku yang biasa menginap, tadi siang telah kuberikan istirahat untuk pulang ke rumahnya selama beberapa hari, sedang anakku satu-satunya tadi siang dijemput mertuaku untuk menginap di rumahnya. Ketika hari telah makin malam dan udara mulai terasa dingin, tiba-tiba suamiku berbisik kepadaku, ''Aku telah bicara dengan Edo mengenai rencana kita. Dia setuju malam ini menginap di sini. ''Tapi walaupun demikian kalau kamu kurang cocok dengan pilihanku ini, kamu tidak usah takut berterus terang padaku!'' bisik suamiku selanjutnya. ''Tapi kujamin ******nya memang gede, aku beberapa kali melihatnya waktu kencing di kantor. Tapi soal kekerasannya, kamu sendiri yang dapat membuktikannya nanti'' lanjutnya lagi. Mendengar bisikan suamiku itu, diam-diam hatiku gemetar sambil bersorak gembira, tetapi aku pura-pura diam saja, tidak menunjukkan sikap yang menolak atau menerima. Dalam hati aku mau lihat bagaimana reaksinya nanti bila aku benar-benar bersetubuh dengan laki-laki lain. Apakah dia nanti tidak akan cemburu melihat istrinya disetubuhi lelaki lain secara sadar dan seluruh bagian tubuh istrinya yang sangat rahasia dilihat dan dinikmati oleh laki-laki lain yang sudah amat dia kenal (kalau dengan Ki Alugoro kan dalam rangka penyembuhan?). Tidak berapa lama kemudian aku masuk ke kamar dan berganti pakaian memakai baju tidur tipis tanpa BH, sehingga susuku, terutama pentil susuku yang besar itu terlihat membayang di balik baju tidur. Ketika aku keluar kamar, baik suamiku maupun Edo kelihatan terpana untuk beberapa saat. Akan tetapi mereka segera bersikap biasa kembali dan suamiku langsung berkata, ''Ayo..!'' katanya dengan senyum penuh arti kepada kami berdua dan kamipun segera masuk ke kamar tidur. Di kamar tidur suamiku mengambil inisiatif lebih dulu dengan mulai menyentuh dan melingkarkan tangan di dadaku dan menyentuh susuku dari luar baju tidur. Melihat itu, Edo mulai mengelus-elus pahaku yang terbuka, karena baju tidurku tersingkap ke atas. Dengan berpura-pura tenang aku segera merebahkan diri tengkurap di atas tempat tidur. Sebenarnya nafsuku sudah mulai naik karena tubuhku dijamah oleh seorang laki-laki yang tidak lain adalah idolaku waktu di SMA dulu, apalagi aku dalam keadaan hanya memakai sehelai baju tidur tipis tanpa BH. Akan tetapi kupikir aku harus berpura-pura tetap tenang untuk melihat inisiatif dan aktivitas Edo dalam memancing gairah birahiku. Aku ingin tahu sampai seberapa kemahirannya. Beberapa saat kemudian kurasakan bibir Edo mulai menyusur bagian yang sensitif bagiku yaitu bagian leher dan belakang telinga. Merasakan gesekan-gesekan itu aku berpikir bahwa inilah saat untuk merealisasikan angan-angan suamiku. Seperti mengerti keinginanku, Edo mulai mengambil alih permainan selanjutnya. Aku langsung ditelentangkan di pinggir ranjang, kemudian tangannya yang kiri mulai memegang sambil memijit-mijit susuku yang sebelah kanan, sedangkan tangannya yang kanan mengelus-elus dan memijit-mijit bibir tempikku yang masih dibalut celana dalam, sambil mulutnya melumat bibirku dengan gemas. Tangan Edo yang berada di susuku mulai memelintir dengan halus ujung pentilku yang besar dan mulai mengeras. Masih dalam posisi terlentang, kurasakan jemari Edo. terus meremas-remas susuku dan memilin-milin pentilnya. Saat itu sebenarnya nafsuku belum begitu meninggi, tetapi rupanya Edo termasuk jagoan juga karena terbukti dalam waktu mungkin kurang dari 5 menit aku mulai mengeluarkan suara mendesis yang tak bisa kutahan. Kulihat dia tersenyum dan menghentikan aktivitasnya. Kini Edo mulai membuka baju tidurku dan beberapa saat kemudian aku merasakan tarikan lembut di pahaku. Lalu aku merasakan hembusan lembut hawa dingin AC di tempikku yang berarti celana dalamku telah dilepas oleh Edo. Kini Edo telah menelanjangi diriku sampai aku benar-benar dalam keadaan telanjang bulat tanpa ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhku. Aku hanya bisa pasrah saja merasakan gejolak birahi dalam diriku ketika tubuhku ditelanjangi laki-laki idolaku dihadapan suamiku sendiri. Kulirik Edo penuh nafsu menatap tubuhku yang telah telanjang bulat sepuas-puasnya. Aku benar-benar tidak dapat melukiskan betapa perasaanku saat itu. Aku ditelanjangi oleh laki-laki idolaku dan yang sebenarnya aku harapkan kehadirannya. Belum pernah aku bertelanjang bulat di hadapan laki-laki lain, kecuali dengan Ki Alugoro dalam keadaan setengah sadar dalam rangka penyembuhan tempo hari, apalagi dalam situasi seperti sekarang ini. Aku merasa sudah tidak ada lagi rahasia tubuhku yang tidak diketahui Edo. Maka, secara reflek dalam keadaan terangsang, aku mengusap-usap ****** Edo yang telah tegang dari luar celananya. Ini kelihatan karena bagian bawah celana Edo mulai menggembung besar. Aku mengira-ngira seberapa besar ****** Edo ini. Kemudian aku mengarahkan tanganku ke arah retsluiting celananya yang telah terbuka dan menyusupkan tanganku memegang ****** Edo yang ternyata memang telah ngaceng itu. Aku langsung tercekat ketika terpegang ****** Edo yang seperti kata suamiku ternyata memang besar. Kulirik suamiku sedang membuka retsluiting celananya dan mulai mengelus-elus ******nya sendiri. Dia kelihatan benar-benar sangat menikmati adegan ini. Tanpa berkedip dia menyaksikan tubuh istrinya digauli dan digerayangi oleh laki-laki lain. Sebagai seorang wanita dengan nafsu birahi yang lumayan tinggi, keadaan ini mau tidak mau akhirnya membuatku terbenam juga dalam suatu arus birahi yang hebat. Jilatan-jilatan Edo pada bagian tubuhku yang sensitif membuatku bergelinjang dengan dahsyat menahan arus birahi yang mulai menjalari diriku dan tempikku. Setelah beberapa saat aku memegang sambil mengelus-elus ****** Edo, tiba-tiba Edo berdiri dan membuka celana beserta celana dalamnya sehingga ******nya tiba-tiba melonjak keluar, seakan-akan baru bebas dari kungkungan dan sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas. Setelah membuka seluruh pakaiannya, kini Edo benar-benar bertelanjang bulat. Sehingga aku dapat melihat dengan jelas ukuran ****** Edo dalam keadaan ngaceng, yang ternyata memang jauh lebih besar dan lebih panjang dari ukuran ****** suamiku. Bentuknya pun agak berlainan. ****** Edo ini mencuat lurus ke depan agak mendongak ke atas, sedang ****** suamiku jauh lebih kecil, agak tunduk ke bawah dan miring ke kiri. Aku betul-betul terpana melihat ****** Edo yang sangat besar dan panjang itu. ****** yang sebesar itu memang belum pernah aku lihat (waktu dengan Ki Alugoro aku tidak sempat memperhatikan seberapa besar ******nya, karena aku agak malu-malu dan setengah sadar). Batang ******nya kurang lebih berdiameter 5 cm dikelilingi oleh urat-urat yang melingkar dan pada ujung kepalanya yang sangat besar, panjangnya mungkin kurang lebih 18 cm, pada bagian pangkalnya ditumbuhi dengan rambut-rambut keriting yang lebat. Kulitnya kelihatan tebal, lalu ada urat besar disekeliling batangnya dan terlihat seperti kabel-kabel di dalam kulitnya. Kepala batangnya tampak kenyal, penuh, dan mengkilat. Kemudian dia menyodorkan ******nya tersebut ke hadapan wajahku. Aku melirik ke arah suamiku, yang ternyata tambah asyik menikmati adegan ini sambil tersenyum puas dan mengelus-elus ******nya, karena melihat aku kelihatan bernafsu menghadapi ****** yang sebesar itu. Aku sebenarnya sudah amat terangsang, tetapi untuk menunjukkan pada Edo, aku agak tidak enak hati. Tapi entah kenapa, tanpa kusadari tiba-tiba aku telah duduk di tepi ranjang sambil menggenggam ****** itu yang terasa hangat dalam telapak tanganku. Kugenggam erat-erat, terasa ada kedutan terutama di bagian uratnya. Lingkaran genggamanku hampir penuh menggapai lingkaran batang ******nya. Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan pernah memegang ****** sebesar ini, dari seorang laki-laki lain secara sadar dan penuh nafsu dihadapan suamiku. Kembali aku melirik kepada suamiku. Kulihat dia semakin bertambah asyik menikmati adegan ini, malah kali ini bukan hanya mengelus-elus, tetapi malah sambil mengocok ******nya sendiri, yaitu adegan istrinya yang penuh nafsu birahi sedang digauli oleh laki-laki lain, yang juga merupakan idolaku dulu. Tiba-tiba muncul nafsu hebat terhadap idolaku itu, sehingga dengan demonstratif kudekatkan mulutku ke ****** Edo, kujilati seluruh permukaannya dengan lidahku kemudian kukulum dan kuhisap-hisap dengan nafsu birahi yang membara. Aku merasa sudah kepalang basah maka aku akan nikmati ****** itu dengan sepuas-puasnya sebagaimana kehendak suamiku. Kuluman dan hisapanku itu membuat ****** Edo yang memang telah berukuran besar itu menjadi bertambah besar, bertambah keras dan kepala ******nya jadi tambah mengkilat merah keungu-unguan.. Dalam keadaan sangat bernafsu, ****** Edo yang sedang mengaceng keras dalam mulutku itu mengeluarkan semacam aroma yang khas yang aku namakan aroma lelaki. Aroma itu menyebabkan gairah birahiku semakin memuncak dan lubang tempikku mulai terasa berdenyut-denyut hebat hingga secara tidak sadar membuatku bertambah gemas dan semakin menjadi-jadi menghisap ****** itu seperti hisapan sebuah vacuum cleaner. Kuluman dan hisapanku yang amat bernafsu itu rupanya membuat Edo tidak tahan lagi. Tiba-tiba dia mendorong tubuhku sehingga telentang di atas tempat tidur. Aku pun kini semakin nekat dan semakin bernafsu untuk melayaninya. Aku segera membuka kedua belah pahaku lebar-lebar. ''Do...'' kataku pelan dan aku bahkan tidak tahu memanggilnya untuk apa. Sambil berlutut mendekatkan tubuhnya diantara pahaku, Edo berbisik, ''Ssttt............!'' bisiknya sambil kedua tangannya membuka pahaku sehingga selangkanganku terkuak. Itu berarti bahwa sebentar lagi ******nya akan bercumbu dengan tempikku. Benar saja, aku merasakan ujung ******nya yang hangat menempel tepat di permukaan tempikku. Tidak langsung dimasukkan di lubangnya, tetapi hanya digesek-gesekkan di seluruh permukaan bibirnya, ini membuat tempikku tambah berdenyut-denyut dan terasa sangat nikmat. Dan makin lama aku makin merasakan rasa nikmat yang benar-benar bergerak cepat di sekujur tubuhku dimulai dari titik gesekan di tempikku itu. Beberapa saat Edo melakukan itu, cukup untuk membuat tanganku meraih pinggangnya dan pahaku terangkat menjepit pinggulnya. Aku benar-benar menanti puncak permainan ini. Edo menghentikan aktivitasnya itu dan menempelkan kepala ******nya tepat di antara bibir tempikku dan terasa bagiku tepat di ambang lubang tempikku. Aku benar-benar menanti tusukannya. ''Oocchh.. Ddoo, please..'' pintaku memelas. Sebagai wanita di puncak birahi, aku betul-betul merasa tidak sabar dalam kondisi seperti itu. Sesaat aku lupa kalau aku sudah bersuami, yang aku lihat cuma Edo dan ******nya yang besar dan panjang. Ada rasa deg-deg plas, ada pula rasa ingin cepat merasakan bagaimana rasanya dicoblos ****** yang lebih besar dan lebih panjang. ''Ooouugghhh......'' batinku yang merasa tak sabar benar untuk menunggunya. Tiba-tiba aku merasakan sepasang jemari membuka bibir-bibir tempikku. Dan lebih dahsyat lagi aku merasakan ujung ****** Edo mulai mendesak di tengah-tengah lubang tempikku.. Aku mulai gemetar hebat, karena tidak mengira akan senikmat ini aku akan merasakan kenikmatan bersetubuh. Apalagi dengan orang yang menjadi idolaku, yang sangat kukagumi sejak dulu. Perlahan-lahan Edo mulai memasukkan ******nya ke dalam tempikku. Aku berusaha membantu dengan membuka bibir tempikku lebar-lebar. Kelihatannya sangat sulit ****** sebesar itu masuk ke dalam lubang tempikku yang kecil. Tangan Edo yang satu memegang pinggulku sambil menariknya ke atas, sehingga pantatku agak terangkat dari tempat tidur, sedangkan tangannya yang satu memegang batang ******nya yang diarahkan masuk ke dalam lubang tempikku. Pada saat Edo mulai menekan ******nya, aku mulai mendesis-desis, ''Sssshhhhh...... Eddooo...... ppelan-ppelan Ddooo... ssshhhh...... desisku gemetar. Edo lalu menghentikan aktivitasnya sebentar untuk memberiku kesempatan untuk mengambil nafas, kemudian Edo melanjutkan kembali usahanya untuk memasukkan ******nya. Setelah itu ****** Edo mulai terasa mendesak masuk dengan mantap. Sedikit demi sedikit aku merasakan terisinya ruangan dalam lubang tempikku. Seluruh tubuhku benar-benar merinding ketika merasakan kepala ******nya mulai terasa menusuk mantap di dalam lubang tempikku, diikuti oleh gesekan dari urat-urat batang ****** itu setelahnya. Aku hanya mengangkang merasakan desakan pinggul Edo sambil membuka pahaku lebih lebar lagi. Kini aku mulai merasakan tempikku terasa penuh terisi dan semakin penuh seiring dengan semakin dalamnya ****** itu masuk ke dalam lubang tempikku. Sedikit suara lenguhan kudengarkan dari Edo ketika hampir seluruh ******nya itu amblas masuk. Aku sendiri tidak mengira ****** sebesar dan sepanjang tadi bisa masuk kedalam lubang tempikku yang kecil. Walaupun belum seluruh ****** Edo masuk ke dalam tempikku, rasanya seperti ada yang mengganjal dan untuk menggerakkan kaki saja rasanya agak aneh. Tetapi sedikit demi sedikit aku mulai bisa menyesuaikan diri dan menikmati rasa yang nyaman dan nikmat. Ketika hampir seluruh batang ****** Edo telah amblas masuk ke dalam lubang tempikku, tanpa sengaja aku terkejang sehingga berakibat bagian dinding dalam tempikku seperti meremas batang ****** Edo. Aku agak terlonjak sejenak ketika merasakan ****** Edo seperti berkerojot di dalam lubang tempikku akibat remasan tersebut. Aku terlonjak bukan karena ****** itu merupakan ****** dari seorang laki-laki lain yang pertama yang kurasakan memasuki tubuhku selain ****** suamiku dan Ki Alugoro, akan tetapi karena aku merasakan ****** Edo memang terasa lebih istimewa dibandingkan ****** suamiku maupun ****** Ki Alugoro, baik dalam ukuran maupun ketegangannya. Selama hidupku memang aku belum pernah melakukan persetubuhan dengan laki-laki lain selain dengan suamiku dan Ki Alugoro dan keadaan ini memberikan pengalaman baru bagiku. Aku tidak menyangka ukuran ****** seorang laki-laki berpengaruh besar sekali terhadap kenikmatan bersetubuh seorang wanita. Oleh karena itu secara refleks aku mengangkat kedua belah pahaku tinggi-tinggi dan menjepit pinggang Edo erat-erat untuk selanjutnya aku mulai mengoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan tubuh Edo. Saat itu kakiku masih menjuntai di lantai karpet kamar. Tanganku memegangi lengannya yang menc
ngkeram pinggulku. Aku menariknya kembali ketika Edo menarik ******nya dari tempikku. Tapi dan belum sampai tiga perempat ******nya berada di luar tempikku, tiba-tiba dia menghujamkannya lagi dengan kuat. Aku nyaris menjerit menahan lonjakan rasa nikmat yang disiramkan kepadaku secara tiba-tiba itu. Begitulah beberapa kali Edo melakukan hujaman-hujaman ke dalam lubang tempikku tersebut. Setiap kali hujaman seperti menyiramkan rasa nikmat yang amat sangat ke tubuhku. Aku begitu terangsang dan semakin terangsang seiring dengan semakin seringnya permukaan dinding lubang tempikku menerima gesekan-gesekan dari urat-urat ****** Edo yang seperti kabel-kabel yang menjalar-jalar itu. Biasanya suamiku kalau bersetubuh semakin lama semakin cepat gerakannya, tetapi Edo melakukan gerakan yang konstan seperti mengikuti alunan irama musik evergreen yang sengaja aku setel sebelumnya. Tapi anehnya, justru aku semakin bisa merasakan setiap milimeter permukaan kulit ******nya dengan rytme seperti itu. Tahap ini sepertinya sebuah tahap untuk melakukan start menuju ke sebuah ledakan yang hebat, aku merasakan tempikku baik bagian luar maupun dalam berdenyut-denyut hebat seiring dengan semakin membengkaknya rasa nikmat di area selangkanganku. Tubuh kami sebentar menyatu kemudian sebentar lagi merenggang diiringi desah nafas kami yang semakin lama semakin cepat. Sementara itu aku pun kembali melirik ke arah suamiku. Kulihat suamiku agak ternganga menyaksikan bagaimana diriku disetubuhi oleh Edo. Melihat penampilan suamiku itu, timbul kembali rasa puas di hatiku, maka secara lebih demonstratif lagi kulayani permainan Edo sehebat-hebatnya secara aktif bagaikan adegan dalam sebuah BF. Keadaan ini tiba-tiba menimbulkan suatu kepuasan lain dalam diriku. Bukan saja disebabkan oleh kenikmatan persetubuhan yang sedang kualami bersama Edo, akan tetapi aku juga memperoleh suatu kepuasan lain karena aku telah dapat melaksanakan angan-angan suamiku. Suamiku menghendaki aku bersetubuh dengan laki-laki lain dan malam ini akan kulaksanakan sepuas-puasnya. Tiba tiba Edo semakin mempercepat hunjaman-hunjaman ******nya ke dalam lubang tempikku. Tentu saja ini membuat aku semakin bernafsu sampai-sampai mataku terbeliak-beliak dan mulutku agak terbuka sambil kedua tanganku merangkul pinggulnya kuat-kuat. Aku tadinya tak menyangka sedikitpun kalau ****** Edo yang begitu besar mulai bisa dengan lancar menerobos lubang tempikku yang sempit dan sepertinya belum siap menerima hunjaman ****** dengan ukuran sedemikian besar itu. Terasa bibir tempikku sampai terkuak-kuak lebar dan seakan-akan tidak muat untuk menelan besar dan panjangnya ****** Edo. . ''Ooukkhhss.. sshhh.. Ddoo ..! Terrruusshh.. terrusshh.. Ddoo... mmmmhhhh...!'' rintihku merasakan kenikmatan yang semakin lama semakin hebat ditempikku. . ''Hhhmmh.. tempikmu.. niikmaat.. sekalii.. Mmiiaaa.. uukkhh.. uukkhh..'' Edo mulai mengeluarkan kata-kata vulgar yang malah menambah nafsu birahiku mendengarnya. Gejolak birahi Edo ternyata makin menguasai tubuhnya dan tanpa canggung lagi ia terus menghunjam hunjamkan ******nya mencari dan menggali kenikmatan yang ia ingin berikan kepadaku. Untuk tambah memuaskanku dan dirinya juga, batang ****** Edo terus menyusupi lubang tempikku sehingga akhirnya betul-betul amblas semuanya. ''Aarrggccchhhhhh...!!'' aku melenguh panjang, kurasakan badanku merinding hebat, wajahku panas dan mungkin berwarna merah merona. Mataku memandang Edo dengan pandangan sayu penuh arti meminta sesuatu, yaitu meminta diberi rasa nikmat yang sebesar-besarnya. Edo kelihatan betul-betul terpana melihat wajahku yang diliputi ekspresi sensasional itu. Kemudian Edo tambah aktif lagi bergoyang menarik ulur batang ******nya yang besar itu, sehingga dinding tempikku yang sudah dilumuri cairan kawin itu terasa tambah banjir dan licin. Wajahku semakin lepas mengekspresikan rasa sensasi yang luar biasa yang tidak pernah aku perkirakan sebegitu nikmatnya. Saking begitu nikmatnya perasaan maupun tempikku disetubuhi oleh Edo, tanpa kusadari aku mulai berceloteh di luar sadarku, ''Ohhss.. sshhh.. enaakk.. sseekalii... k******mu Ddoo...!! Oougghh.. terusshh.... teerruusshh..!!! Aku mendesah, merintih dan mengerang sepuas-puasnya. Aku sudah lupa diri bahwa yang menyetubuhiku bukanlah suamiku sendiri. Yang ada di benakku hanyalah letupan birahi yang harus dituntaskan. Dengan penuh nafsu kami saling berpelukan sambil berciuman. Nafas kami saling memburu kencang, lidah kami saling mengait dan saling menyedot, saling bergumul. Edo mengambil inisiatif dengan menggenjot pantatnya yang tampak naik turun semakin cepat diantara selangkanganku yang semakin terbuka lebar, akupun mengangkat kedua kakiku tinggi-tinggi sambil kutekuk dan kusampirkan ke pundaknya, pantatku kuangkat untuk lebih memudahkan batang ****** Edo masuk seluruhnya dan menggesek syaraf-syaraf kenikmatan di rongga tempikku, akibatnya Edopun semakin mudah menyodokkan ******nya yang panjang, besar dan keras itu keluar masuk sampai ke pangkal ******nya hingga mengeluarkan suara berdecak-decak crot... crot... seperti suara bebek menyosor lumpur seiring dengan keluar masuknya ****** itu di dalam tempikku Edo melihat ke arah selangkanganku, tempikku mencengkeram ******nya erat sekali, ia tersenyum puas bisa menaklukkan tempikku, yang semakin basah membanjir penuh dengan lendir pelumas putih kental sehingga membasahi bulu-bulu jembutku yang tidak terlalu lebat maupun bulu-bulu jembutnya itu dan sekaligus juga batang ******nya yang semakin tambah mengeras. Edo mendengus-dengus bagai harimau terluka, genjotannya makin ganas saja. Mata Edo terlihat lapar menatap susuku yang putih montok dikelilingi bulatan coklat muda di tengahnya dan pentilku yang besar dan sudah begitu mengeras karena birahiku yang sudah demikian memuncak, maka tanpa menyia-nyiakan kesempatan Edo langsung menyedot pentil susuku yang begitu menantang itu. Tubuhku menggelinjang hebat. Dan susukupun makin kubusungkan bahkan dadaku kugerakkan ke kiri dan ke kanan supaya kedua pentil susuku yang makin gatal itu mendapatkan giliran dari serbuan mulutnya. Desahan penuh birahi langsung terlontar tak tertahankan begitu lidah Edo yang basah dan agak kasar itu menggesek pentil susuku yang peka. Edo begitu bergairah menjilati dan menghisap susu dan pentilku di sela-sela desah dan rintihanku yang sedang menikmati gelombang rangsangan demi rangsangan yang semakin lama semakin menggelora ini. ''Oouugghhss.. oouugghhss.. sshhhh... tteerruss Ddooo...'' aku makin meracau tidak karuan, pikiranku sudah tidak jernih lagi, terombang ambing di dalam pusaran kenikmatan, terseret di dalam pergumulan persetubuhan dengan Edo, tubuh telanjangku serasa seenteng kapas melambung tinggi sekali. Aku merasakan kenikmatan bagai air bah mengalir ke seluruh tubuhku mulai dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun terutama sekali di sekitar tempikku. Tubuhku akhirnya mengejang sambil memeluk tubuh Edo erat sekali sambil menjerit-jerit kecil tanpa sadar. ''Aaaaccchhh...... Dddooo... mmmmmhhhhhh... konnttolmmmuuu... aakkkuu...... kkeeelluuaaarrrr......'' jeritku keenakan. Badan telanjangku terasa berputar-putar merasakan semburan kenikmatan yang dahsyat diterjang gelombang orgasme. ****** Edo masih terus menggenjot lubang tempikku, dan aku hanya pasrah dipelukannya mengharapkan gelombang kenikmatan selanjutnya. Lebih dari sejam Edo menyetubuhiku tanpa henti, aku makin lama makin terseret di dalam kenikmatan pergumulan persetubuhan yang belum pernah kurasakan. Tubuhku akhirnya melemas setelah aku menyemburkan lagi cairan kawinku untuk kesekian kalinya bersamaan dengan Edo yang juga rupanya sudah tidak tahan lagi dan...... ''Aaacchhh..... oooccchhh... Mmiiaaa... teemmpiikkmmuuu...... nniikkkmaattttt... sseekkalliiii... adduuhhh...... aaakkuu.. kkekkeeeluaarrr...'' erangnya sambil menyemburkan pejunya di dalam tempikku Kemudian untuk beberapa saat Edo masih membiarkan ******nya menancap di dalam tempikku. Akupun tidak mencoba untuk melepas ****** itu dari tempikku. Setelah agak beberapa lama, Edo mengeluarkan ******nya yang ternyata masih berdiri dengan tegar walaupun sudah orgasme di lubang tempikku. Walaupun ******nya masih sangat tegar berdiri dengan kerasnya, Edo menghentikan persetubuhan ini karena dia meminta suamiku menggantikannya untuk menyetubuhiku. Kini ganti dia yang akan menonton diriku disetubuhi oleh suamiku sendiri yang ternyata entah sejak kapan dia sudah bertelanjang bulat. Suamiku dengan segera menggantikan Edo dan mulai menyetubuhi diriku dengan hebat. Kurasakan nafsu birahi suamiku sedemikian menyala-nyala sehingga sambil berteriak-teriak kecil dia menghunjamkan ******nya yang kecil itu ke dalam lubang tempikku. Akan tetapi apakah karena aku masih terpengaruh oleh pengalaman yang barusan kudapatkan bersama Edo, maka ketika suamiku menghunjamkan ******nya ke dalam lubang tempikku, kurasakan ****** suamiku itu kini terasa hambar. Kurasakan otot-otot lubang tempikku tidak lagi sedemikian tegangnya menjepit ****** suamiku sebagaimana ketika ****** Edo yang berukuran besar dan panjang itu menerobos sampai ke dasar lubang tempikku. ****** suamiku kurasakan tidak sepenuhnya masuk ke dalam lubang tempikku dan terasa lebih lembek bahkan dapat kukatakan tidak begitu terasa lagi dalam lubang tempikku yang barusan diterobos oleh ****** yang begitu besar dan panjang. Mungkin disebabkan pengaruh minuman alkohol yang terlalu banyak, atau mungkin juga suamiku telah berada dalam keadaan yang sedemikian rupa sangat tegangnya, sehingga hanya dalam beberapa kali saja dia menghunjamkan ******nya ke dalam lubang tempikku dan dalam waktu kurang dari satu menit, suamiku telah mencapai puncak ejakulasi dengan hebat. Malahan karena ****** suamiku tidak berada dalam lubang tempikku secara sempurna, dia telah menyemprotkan separuh pejunya agak di luar lubang tempikku dengan berkali-kali dan sangat banyak sekali sehingga seluruh permukaan tempik sampai ke sela paha dan jembutku basah kuyup dengan peju suamiku. Selanjutnya suamiku langsung terjerembab tidak bertenaga lagi terhempas kelelahan di sampingku. Sementara itu, karena aku pasif saja waktu disetubuhi suamiku, dan membayangkan ****** Edo yang luar biasa itu, maka aku sama sekali tidak kelelahan, malah nafsuku kembali memuncak. Bagaikan seekor kuda betina binal aku jadi bergelinjangan tidak karuan karena aku ingin mengalami puncak orgasme lagi dengan disetubuhi oleh Edo. Tapi yang disampingku kini suamiku, yang telah lemas dan tak berdaya sama sekali. Oleh karena itu dengan perasaan kecewa berat aku segera bangkit dari tempat tidur dalam keadaan tubuh yang masih bertelanjang bulat hendak menuju kamar mandi yang memang berada di dalam kamar tidur untuk membersihkan cairan-cairan bekas persenggamaan yang melumuri selangkangan dan tubuhku. Namun untunglah, seperti mengerti perasaanku, tiba-tiba Edo yang masih dalam keadaan bertelanjang bulat dan ngaceng ******nya itu memelukku dari belakang sambil memagut serta menciumi leherku secara bertubi-tubi. Selanjutnya dia membungkukkan tubuhku ke pinggir ranjang. Aku kini berada dalam posisi menungging. Dalam posisi yang sedemikian Edo menusukkan ******nya ke dalam tempikku dari belakang dengan garangnya. Karena posisiku menungging, aku jadi lebih leluasa menggoyang-goyangkan pantatku, yang tentu saja tempikku juga ikut bergoyang ke kiri dan ke kanan. Hal ini membuat Edo semakin bernafsu menghujam-hujamkan ******nya ke dalam tempikku sehingga dengan cepat tubuhku kembali seperti melayang-layang merasakan kenikmatan yang tiada tara ini. Tak berapa lama tubuhku mengejang dan... ''Dddooo...... oooccchhhh... aacchhh... Ddooo... akk... aakkuu... mmaaauu... kkkeelluuuaaaarrrrrr......'' rintihku sambil mencengkeram pinggir ranjang, aku telah mencapai puncak persetubuhan terlebih dahulu. Begitu aku sedang mengalami puncak orgasme, Edo menarik ******nya dari lubang tempikku, sehingga seluruh tubuhku terasa menjadi tidak karuan, kurasakan lubang tempikku berdenyut agak aneh dalam suatu denyutan yang sangat sukar sekali kulukiskan dan belum pernah kualami. Namun walaupun sudah orgasme, aku masih berkeinginan sekali untuk melanjutkan persetubuhan ini. Dalam keadaan yang sedemikian tiba-tiba Edo yang masih bertelanjang bulat sebagaimana juga diriku, menarikku dan mengajakku tidur bersamanya di kamar tamu di sebelah kamarku. Bagaikan kerbau dicocok hidung, aku mengikuti Edo ke kamar sebelah. Kami berbaring di ranjang sambil berdekapan dalam keadaan tubuh masing-masing masih bertelanjang bulat bagaikan sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu. Kemudian Edo melepaskan pelukannya dan menelentangkan diriku lalu dengan bernafsu menciumi susuku dan menyedot-nyedot pentilnya yang mancung itu sehingga aku kembali merasakan suatu rangsangan birahi yang hebat. Tidak lama kemudian tubuh kami kami pun udah bersatu kembali dalam suatu permainan persetubuhan yang dahsyat. Kali ini rupanya Edo ingin mengajakku bersetubuh dengan cara yang lain. Mula-mula Edo membalikkan tubuhku sehingga posisiku kini berada di atas tubuhnya. Selanjutnya dengan spontan kuraih ****** Edo dan memandunya ke arah lubang tempikku. Kemudian kutekan tubuhku agak kuat ke tubuh Edo dan mulai mengayunkan tubuhku turun-naik di atas tubuhnya. Mula-mula secara perlahan-lahan akan tetapi lama-kelamaan semakin cepat dan kuat sambil berdesah-desah kecil, ''Occhhh... oocchhh... acchhh... sssshhhh...'' desahku dibuai kenikmatan. Sementara itu Edo dengan tenang telentang menikmati seluruh permainanku sampai tiba-tiba kurasakan suatu ketegangan yang amat dahsyat dan dia mulai mengerang-erang kecil, ''Oocchhh... oocchhh... Mmiiaaaa... ttteeemmpppiikkmuuu... mmmhhhhh...'' Akupun semakin cepat menggerakkan tubuhku turun-naik di atas tubuh Edo dan nafasku pun semakin memburu berpacu dengan hebat menggali seluruh kenikmatan tubuh laki-laki yang berada di bawahku. Tidak berapa lama kemudian aku menjadi terpekik kecil melepaskan puncak ejakulasi dengan hebat. ''Ooooccchhhhh...... mmmmhhhhhh... ooocccchhhh...... mmmmhhhhhh......'' pekikku keenakan dan tubuhkupun langsung terkulai menelungkup di atas tubuh Edo. Tapi ternyata Edo belum sampai pada puncaknya. Maka tiba-tiba dia bangkit dengan suatu gerakan yang cepat. Kemudian dengan sigap dia menelentangkan tubuhku di atas tempat tidur dan mengangkat tinggi-tinggi kedua belah pahaku ke atas sehingga lubang tempikku yang telah basah kuyup oleh lendir kawin tersebut menjadi terlihat jelas menganga dengan lebar. Selanjutnya Edo mengacungkan ******nya yang masih berdiri dengan tegang itu ke arah lubang tempikku dan menghunjamkan kembali ******nya tersebut ke lubang tempikku dengan garang. Aku menjadi terhentak bergelinjang kembali ketika ****** Edo mulai menerobos dengan buasnya ke dalam tubuhku dan membuat gerakan mundur-maju dalam lubang tempikku. Aku pun kini semakin hebat menggoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan turun-naiknya ****** Edo yang semakin lama semakin cepat merojok-rojokkan ****** besarnya ke lubang tempikku. Aku merasakan betapa lubang tempikku menjadi tidak terkendali berusaha menghisap dan melahap ****** Edo yang teramat besar dan panjang itu sedalam-dalamnya serta melumat seluruh otot-ototnya yang kekar dengan rakusnya. Selama pertarungan itu beberapa kali aku terpekik agak keras karena ****** Edo yang tegar dan perkasa itu menggesek bagian paling dalam tempikku (mungkin titik itu yang dinamakan G-Spot atau titik gairah seksual tertinggi wanita) Akhirnya, bersamaan dengan orgasmeku yang entah ke berapa kali aku tak ingat lagi, kulihat Edo tiba juga pada puncaknya. ''Mmmiiiaaaa... ooocchhh............... ooocccchhhhhh... Mmmiiiiaaaaaaaa........................ ttteeemmmppikkkmmmuuu... ooccchhhsss... aakkkuu... kkkellluuaaarrrrrr......'' rintihnya dengan mimik wajah yang sangat luar biasa dia menyebut-nyebut namaku sambil mengeluarkan kata-kata vulgarnya lagi dan melepaskan puncak ejakulasinya secara bertubi-tubi menyemprotkan seluruh pejunya di dalam tempikku dalam waktu yang amat panjang. Sementara itu ******nya tetap dibenamkannya sedalam-dalamnya di lubang tempikku sehingga seluruh pejunya terhisap dalam tempikku sampai titik penghabisan. Selanjutnya kami terhempas kelelahan ke tempat tidur dengan tubuh yang tetap menyatu. Selama kami tergolek, ****** Edo masih tetap terbenam dalam tempikku, dan aku pun memang tetap berusaha menjepitnya erat-erat karena tidak ingin segera kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhku. Setelah beberapa lama kami tergolek melepaskan lelah, Edo mulai bangkit dan menciumi wajahku dengan lembut yang segera kusambut dengan mengangakan mulutku sehingga kini kami terlibat dalam suatu adegan cium yang mesra penuh dengan perasaan. Sementara itu tangannya dengan halus membelai-belai rambutku sebagaimana seorang suami yang sedang mencurahkan cinta kasihnya kepada istrinya. Suasana romantis ini akhirnya membuat gairah kami muncul kembali. Kulihat ****** Edo mulai kembali menegang tegak sehingga secara serta merta Edo segera menguakkan kedua belah pahaku membukanya lebar-lebar untuk kemudian mulai memasukkan ******nya ke dalam tempikku kembali. Berlainan dengan suasana permulaan yang kualami tadi, dimana kami melakukan persetubuhan dalam suatu pertarungan yang dahsyat dan liar. Kali ini kami bersetubuh dalam suatu gerakan yang santai dalam suasana yang romantis dan penuh perasaan. Kami menikmati sepenuhnya sentuhan-sentuhan tubuh telanjang masing-masing dalam suasana kelembutan yang mesra bagaikan sepasang suami istri yang sedang melakukan kewajibannya. Aku pun dengan penuh perasaan dan dengan segala kepasrahan melayani Edo sebagaimana aku melayani suamiku selama ini. Keadaan ini berlangsung sangat lama sekali dan kubisikkan padanya bahwa ada bagian tertentu di dalam tempikku yang kalau tersentuh ******nya, dapat menghasilkan rasa nikmat yang amat sangat. Edopun kelihatannya mengerti dan berusaha menyentuh bagian itu dengan ******nya. Keadaan ini berakhir dengan tibanya kembali puncak persenggamaan kami secara bersamaan. Inilah yang belum pernah kualami, bahkan kuimpikanpun belum pernah. Mengalami orgasme secara bersama-sama dengan pasangan bersetubuh! Rasanya tak bisa kulukiskan dengan kata kata. Kami kini benar-benar kelelahan dan langsung tergolek di tempat tidur untuk kemudian terlelap dengan nyenyak dalam suatu kepuasan yang dalam. Semenjak pengalaman kami malam itu, aku selalu terbayang-bayang kehebatan Edo. Tetapi entah kenapa suamiku malah tidak pernah membicarakan lagi soal angan-angan seksualnya dan tidak pernah menyinggung lagi soal itu. Padahal aku malah ingin mengulanginya lagi. Karena apa yang kurasakan bersama suamiku sama sekali tidak sehebat sebagaimana yang kualami bersama Edo. Kuakui malam itu Edo memang hebat. Walaupun telah beberapa waktu berlalu namun bayangan kejadian malam itu tidak pernah berlalu dalam benakku. Malam itu aku telah merasakan suatu kepuasan persetubuhan yang luar biasa hebatnya yang belum pernah aku alami selama ini. Bahkan dengan Ki Alugoropun tidak sehebat ini, karena dengan Edo aku merasakan orgasme berkali-kali, sedang dengan Ki Alugoro cuma sekali. Dan walaupun telah beberapa kali menyetubuhiku, Edo masih tetap saja kelihatan bugar. ******nya pun masih tetap ngaceng dan berfungsi dengan baik melakukan tugasnya keluar-masuk lubang tempikku dengan tegar hingga membuatku menjadi agak kewalahan. Aku telah terkapar lunglai dengan tidak putus-putusnya mengerang kecil karena terus-menerus mengalami puncak orgasme dengan berkali-kali namun ****** Edo masih tetap ngaceng bertahan. Inilah yang membuatku terkagum-kagum. Terus terang kuakui bahwa selama melakukan persetubuhan dengan suamiku, aku tidak pernah mengalami puncak orgasme sama sekali. Apalagi dalam waktu yang berkali-kali dan secara bertubi-tubi seperti malam itu. Sehingga, karena desakan birahi yang selalu datang tiap hari, dengan diam-diam aku masih menjalin hubungan dengan Edo tanpa sepengetahuan suamiku. Awalnya di suatu pagi Edo berkunjung ke rumahku pada saat suamiku sudah berangkat ke tempat tugasnya. Secara terus terang saat itu dia minta kepadaku untuk mau disetubuhi. Mulanya aku pura-pura ragu memenuhi permintaannya itu. Akan tetapi karena aku memang mengharapkan, akhirnya aku menyetujui permintaan tersebut. Apalagi kebetulan anakku juga lagi ke sekolah diantar pembantuku. Sehingga kubiarkan saja dia menyetubuhiku di rumahku sendiri. Hubungan sembunyi-sembunyi itu rupanya membawa diriku ke dalam suatu alam kenikmatan lain tersendiri. Misalnya ketika kami bersetubuh secara terburu-buru di ruang tamu yang terbuka, kurasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat dan sangat menegangkan. Keadaan ini membawa hubunganku dan Edo semakin berlanjut. Demikianlah sehingga akhirnya aku dan Edo sering melakukan persetubuhan tanpa diketahui oleh suamiku. Pernah kami melakukan persetubuhan yang liar di luar rumah, yaitu di taman dibelakang rumah, sambil menatap awan-awan yang berarak, ternyata menimbulkan sensasi tersendiri dan kenikmatan yang ambooii. ''Mestinya pemerintah memperbolehkan rakyatnya melakukan persetubuhan di tempat terbuka, asal tidak terdapat unsur paksaan!'' anganku saat itu. Aku berpikir, kalau melakukan persetubuhan di tempat terbuka dengan disaksikan oleh orang lain, pasti lebih nikmat lagi deh! Sampai di suatu hari, Edo membisikkan rencananya kepadaku bahwa ia ingin bercinta secara three in one, tetapi bukan satu cewek dua cowok, tetapi satu cowok dua cewek. Maksudnya dia minta aku melibatkan satu orang temen cewekku untuk bersetubuh bersama. Mula-mula aku agak kaget dibuatnya, tetapi aku pikir-pikir boleh juga ya, hitung-hitung buat menambah pengalaman dalam bersetubuh. ''Wuih, pasti lebih seru nih'' pikirku dalam hati sambil membayangkan kenikmatan di tempikku, apalagi sambil melihat juga Edo bersetubuh dengan cewek lain. ''Eh, tapi.. aku cemburu nggak ya? Tapi biarlah, ini kan suatu sensasi lain yang belum pernah kualami'' pikirku lagi. Aku malah menambahkan usul kepada Edo, bagaimana kalau dilakukan di taman belakang rumah, habis asik sih! Lagipula aku memang punya temen (namanya Lina) yang ketika aku ceritain soal pengalamanku dengan Ki Alugoro maupun dengan Edo, keliatannya dia bernafsu banget dan pengin ikut-ikutan menikmati, boleh secara three in one ataupun sendiri sendiri, katanya. Soalnya ****** suaminya memang berukuran kecil dan pendek, apalagi suaminya sekarang lagi bertugas ke luar negeri dalam waktu yang lama, sehingga dia selalu kesepian di rumahnya yang besar itu. Ketika hal itu aku katakan pada Edo, dia langsung setuju dan menanyakan kapan hal itu akan dilaksanakan? Tentu saja aku jawab secepatnya. Keesokan harinya, sehabis berbelanja di salah satu mall aku mampir ke rumah Lina dan menceriterakan tentang rencanaku tersebut. Tentu saja dia sangat setuju dan antusias sekali mendengarnya, tetapi dia mengajukan sebuah syarat, yaitu itu dilakukan di taman di tepi kolam renang di belakang rumahnya.

Tamat cerita tante girang dari tante mia, sampai cerita selanjutnya ya!

ads

-