Cerita tante kali ini tentang seorang yang lagi ronda dan mendapati istri tetangganya yang lagi kesepian karena suami kerja. nah dalam kesempatan itu, si cowok berhasil membujuk dan merayu si tante untuk mendapatkan sensasi seks yang lain dengan dirinya. Bagaimana cerita selengkapnya, kita ketekapeh aja langsung nyoook,,,,,,
Sudah bertahun-tahun kegiatan ronda malam di lingkungan tempat tinggalku berjalan dengan baik. Setiap malam ada satu grup terdiri dari tiga orang. Sebagai anak muda yang sudah bekerja saya dapat giliran ronda pada malam minggu.
Pada suatu malam minggu saya giliran ronda. Tetapi sampai pukul 23.00 dua orang temanku tidak muncul di pos perondaan. saya tidak peduli mau datang apa tidak, karena saya maklum tugas ronda adalah sukarela, sehingga tidak baik untuk dipaksa-paksa. Biarlah saya ronda sendiri tidak ada masalah.
Karena memang belum mengantuk, saya jalan-jalan mengontrol kampung. Biasanya kami mengelilingi rumah-rumah penduduk. Pada waktu sampai di samping rumah Pak Tadi, saya melihat kaca nako yang belum tertutup. saya mendekati untuk melihat apakah kaca nako itu kelupaan ditutup atau ada orang jahat yang membukanya. Dengan hati-hati kudekati, tetapi ternyata kain korden tertutup rapi. Kupikir kemarin sore pasti lupa menutup kaca nako, tetapi langsung menutup kain kordennya saja. Mendadak saya mendengar suara aneh, seperti desahan seseorang. Kupasang telinga baik-baik, ternyata suara itu datang dari dalam kamar. Kudekati pelan-pelan, dan darahku berdesir, ketika ternyata itu suara orang bersetubuh. Nampaknya ini kamar tidur Pak Tadi dan istrinya. saya lebih mendekat lagi, suaranya dengusan nafas yang memburu dan gemerisik dan goyangan tempat tidur lebih jelas terdengar. "Ssshh.. hhemm.. uughh.. ugghh, terdengar suara dengusan dan suara orang seperti menahan sesuatu. Jelas itu suara tante Tadi yang ditindih suaminya. Terdengar pula bunyi kecepak-kecepok, nampaknya penis Pak Tadi sedang mengocok liang vagina tante Tadi. Aduuh, darahku naik ke kepala, penisku sudah berdiri keras seperti kayu. saya betul-betul iri membayangkan Pak Tadi menggumuli istrinya. Alangkah nikmatnya menyetubuhi tante Tadi yang cantik dan bahenol itu.
"Oohh, sshh buu, saya mau keluar, sshh.. sshh.." terdengar suara Pak Tadi tersengal-sengal. Suara kecepak-kecepok makin cepat, dan kemudian berhenti. Nampaknya Pak Tadi sudah ejakulasi dan pasti penisnya dibenamkan dalam-dalam ke dalam vagina tante Tadi. Selesailah sudah persetubuhan itu, saya pelan-pelan meninggalkan tempat itu dengan kepala berdenyut-denyut dan penis yang kemeng karena tegang dari tadi.
Sejak malam itu, saya jadi sering mengendap-endap mengintip kegiatan suami-istri itu di tempat tidurnya. Walaupun nako tidak terbuka lagi, namun suaranya masih jelas terdengar dari sela-sela kaca nako yang tidak rapat benar. saya jadi seperti detektip partikelir yang mengamati kegiatan mereka di sore hari. Biasanya pukul 21.00 mereka masih melihat siaran TV, dan sesudah itu mereka mematikan lampu dan masuk ke kamar tidurnya. saya mulai melihat situasi apakah aman untuk mengintip mereka. Apabila aman, saya akan mendekati kamar mereka. Kadang-kadang mereka hanya bercakap-cakap sebentar, terdengar bunyi gemerisik (barangkali memasang selimut), lalu sepi. Pasti mereka terus tidur. Tetapi apabila mereka masuk kamar, bercakap-cakap, terdengar ketawa-ketawa kecil mereka, jeritan lirih tante Tadi yang kegelian (barangkali dia digelitik, dicubit atau diremas buah dadanya oleh Pak Tadi), dapat dipastikan akan diteruskan dengan persetubuhan. Dan saya pasti mendengarkan sampai selesai. Rasanya seperti kecanduan dengan suara-suara Pak Tadi dan khususnya suara tante Tadi yang keenakan disetubuhi suaminya.
Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Apabila saya bertemu tante Tadi juga biasa-biasa saja, namun tidak dapat dipungkiri, saya jadi jatuh cinta sama istri Pak Tadi itu. Orangnya memang cantik, dan badannya padat berisi sesuai dengan seleraku. Khususnya pantat dan buah dadanya yang besar dan bagus. saya menyadari bahwa hal itu tidak akan mungkin, karena tante tadi istri orang. Kalau saya berani menggoda tante Tadi pasti jadi masalah besar di kampungku. Bisa-bisa saya dipukuli atau diusir dari kampungku. Tetapi nasib orang tidak ada yang tahu. Ternyata saya akhirnya dapat menikmati keindahan tubuh tante Tadi.
Pada suatu hari saya mendengar Pak Tadi opname di rumah sakit, katanya operasi usus buntu. Sebagai tetangga dan masih bujangan saya banyak waktu untuk menengoknya di rumah sakit. Dan yang penting saya mencoba membangun hubungan yang lebih akrab dengan tante Tadi. Pada suatu sore, saya menengok di rumah sakit bersamaan dengan adiknya Pak Tadi. Sore itu, mereka sepakat tante Tadi akan digantikan adiknya menunggu di rumah sakit, karena tante Tadi sudah beberapa hari tidak pulang. saya menawarkan diri untuk pulang bersamaku. Mereka setuju saja dan malah berterima kasih. Terus terang kami sudah menjalin hubungan lebih akrab dengan keluarga itu.
Sehabis mahgrib saya bersama tante Tadi pulang. Dalam mobilku kami mulai mengobrol, mengenai sakitnya Pak Tadi. Katanya seminggu lagi sudah boleh pulang. saya mulai mencoba untuk berbicara lebih dekat lagi, atau katakanlah lebih kurang ajar. Inikan kesempatan bagus sekali untuk mendekatai tante Tadi.
"Bu, maaf yaa. ngomong-ngomong tante Tadi sudah berkeluarga sekitar 3 tahun kok belum diberi momongan yaa", kataku hati-hati.
"Ya, itulah Dik Budi. Kami kan hanya lakoni. Barangkali Tuhan belum mengizinkan", jawab tante Tadi.
"Tapi anu tho bu.. anuu.. bikinnya khan jalan terus." godaku.
"Ooh apa, ooh. kalau itu sih iiya Dik Budi" jawab tante Tadi agak kikuk. Sebenarnya kan saya tahu, mereka setiap minggunya minmal 2 kali bersetubuh dan terbayang kembali desahan tante Tadi yang keenakan. Darahku semakin berdesir-desir. saya semakin nekad saja.
"Tapi, kok belum berhasil juga yaa bu?" lanjutku.
"Ya, itulah, kami berusaha terus. Tapi ngomong-ngomong kapan Dik dandi kawin. Sudah kerja, sudah punya mobil, cakep lagi. Cepetan dong. Nanti keburu tua lhoo", kata tante Tadi.
"Eeh, benar nih tante Tadi. saya cakep niih. Ah kebetulan, tolong carikan saya Bu. Tolong carikan yang kayak Ibu Tadi ini lhoo", kataku menggodanya.
"Lho, kok hanya kayak saya. Yang lain yang lebih cakep kan banyak. Saya khan sudah tua, jelek lagi", katanya sambil ketawa.
Aku harus dapat memanfaatkan situasi. Harus, tante tadi harus saya dapatkan.
"Eeh, tante Tadi. Kita kan nggak usah buru-buru nih. Di rumah tante Tadi juga kosong. Kita cari makan dulu yaa. Mauu yaa bu, mau yaa", ajakku dengan penuh kekhawatiran jangan-jangan dia menolak.
"Tapi nanti kemaleman lo Dik", jawabnya.
"Aah, baru jam tujuh. Mau ya Buu", saya sedikit memaksa.
"Yaa gimana yaa.. ya deh terserah Dik Budi. Tapi nggak malam-malam lho." tante Tadi setuju. Batinku bersorak.
Kami berehenti di warung bakmi yang terkenal. Sambil makan kami terus mengobrol. Jeratku semakin saya persempit.
"Eeh, saya benar-benar tolong dicarikan istri yang kayak tante Tadi dong Bu. benar nih. Soalnya begini bu, tapii eeh nanti tante Tadi marah sama saya. Nggak usaah saya katakan saja deh", kubuat tante Tadi penasaran.
"Emangnya kenapa siih." tante tadi memandangku penuh tanda tanya.
"Tapi janji nggak marah lho." kataku memancing. Dia mengangguk kecil.
"Anu bu.. tapi janji tidak marah lho yaa."
"Bu Tadi terus terang saya terobsesi punya istri seperti tante tadi. saya benar-benar bingung dan seperti orang gila kalau memikirkan tante Tadi. saya menyadari ini nggak betul. tante Tadi kan istri tetanggaku yang harus saya hormati. Aduuh, maaf, maaf sekali bu. saya sudah kurang ajar sekali", kataku menghiba. tante Tadi melongo, memandangiku. sendoknya tidak terasa jatuh di piring. Bunyinya mengagetkan dia, dia tersipu-sipu, tidak berani memandangiku lagi.
Sampai selesai kami jadi berdiam-diaman. Kami berangkat pulang. Dalam mobil saya berpikir, ini sudah telanjur basah. Katanya laki-laki harus nekad untuk menaklukkan wanita. Nekad kupegang tangannya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku memegang setir. Di luar dugaanku, tante Tadi balas meremas tanganku. Batinku bersorak. saya tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada kata-kata, batin kami, perasaan kami telah bertaut. Pikiranku melambung, melayang-layang. Mendadak ada sepeda motor menyalib mobilku. saya kaget.
"Awaas! hati-hati!" tante Tadi menjerit kaget.
"Aduh nyalib kok nekad amat siih", gerutuku.
"Makanya kalau nyetir jangan macam-macam", kata tante tadi. Kami tertawa. Kami tidak membisu lagi, kami ngomong, ngomong apa saja. Kebekuan cair sudah. Sampai di rumah saya hanya sampai pintu masuk, saya lalu pamit pulang.
Di rumah saya mencoba untuk tidur. Tidak bisa. Nonton siaran TV, tidak nyaman juga. saya terus membayangkan tante Tadi yang sekarang sendirian, hanya ditemani pembantunya yang tua di kamar belakang. Ada dorongan sangat kuat untuk mendatangi rumah tante Tadi. Berani nggaak, berani nggak. Mengapa nggak berani. Entah setan mana yang mendorongku, tahu-tahu saya sudah keluar rumah. saya mendatangi kamar tante Tadi. Dengan berdebar-debar, saya ketok pelan-pelan kaca nakonya, "Buu Tadi, saya Budi", kataku lirih. Terdengar gemerisik tempat tidur, lalu sepi. Mungkin tante Tadi bangun dan takut. Bisa juga mengira saya maling. "Aku Budi", kataku lirih. Terdengar gemerisik. Kain korden terbuka sedikit. Nako terbuka sedikit. "Lewat belakang!" kata tante Tadi. saya menuju ke belakang ke pintu dapur. Pintu terbuka, saya masuk, pintu tertutup kembali. saya nggak tahan lagi, tante Tadi saya peluk erat-erat, kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya dengan lembut dan mesra, penuh kerinduan. tante Tadi membalas memelukku, wajahnya disusupkan ke dadaku.
"Aku nggak bisa tidur", bisikku.
"Aku juga", katanya sambil memelukku erat-erat.
Dia melepaskan pelukannya. saya dibimbingnya masuk ke kamar tidurnya. Kami berpelukan lagi, berciuman lagi dengan lebih bernafsu. "Buu, saya kangen bangeet. saya kangen", bisikku sambil terus menciumi dan membelai punggungnya. Nafsu kami semakin menggelora. saya ditariknya ke tempat tidur. tante Tadi membaringkan dirinya. Tanganku menyusup ke buah dadanya yang besar dan empuk, aduuh nikmat sekali, kuelus buah dadanya dengan lembut, kuremas pelan-pelan. tante Tadi menyingkapkan dasternya ke atas, dia tidak memakai BH. Aduh buah dadanya kelihatan putih dan menggung. saya nggak tahan lagi, kuciumi, kukulum pentilnya, kubenamkan wajahku di kedua buah dadanya, sampai saya nggak bisa bernapas. Sementara tanganku merogoh kemaluannya yang berbulu tebal. Celana dalamnya kupelorotkan, dan tante Tadi meneruskan ke bawah sampai terlepas dari kakinya. Dengan sigap saya melepaskan sarung dan celana dalamku. Penisku langsung tegang tegak menantang. tante Tadi segera menggenggamnya dan dikocok-kocok pelan dari ujung penisku ke pangkal pahaku. Aduuh, rasanya geli dan nikmat sekali. saya sudah nggak sabar lagi. saya naiki tubuh tante Tadi, bertelekan pada sikut dan dengkulku.
Kaki tante Tadi dikangkangkannya lebar-lebar, penisku dibimbingnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Digesek-gesekannya di bibir kemaluannya, makin lama semakin basah, kepala penisku masuk, semakin dalam, semakin.. dan akhirnya blees, masuk semuanya ke dalam kemaluan tante Tadi. saya turun-naik pelan-pelan dengan teratur. Aduuh, nikmat sekali. Penisku dijepit kemaluan tante Tadi yang sempit dan licin. Makin cepat kucoblos, keluar-masuk, turun-naik dengan penuh nafsu. "Aduuh, Dik Budi, Dik Budii.. enaak sekali, yang cepaat.. teruus", bisik tante Tadi sambil mendesis-desis. Kupercepat lagi. Suaranya vagina tante Tadi kecepak-kecepok, menambah semangatku. "Dik Budii saya mau muncaak.. muncaak, teruus.. teruus", saya juga sudah mau keluar. saya percepat, dan penisku merasa akan keluar. Kubenamkan dalam-dalam ke dalam vagina tante Tadi sampai amblaas. Pangkal penisku berdenyut-denyut, spermaku muncrat-muncrat di dalam vagina tante Tadi. Kami berangkulan kuat-kuat, napas kami berhenti. Saking nikmatnya dalam beberapa detik nyawaku melayang entah kemana. Selesailah sudah. Kerinduanku tercurah sudah, saya merasa lemas sekali tetapi puas sekali.
Kucabut penisku, dan berbaring di sisinya. Kami berpelukan, mengatur napas kami. Tiada kata-kata yang terucapkan, ciuman dan belaian kami yang berbicara.
"Dik Budi, saya curiga, salah satu dari kami mandul. Kalau saya subur, saya harap saya bisa hamil dari spermamu. Nanti kalau jadi saya kasih tahu. Yang tahu bapaknya anakku kan hanya saya sendiri kan. Dengan siapa saya membuat anak", katanya sambil mencubitku. Malam itu pertama kali saya menyetubuhi tante Tadi tetanggaku. Beberapa kali kami berhubungan sampai saya kawin dengan wanita lain. tante Tadi walaupun cemburu tapi dapat memakluminya.
Keluarga Pak tadi sampai saat ini hanya mempunyai satu anak perempuan yang cantik. Apabila di kedepankan, tante Tadi sering menciumi anak itu, sementara matanya melirikku dan tersenyum-senyum manis. Tetanggaku pada meledek tante Tadi, mungkin waktu hamil tante Tadi benci sekali sama saya . Karena anaknya yang cantik itu mempunyai mata, pipi, hidung, dan bibir yang persis seperti mata, pipi, hidung, dan bibirku.
Seperti telah anda ketahui hubunganku dengan tante Tadi istri tetanggaku yang cantik itu tetap berlanjut sampai kini, walaupun saya telah berumah tangga. Namun dalam perkawinanku yang sudah berjalan dua tahun lebih, kami belum dikaruniai anak. Istriku tidak hamil-hamil juga walaupun penisku kutojoskan ke vagina istriku siang malam dengan penuh semangat. Kebetulan istriku juga mempunyai nafsu seks yang besar. Baru disentuh saja nafsunya sudah naik. Biasanya dia lalu melorotkan celana dalamnya, menyingkap pakaian serta mengangkangkan pahanya agar vaginanya yang tebal bulunya itu segera digarap. Di mana saja, di kursi tamu, di dapur, di kamar mandi, apalagi di tempat tidur, kalau sudah nafsu, ya saya masukkan saja penisku ke vaginanya. Istriku juga dengan penuh gairah menerima coblosanku. saya sendiri terus terang setiap saat melihat istriku selalu nafsu saja deh. Memang istriku benar-benar membuat hidupku penuh semangat dan gairah.
Tetapi karena istriku tidak hamil-hamil juga saya jadi agak kawatir. Kalau mandul, jelas saya tidak. Karena sudah terbukti tante Tadi hamil, dan anakku yang cantik itu sekarang menjadi anak kesayangan keluarga Pak Tadi. Apakah istriku yang mandul? Kalau melihat fisik serta haidnya yang teratur, saya yakin istriku subur juga. Apakah saya kena hukuman karena saya selingkuh dengan tante Tadi? aah, mosok. Nggak mungkin itu. Apakah karena dosa? Waah, mestinya ya memang dosa besar. Tapi karena menyetubuhi tante Tadi itu enak dan nikmat, apalagi dia juga senang, maka hubungan gelap itu perlu diteruskan, dipelihara, dan dilestarikan.
Untuk mengatur perselingkuhanku dengan tante Tadi, kami sepakat dengan membuat kode khusus yang hanya diketahui kami berdua. Apabila Pak Tadi tidak ada di rumah dan benar-benar aman, tante Tadi memadamkan lampu di sumur belakang rumahnya. Biasanya lampu 5 watt itu menyala sepanjang malam, namun kalau pada pukul 20.00 lampu itu padam, berarti keadaan aman dan saya dapat mengunjungi tante Tadi. (Anda dapat meniru caraku yang sederhana ini. Gratis tanpa bayar pulsa telepon yang makin mahal). Karena dari samping rumahku dapat terlihat belakang rumah tante Tadi, dengan mudah saya dapat menangkap tanda tersebut. Tetapi pernah tanda itu tidak ada sampai 1 atau 2 bulan, bahkan 3 bulan. saya kadang-kadang jadi agak jengkel dan frustasi (karena kangen) dan saya mengira juga tante Tadi sudah bosan denganku. Tetapi ternyata memang kesempatan itu benar-benar tidak ada, sehingga tidak aman untuk bertemu.
Pada suatu hari saya berpapasan dengan tante Tadi di jalan dan seperti biasanya kami saling menyapa baik-baik. Sebelum melanjutkan perjalanannya, dia berkata, "Dik Budi, besok malam minggu ada keperluan nggak?"
"Kayaknya sih nggak ada acara kemana-mana. Emangnya ada apa?" jawabku dengan penuh harapan karena sudah hampir satu bulan kami tidak bermesraan.
"Nanti ke rumah yaa!" katanya dengan tersenyum malu-malu.
"Emangnya Pak Tadi nggak ada?" kataku. Dia tidak menjawab, cuma tersenyum manis dan pergi meneruskan perjalanannya. Walaupun sudah biasa, darahku pun berdesir juga membayangkan pertemuanku malam minggu nanti.
Seperti biasa malam minggu adalah giliran ronda malamku. Istriku sudah tahu itu, sehingga tidak menaruh curiga atau bertanya apa-apa kalau pergi keluar malam itu. saya sudah bersiap untuk menemui tante Tadi. saya hanya memakai sarung, (tidak memakai celana dalam) dan kaos lengan panjang biar agak hangat. Dan memang kalau tidur saya tidak pernah pakai celana dalam tetapi hanya memakai sarung saja. Rasanya lebih rileks dan tidak sumpek, serta penisnya biar mendapat udara yang cukup setelah seharian dipepes dalam celana dalam yang ketat.
Waktu menunjukkan pukul 22.00. Lampu belakang rumah tante Tadi sudah padam dari tadi. saya berjalan memutar dulu untuk melihat situasi apakah sudah benar-benar sepi dan aman. Setelah yakin aman, saya menuju ke samping rumah tante Tadi. saya ketok kaca nako kamarnya. Tanpa menunggu jawaban, saya langsung menuju ke pintu belakang. Tidak berapa lama terdengar kunci dibuka. Pelan pintu terbuka dan saya masuk ke dalam. Pintu ditutup kembali. saya berjalan beriringan mengikuti tante Tadi masuk ke kamar tidurnya. Setelah pintu ditutup kembali, kami langsung berpelukan dan berciuman untuk menyalurkan kerinduan kami. Kami sangat menikmati kemesraan itu, karena memang sudah hampir satu bulan kami tidak mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Setelah itu, tante Tadi mendorongku, tangannya di pinggangku, dan tanganku berada di pundaknya. Kami berpandangan mesra, tante tadi tersenyum manis dan memelukku kembali erat-erat. Kepalanya disandarkan di dadaku.
"Paa, sudah lama kita nggak begini", katanya lirih. tante Tadi sekarang kalau sedang bermesraan atau bersetubuh memanggilku Papa. Demikian juga saya selalu membisikkan dan menyebutnya Mama kepadanya. Nampaknya tante Tadi menghayati betul bahwa Nia, anaknya yang cantik itu bikinan kami berdua.
"Pak Tadi sedang kemana sih maa", tanyaku.
"Sedang mengikuti piknik karyawan ke Pangandaran. saya sengaja nggak ikut dan hanya Nia saja yang ikut. Tenang saja, pulangnya baru besok sore", katanya sambil terus mendekapku.
"Maa, saya mau ngomong nih", kataku sambil duduk bersanding di tempat tidur. tante Tadi diam saja dan memandangku penuh tanda tanya.
"Maa, sudah dua tahun lebih saya berumah tangga, tetapi istriku belum hamil-hamil juga. Kamu tahu, mustinya secara fisik, kami tidak ada masalah. saya jelas bisa bikin anak, buktinya sudah ada kan. saya nggak tahu kenapa kok belum jadi juga. Padahal bikinnya tidak pernah berhenti, siang malam", kataku agak melucu. tante Tadi memandangku.
"Pa, saya harus berbuat apa untuk membantumu. Kalau saya hamil lagi, saya yakin suamiku tidak akan mengijinkan adiknya Nia kamu minta menjadi anak angkatmu. Toh anak kami kan baru dua orang nantinya, dan pasti suamiku akan sayang sekali. Untukku sih memang seharusnya bapaknya sendiri yang mengurusnya. Tidak seperti sekarang, keenakan dia. Cuma bikin doang, giliran sudah jadi bocah orang lain dong yang ngurus", katanya sambil merenggut manja. saya tersenyum kecut.
"Jangan-jangan ini hukuman buatku ya maa, saya dihukum tidak punya anak sendiri. Biar tahu rasa", kataku.
"Ya sabar dulu deh paa, mungkin belum pas saja. Spermamu belum pas ketemu sama telornya Rina (nama istriku). Siapa tahu bulan depan berhasil", katanya menghiburku.
"Ya mudah-mudahan. Tolong didoain yaa.."
"Enak saja. Didoain? Mustinya saya kan nggak rela Papa menyetubuhi Rina istrimu itu. Mustinya Papa kan punyaku sendiri, saya monopoli. Nggak boleh punya Papa masuk ke perempuan lain kan. Kok malah minta didoain. Gimana siih", katanya manja dan sambil memelukku erat-erat. Benar juga, mestinya kami ini jadi suami-istri, dan Nia itu anak kami.
"Maa, kalau kita ngomong-ngomong seperti ini, jadinya nafsunya malah jadi menurun lho. Jangan-jangan nggak jadi main nih", kataku menggoda.
"Iiih, dasar", katanya sambil mencubit pahaku kuat-kuat.
"Makanya jangan ngomong saja. Segera saja Mama ini diperlakukan sebagaimana mestinya. Segera digarap doong!" katanya manja.
Kami berpelukan dan berciuman lagi. Tentu saja kami tidak puas hanya berciuman dan berpelukan saja. Kutidurkan dia di tempat tidur, kutelentangkan. tante Tadi mandah saja. Pasrah saja mau diapain. Dia memakai daster dengan kancing yang berderet dari atas ke bawah. Kubuka kancing dasternya satu per satu mulai dari dada terus ke bawah. Kusibakkan ke kanan dan ke kiri bajunya yang sudah lepas kancingnya itu. Menyembullah buah dadanya yang putih menggunung (dia sudah tidak pakai BH). Celana dalam warna putih yang menutupi vaginanya yang nyempluk itu saya pelorotkan. saya benar-benar menikmati keindahan tubuh istri gelapku ini. Saat satu kakinya ditekuk untuk melepaskan celana dalamnya, gerakan kakinya yang indah, vaginanya yang agak terbuka, aduh pemandangan itu sungguh indah. Benar-benar membuatku menelan ludah. Wajah yang ayu, buah dada yang putih menggunung, perut yang langsing, vagina yang nyempluk dan agak terbuka, kaki yang indah agak mengangkang, sungguh mempesona. saya tidak tahan lagi. saya lempar sarungku dan kaosku entah jatuh dimana. saya segera naik di atas tubuh tante Tadi. Kugumuli dia dengan penuh nafsu. saya tidak peduli tante Tadi megap-megap keberatan saya tindih sepenuhnya. Habis gemes banget, nafsu banget sih.
"Uugh jangan nekad tho. Berat nih", keluh tante Tadi.
Aku bertelekan pada telapak tanganku dan dengkulku. Penisku yang sudah tegang banget saya paskan ke vaginanya. Terampil tangan tante Tadi memegangnya dan dituntunnya ke lubang vaginanya yang sudah basah. Tidak ada kesulitan lagi, masuklah semuanya ke dalam vaginanya. Dengan penuh semangat kukocok vagina tante Tadi dengan penisku. tante Tadi semakin naik, menggeliat dan merangkulku, melenguh dan merintih. Semakin lama semakin cepat, semakin naik, naik, naik ke puncak.
"Teruus, teruus paa.. sshh.. ssh.." bisik tante Tadi
"Maa, saya juga sudah mau.. keluaarr",
"Yang dalam paa.. yang dalamm. Keluarin di dalaam Paa.. Paa.. Adduuh Paa nikmat banget Paa.., ouuch..", jeritnya lirih yang merangkulku kuat-kuat. Kutekan dalam-dalam penisku ke vaginanyanya. Croot, cruut, crruut, keluarlah spermaku di dalam rahim istri gelapku ini. Napasku seperti terputus. Kenikmatan luar biasa menjalar kesuluruh tubuhku. tante Tadi menggigit pundakku. Dia juga sudah mencapai puncak. Beberapa detik dia saya tindih dan dia merangkul kuat-kuat. Akhirnya rangkulannya terlepas. Kuangkat tubuhku. Penisku masih di dalam, saya gerakkan pelan-pelan, aduh geli dan ngilu sekali sampai tulang sumsum. Vaginanya licin sekali penuh spermaku. Kucabut penisku dan saya terguling di samping tante Tadi. tante Tadi miring menghadapku dan tangannya diletakkan di atas perutku. Dia berbisik, "Paa, Nia sudah cukup besar untuk punya adik. Mudah-mudahan kali ini langsung jadi ya paa. saya ingin dia seorang laki-laki. Sebelum Papa tadi mengeluh Rina belum hamil, saya memang sudah berniat untuk membuatkan Nia seorang adik. Sekalian untuk test apakah Papa masih joos apa tidak. Kalau saya hamil lagi berarti Papa masih jooss. Kalau nanti pengin menggendong anak, ya gendong saja Nia sama adiknya yang baru saja dibuat ini." Dia tersenyum manis. saya diam saja. menerawang jauh, alangkah nikmatnya bisa menggendong anak-anakku.
Malam itu saya bersetubuh lagi. Sungguh penuh cinta kasih, penuh kemesraan. Kami tuntaskan kerinduan dan cinta kasih kami malam itu. Dan saya menunggu dengan harap-harap cemas, jadikah anakku yang kedua di rahim istri gelapku ini? Salam. Demikian cerita tante girang kali ini, sukses terus semoga anda terhibur denganc erita cerita yang kami suguhkan. tetep positif thingking dan liat tante tante yang memang layak dijadikan korban :P , jangan sembarang tante dijerumuskan ya :D
READ MORE - Istri tetanggaku tante girang
Pada suatu malam minggu saya giliran ronda. Tetapi sampai pukul 23.00 dua orang temanku tidak muncul di pos perondaan. saya tidak peduli mau datang apa tidak, karena saya maklum tugas ronda adalah sukarela, sehingga tidak baik untuk dipaksa-paksa. Biarlah saya ronda sendiri tidak ada masalah.
Karena memang belum mengantuk, saya jalan-jalan mengontrol kampung. Biasanya kami mengelilingi rumah-rumah penduduk. Pada waktu sampai di samping rumah Pak Tadi, saya melihat kaca nako yang belum tertutup. saya mendekati untuk melihat apakah kaca nako itu kelupaan ditutup atau ada orang jahat yang membukanya. Dengan hati-hati kudekati, tetapi ternyata kain korden tertutup rapi. Kupikir kemarin sore pasti lupa menutup kaca nako, tetapi langsung menutup kain kordennya saja. Mendadak saya mendengar suara aneh, seperti desahan seseorang. Kupasang telinga baik-baik, ternyata suara itu datang dari dalam kamar. Kudekati pelan-pelan, dan darahku berdesir, ketika ternyata itu suara orang bersetubuh. Nampaknya ini kamar tidur Pak Tadi dan istrinya. saya lebih mendekat lagi, suaranya dengusan nafas yang memburu dan gemerisik dan goyangan tempat tidur lebih jelas terdengar. "Ssshh.. hhemm.. uughh.. ugghh, terdengar suara dengusan dan suara orang seperti menahan sesuatu. Jelas itu suara tante Tadi yang ditindih suaminya. Terdengar pula bunyi kecepak-kecepok, nampaknya penis Pak Tadi sedang mengocok liang vagina tante Tadi. Aduuh, darahku naik ke kepala, penisku sudah berdiri keras seperti kayu. saya betul-betul iri membayangkan Pak Tadi menggumuli istrinya. Alangkah nikmatnya menyetubuhi tante Tadi yang cantik dan bahenol itu.
"Oohh, sshh buu, saya mau keluar, sshh.. sshh.." terdengar suara Pak Tadi tersengal-sengal. Suara kecepak-kecepok makin cepat, dan kemudian berhenti. Nampaknya Pak Tadi sudah ejakulasi dan pasti penisnya dibenamkan dalam-dalam ke dalam vagina tante Tadi. Selesailah sudah persetubuhan itu, saya pelan-pelan meninggalkan tempat itu dengan kepala berdenyut-denyut dan penis yang kemeng karena tegang dari tadi.
Sejak malam itu, saya jadi sering mengendap-endap mengintip kegiatan suami-istri itu di tempat tidurnya. Walaupun nako tidak terbuka lagi, namun suaranya masih jelas terdengar dari sela-sela kaca nako yang tidak rapat benar. saya jadi seperti detektip partikelir yang mengamati kegiatan mereka di sore hari. Biasanya pukul 21.00 mereka masih melihat siaran TV, dan sesudah itu mereka mematikan lampu dan masuk ke kamar tidurnya. saya mulai melihat situasi apakah aman untuk mengintip mereka. Apabila aman, saya akan mendekati kamar mereka. Kadang-kadang mereka hanya bercakap-cakap sebentar, terdengar bunyi gemerisik (barangkali memasang selimut), lalu sepi. Pasti mereka terus tidur. Tetapi apabila mereka masuk kamar, bercakap-cakap, terdengar ketawa-ketawa kecil mereka, jeritan lirih tante Tadi yang kegelian (barangkali dia digelitik, dicubit atau diremas buah dadanya oleh Pak Tadi), dapat dipastikan akan diteruskan dengan persetubuhan. Dan saya pasti mendengarkan sampai selesai. Rasanya seperti kecanduan dengan suara-suara Pak Tadi dan khususnya suara tante Tadi yang keenakan disetubuhi suaminya.
Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Apabila saya bertemu tante Tadi juga biasa-biasa saja, namun tidak dapat dipungkiri, saya jadi jatuh cinta sama istri Pak Tadi itu. Orangnya memang cantik, dan badannya padat berisi sesuai dengan seleraku. Khususnya pantat dan buah dadanya yang besar dan bagus. saya menyadari bahwa hal itu tidak akan mungkin, karena tante tadi istri orang. Kalau saya berani menggoda tante Tadi pasti jadi masalah besar di kampungku. Bisa-bisa saya dipukuli atau diusir dari kampungku. Tetapi nasib orang tidak ada yang tahu. Ternyata saya akhirnya dapat menikmati keindahan tubuh tante Tadi.
Pada suatu hari saya mendengar Pak Tadi opname di rumah sakit, katanya operasi usus buntu. Sebagai tetangga dan masih bujangan saya banyak waktu untuk menengoknya di rumah sakit. Dan yang penting saya mencoba membangun hubungan yang lebih akrab dengan tante Tadi. Pada suatu sore, saya menengok di rumah sakit bersamaan dengan adiknya Pak Tadi. Sore itu, mereka sepakat tante Tadi akan digantikan adiknya menunggu di rumah sakit, karena tante Tadi sudah beberapa hari tidak pulang. saya menawarkan diri untuk pulang bersamaku. Mereka setuju saja dan malah berterima kasih. Terus terang kami sudah menjalin hubungan lebih akrab dengan keluarga itu.
Sehabis mahgrib saya bersama tante Tadi pulang. Dalam mobilku kami mulai mengobrol, mengenai sakitnya Pak Tadi. Katanya seminggu lagi sudah boleh pulang. saya mulai mencoba untuk berbicara lebih dekat lagi, atau katakanlah lebih kurang ajar. Inikan kesempatan bagus sekali untuk mendekatai tante Tadi.
"Bu, maaf yaa. ngomong-ngomong tante Tadi sudah berkeluarga sekitar 3 tahun kok belum diberi momongan yaa", kataku hati-hati.
"Ya, itulah Dik Budi. Kami kan hanya lakoni. Barangkali Tuhan belum mengizinkan", jawab tante Tadi.
"Tapi anu tho bu.. anuu.. bikinnya khan jalan terus." godaku.
"Ooh apa, ooh. kalau itu sih iiya Dik Budi" jawab tante Tadi agak kikuk. Sebenarnya kan saya tahu, mereka setiap minggunya minmal 2 kali bersetubuh dan terbayang kembali desahan tante Tadi yang keenakan. Darahku semakin berdesir-desir. saya semakin nekad saja.
"Tapi, kok belum berhasil juga yaa bu?" lanjutku.
"Ya, itulah, kami berusaha terus. Tapi ngomong-ngomong kapan Dik dandi kawin. Sudah kerja, sudah punya mobil, cakep lagi. Cepetan dong. Nanti keburu tua lhoo", kata tante Tadi.
"Eeh, benar nih tante Tadi. saya cakep niih. Ah kebetulan, tolong carikan saya Bu. Tolong carikan yang kayak Ibu Tadi ini lhoo", kataku menggodanya.
"Lho, kok hanya kayak saya. Yang lain yang lebih cakep kan banyak. Saya khan sudah tua, jelek lagi", katanya sambil ketawa.
Aku harus dapat memanfaatkan situasi. Harus, tante tadi harus saya dapatkan.
"Eeh, tante Tadi. Kita kan nggak usah buru-buru nih. Di rumah tante Tadi juga kosong. Kita cari makan dulu yaa. Mauu yaa bu, mau yaa", ajakku dengan penuh kekhawatiran jangan-jangan dia menolak.
"Tapi nanti kemaleman lo Dik", jawabnya.
"Aah, baru jam tujuh. Mau ya Buu", saya sedikit memaksa.
"Yaa gimana yaa.. ya deh terserah Dik Budi. Tapi nggak malam-malam lho." tante Tadi setuju. Batinku bersorak.
Kami berehenti di warung bakmi yang terkenal. Sambil makan kami terus mengobrol. Jeratku semakin saya persempit.
"Eeh, saya benar-benar tolong dicarikan istri yang kayak tante Tadi dong Bu. benar nih. Soalnya begini bu, tapii eeh nanti tante Tadi marah sama saya. Nggak usaah saya katakan saja deh", kubuat tante Tadi penasaran.
"Emangnya kenapa siih." tante tadi memandangku penuh tanda tanya.
"Tapi janji nggak marah lho." kataku memancing. Dia mengangguk kecil.
"Anu bu.. tapi janji tidak marah lho yaa."
"Bu Tadi terus terang saya terobsesi punya istri seperti tante tadi. saya benar-benar bingung dan seperti orang gila kalau memikirkan tante Tadi. saya menyadari ini nggak betul. tante Tadi kan istri tetanggaku yang harus saya hormati. Aduuh, maaf, maaf sekali bu. saya sudah kurang ajar sekali", kataku menghiba. tante Tadi melongo, memandangiku. sendoknya tidak terasa jatuh di piring. Bunyinya mengagetkan dia, dia tersipu-sipu, tidak berani memandangiku lagi.
Sampai selesai kami jadi berdiam-diaman. Kami berangkat pulang. Dalam mobil saya berpikir, ini sudah telanjur basah. Katanya laki-laki harus nekad untuk menaklukkan wanita. Nekad kupegang tangannya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku memegang setir. Di luar dugaanku, tante Tadi balas meremas tanganku. Batinku bersorak. saya tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada kata-kata, batin kami, perasaan kami telah bertaut. Pikiranku melambung, melayang-layang. Mendadak ada sepeda motor menyalib mobilku. saya kaget.
"Awaas! hati-hati!" tante Tadi menjerit kaget.
"Aduh nyalib kok nekad amat siih", gerutuku.
"Makanya kalau nyetir jangan macam-macam", kata tante tadi. Kami tertawa. Kami tidak membisu lagi, kami ngomong, ngomong apa saja. Kebekuan cair sudah. Sampai di rumah saya hanya sampai pintu masuk, saya lalu pamit pulang.
Di rumah saya mencoba untuk tidur. Tidak bisa. Nonton siaran TV, tidak nyaman juga. saya terus membayangkan tante Tadi yang sekarang sendirian, hanya ditemani pembantunya yang tua di kamar belakang. Ada dorongan sangat kuat untuk mendatangi rumah tante Tadi. Berani nggaak, berani nggak. Mengapa nggak berani. Entah setan mana yang mendorongku, tahu-tahu saya sudah keluar rumah. saya mendatangi kamar tante Tadi. Dengan berdebar-debar, saya ketok pelan-pelan kaca nakonya, "Buu Tadi, saya Budi", kataku lirih. Terdengar gemerisik tempat tidur, lalu sepi. Mungkin tante Tadi bangun dan takut. Bisa juga mengira saya maling. "Aku Budi", kataku lirih. Terdengar gemerisik. Kain korden terbuka sedikit. Nako terbuka sedikit. "Lewat belakang!" kata tante Tadi. saya menuju ke belakang ke pintu dapur. Pintu terbuka, saya masuk, pintu tertutup kembali. saya nggak tahan lagi, tante Tadi saya peluk erat-erat, kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya dengan lembut dan mesra, penuh kerinduan. tante Tadi membalas memelukku, wajahnya disusupkan ke dadaku.
"Aku nggak bisa tidur", bisikku.
"Aku juga", katanya sambil memelukku erat-erat.
Dia melepaskan pelukannya. saya dibimbingnya masuk ke kamar tidurnya. Kami berpelukan lagi, berciuman lagi dengan lebih bernafsu. "Buu, saya kangen bangeet. saya kangen", bisikku sambil terus menciumi dan membelai punggungnya. Nafsu kami semakin menggelora. saya ditariknya ke tempat tidur. tante Tadi membaringkan dirinya. Tanganku menyusup ke buah dadanya yang besar dan empuk, aduuh nikmat sekali, kuelus buah dadanya dengan lembut, kuremas pelan-pelan. tante Tadi menyingkapkan dasternya ke atas, dia tidak memakai BH. Aduh buah dadanya kelihatan putih dan menggung. saya nggak tahan lagi, kuciumi, kukulum pentilnya, kubenamkan wajahku di kedua buah dadanya, sampai saya nggak bisa bernapas. Sementara tanganku merogoh kemaluannya yang berbulu tebal. Celana dalamnya kupelorotkan, dan tante Tadi meneruskan ke bawah sampai terlepas dari kakinya. Dengan sigap saya melepaskan sarung dan celana dalamku. Penisku langsung tegang tegak menantang. tante Tadi segera menggenggamnya dan dikocok-kocok pelan dari ujung penisku ke pangkal pahaku. Aduuh, rasanya geli dan nikmat sekali. saya sudah nggak sabar lagi. saya naiki tubuh tante Tadi, bertelekan pada sikut dan dengkulku.
Kaki tante Tadi dikangkangkannya lebar-lebar, penisku dibimbingnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Digesek-gesekannya di bibir kemaluannya, makin lama semakin basah, kepala penisku masuk, semakin dalam, semakin.. dan akhirnya blees, masuk semuanya ke dalam kemaluan tante Tadi. saya turun-naik pelan-pelan dengan teratur. Aduuh, nikmat sekali. Penisku dijepit kemaluan tante Tadi yang sempit dan licin. Makin cepat kucoblos, keluar-masuk, turun-naik dengan penuh nafsu. "Aduuh, Dik Budi, Dik Budii.. enaak sekali, yang cepaat.. teruus", bisik tante Tadi sambil mendesis-desis. Kupercepat lagi. Suaranya vagina tante Tadi kecepak-kecepok, menambah semangatku. "Dik Budii saya mau muncaak.. muncaak, teruus.. teruus", saya juga sudah mau keluar. saya percepat, dan penisku merasa akan keluar. Kubenamkan dalam-dalam ke dalam vagina tante Tadi sampai amblaas. Pangkal penisku berdenyut-denyut, spermaku muncrat-muncrat di dalam vagina tante Tadi. Kami berangkulan kuat-kuat, napas kami berhenti. Saking nikmatnya dalam beberapa detik nyawaku melayang entah kemana. Selesailah sudah. Kerinduanku tercurah sudah, saya merasa lemas sekali tetapi puas sekali.
Kucabut penisku, dan berbaring di sisinya. Kami berpelukan, mengatur napas kami. Tiada kata-kata yang terucapkan, ciuman dan belaian kami yang berbicara.
"Dik Budi, saya curiga, salah satu dari kami mandul. Kalau saya subur, saya harap saya bisa hamil dari spermamu. Nanti kalau jadi saya kasih tahu. Yang tahu bapaknya anakku kan hanya saya sendiri kan. Dengan siapa saya membuat anak", katanya sambil mencubitku. Malam itu pertama kali saya menyetubuhi tante Tadi tetanggaku. Beberapa kali kami berhubungan sampai saya kawin dengan wanita lain. tante Tadi walaupun cemburu tapi dapat memakluminya.
Keluarga Pak tadi sampai saat ini hanya mempunyai satu anak perempuan yang cantik. Apabila di kedepankan, tante Tadi sering menciumi anak itu, sementara matanya melirikku dan tersenyum-senyum manis. Tetanggaku pada meledek tante Tadi, mungkin waktu hamil tante Tadi benci sekali sama saya . Karena anaknya yang cantik itu mempunyai mata, pipi, hidung, dan bibir yang persis seperti mata, pipi, hidung, dan bibirku.
Seperti telah anda ketahui hubunganku dengan tante Tadi istri tetanggaku yang cantik itu tetap berlanjut sampai kini, walaupun saya telah berumah tangga. Namun dalam perkawinanku yang sudah berjalan dua tahun lebih, kami belum dikaruniai anak. Istriku tidak hamil-hamil juga walaupun penisku kutojoskan ke vagina istriku siang malam dengan penuh semangat. Kebetulan istriku juga mempunyai nafsu seks yang besar. Baru disentuh saja nafsunya sudah naik. Biasanya dia lalu melorotkan celana dalamnya, menyingkap pakaian serta mengangkangkan pahanya agar vaginanya yang tebal bulunya itu segera digarap. Di mana saja, di kursi tamu, di dapur, di kamar mandi, apalagi di tempat tidur, kalau sudah nafsu, ya saya masukkan saja penisku ke vaginanya. Istriku juga dengan penuh gairah menerima coblosanku. saya sendiri terus terang setiap saat melihat istriku selalu nafsu saja deh. Memang istriku benar-benar membuat hidupku penuh semangat dan gairah.
Tetapi karena istriku tidak hamil-hamil juga saya jadi agak kawatir. Kalau mandul, jelas saya tidak. Karena sudah terbukti tante Tadi hamil, dan anakku yang cantik itu sekarang menjadi anak kesayangan keluarga Pak Tadi. Apakah istriku yang mandul? Kalau melihat fisik serta haidnya yang teratur, saya yakin istriku subur juga. Apakah saya kena hukuman karena saya selingkuh dengan tante Tadi? aah, mosok. Nggak mungkin itu. Apakah karena dosa? Waah, mestinya ya memang dosa besar. Tapi karena menyetubuhi tante Tadi itu enak dan nikmat, apalagi dia juga senang, maka hubungan gelap itu perlu diteruskan, dipelihara, dan dilestarikan.
Untuk mengatur perselingkuhanku dengan tante Tadi, kami sepakat dengan membuat kode khusus yang hanya diketahui kami berdua. Apabila Pak Tadi tidak ada di rumah dan benar-benar aman, tante Tadi memadamkan lampu di sumur belakang rumahnya. Biasanya lampu 5 watt itu menyala sepanjang malam, namun kalau pada pukul 20.00 lampu itu padam, berarti keadaan aman dan saya dapat mengunjungi tante Tadi. (Anda dapat meniru caraku yang sederhana ini. Gratis tanpa bayar pulsa telepon yang makin mahal). Karena dari samping rumahku dapat terlihat belakang rumah tante Tadi, dengan mudah saya dapat menangkap tanda tersebut. Tetapi pernah tanda itu tidak ada sampai 1 atau 2 bulan, bahkan 3 bulan. saya kadang-kadang jadi agak jengkel dan frustasi (karena kangen) dan saya mengira juga tante Tadi sudah bosan denganku. Tetapi ternyata memang kesempatan itu benar-benar tidak ada, sehingga tidak aman untuk bertemu.
Pada suatu hari saya berpapasan dengan tante Tadi di jalan dan seperti biasanya kami saling menyapa baik-baik. Sebelum melanjutkan perjalanannya, dia berkata, "Dik Budi, besok malam minggu ada keperluan nggak?"
"Kayaknya sih nggak ada acara kemana-mana. Emangnya ada apa?" jawabku dengan penuh harapan karena sudah hampir satu bulan kami tidak bermesraan.
"Nanti ke rumah yaa!" katanya dengan tersenyum malu-malu.
"Emangnya Pak Tadi nggak ada?" kataku. Dia tidak menjawab, cuma tersenyum manis dan pergi meneruskan perjalanannya. Walaupun sudah biasa, darahku pun berdesir juga membayangkan pertemuanku malam minggu nanti.
Seperti biasa malam minggu adalah giliran ronda malamku. Istriku sudah tahu itu, sehingga tidak menaruh curiga atau bertanya apa-apa kalau pergi keluar malam itu. saya sudah bersiap untuk menemui tante Tadi. saya hanya memakai sarung, (tidak memakai celana dalam) dan kaos lengan panjang biar agak hangat. Dan memang kalau tidur saya tidak pernah pakai celana dalam tetapi hanya memakai sarung saja. Rasanya lebih rileks dan tidak sumpek, serta penisnya biar mendapat udara yang cukup setelah seharian dipepes dalam celana dalam yang ketat.
Waktu menunjukkan pukul 22.00. Lampu belakang rumah tante Tadi sudah padam dari tadi. saya berjalan memutar dulu untuk melihat situasi apakah sudah benar-benar sepi dan aman. Setelah yakin aman, saya menuju ke samping rumah tante Tadi. saya ketok kaca nako kamarnya. Tanpa menunggu jawaban, saya langsung menuju ke pintu belakang. Tidak berapa lama terdengar kunci dibuka. Pelan pintu terbuka dan saya masuk ke dalam. Pintu ditutup kembali. saya berjalan beriringan mengikuti tante Tadi masuk ke kamar tidurnya. Setelah pintu ditutup kembali, kami langsung berpelukan dan berciuman untuk menyalurkan kerinduan kami. Kami sangat menikmati kemesraan itu, karena memang sudah hampir satu bulan kami tidak mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Setelah itu, tante Tadi mendorongku, tangannya di pinggangku, dan tanganku berada di pundaknya. Kami berpandangan mesra, tante tadi tersenyum manis dan memelukku kembali erat-erat. Kepalanya disandarkan di dadaku.
"Paa, sudah lama kita nggak begini", katanya lirih. tante Tadi sekarang kalau sedang bermesraan atau bersetubuh memanggilku Papa. Demikian juga saya selalu membisikkan dan menyebutnya Mama kepadanya. Nampaknya tante Tadi menghayati betul bahwa Nia, anaknya yang cantik itu bikinan kami berdua.
"Pak Tadi sedang kemana sih maa", tanyaku.
"Sedang mengikuti piknik karyawan ke Pangandaran. saya sengaja nggak ikut dan hanya Nia saja yang ikut. Tenang saja, pulangnya baru besok sore", katanya sambil terus mendekapku.
"Maa, saya mau ngomong nih", kataku sambil duduk bersanding di tempat tidur. tante Tadi diam saja dan memandangku penuh tanda tanya.
"Maa, sudah dua tahun lebih saya berumah tangga, tetapi istriku belum hamil-hamil juga. Kamu tahu, mustinya secara fisik, kami tidak ada masalah. saya jelas bisa bikin anak, buktinya sudah ada kan. saya nggak tahu kenapa kok belum jadi juga. Padahal bikinnya tidak pernah berhenti, siang malam", kataku agak melucu. tante Tadi memandangku.
"Pa, saya harus berbuat apa untuk membantumu. Kalau saya hamil lagi, saya yakin suamiku tidak akan mengijinkan adiknya Nia kamu minta menjadi anak angkatmu. Toh anak kami kan baru dua orang nantinya, dan pasti suamiku akan sayang sekali. Untukku sih memang seharusnya bapaknya sendiri yang mengurusnya. Tidak seperti sekarang, keenakan dia. Cuma bikin doang, giliran sudah jadi bocah orang lain dong yang ngurus", katanya sambil merenggut manja. saya tersenyum kecut.
"Jangan-jangan ini hukuman buatku ya maa, saya dihukum tidak punya anak sendiri. Biar tahu rasa", kataku.
"Ya sabar dulu deh paa, mungkin belum pas saja. Spermamu belum pas ketemu sama telornya Rina (nama istriku). Siapa tahu bulan depan berhasil", katanya menghiburku.
"Ya mudah-mudahan. Tolong didoain yaa.."
"Enak saja. Didoain? Mustinya saya kan nggak rela Papa menyetubuhi Rina istrimu itu. Mustinya Papa kan punyaku sendiri, saya monopoli. Nggak boleh punya Papa masuk ke perempuan lain kan. Kok malah minta didoain. Gimana siih", katanya manja dan sambil memelukku erat-erat. Benar juga, mestinya kami ini jadi suami-istri, dan Nia itu anak kami.
"Maa, kalau kita ngomong-ngomong seperti ini, jadinya nafsunya malah jadi menurun lho. Jangan-jangan nggak jadi main nih", kataku menggoda.
"Iiih, dasar", katanya sambil mencubit pahaku kuat-kuat.
"Makanya jangan ngomong saja. Segera saja Mama ini diperlakukan sebagaimana mestinya. Segera digarap doong!" katanya manja.
Kami berpelukan dan berciuman lagi. Tentu saja kami tidak puas hanya berciuman dan berpelukan saja. Kutidurkan dia di tempat tidur, kutelentangkan. tante Tadi mandah saja. Pasrah saja mau diapain. Dia memakai daster dengan kancing yang berderet dari atas ke bawah. Kubuka kancing dasternya satu per satu mulai dari dada terus ke bawah. Kusibakkan ke kanan dan ke kiri bajunya yang sudah lepas kancingnya itu. Menyembullah buah dadanya yang putih menggunung (dia sudah tidak pakai BH). Celana dalam warna putih yang menutupi vaginanya yang nyempluk itu saya pelorotkan. saya benar-benar menikmati keindahan tubuh istri gelapku ini. Saat satu kakinya ditekuk untuk melepaskan celana dalamnya, gerakan kakinya yang indah, vaginanya yang agak terbuka, aduh pemandangan itu sungguh indah. Benar-benar membuatku menelan ludah. Wajah yang ayu, buah dada yang putih menggunung, perut yang langsing, vagina yang nyempluk dan agak terbuka, kaki yang indah agak mengangkang, sungguh mempesona. saya tidak tahan lagi. saya lempar sarungku dan kaosku entah jatuh dimana. saya segera naik di atas tubuh tante Tadi. Kugumuli dia dengan penuh nafsu. saya tidak peduli tante Tadi megap-megap keberatan saya tindih sepenuhnya. Habis gemes banget, nafsu banget sih.
"Uugh jangan nekad tho. Berat nih", keluh tante Tadi.
Aku bertelekan pada telapak tanganku dan dengkulku. Penisku yang sudah tegang banget saya paskan ke vaginanya. Terampil tangan tante Tadi memegangnya dan dituntunnya ke lubang vaginanya yang sudah basah. Tidak ada kesulitan lagi, masuklah semuanya ke dalam vaginanya. Dengan penuh semangat kukocok vagina tante Tadi dengan penisku. tante Tadi semakin naik, menggeliat dan merangkulku, melenguh dan merintih. Semakin lama semakin cepat, semakin naik, naik, naik ke puncak.
"Teruus, teruus paa.. sshh.. ssh.." bisik tante Tadi
"Maa, saya juga sudah mau.. keluaarr",
"Yang dalam paa.. yang dalamm. Keluarin di dalaam Paa.. Paa.. Adduuh Paa nikmat banget Paa.., ouuch..", jeritnya lirih yang merangkulku kuat-kuat. Kutekan dalam-dalam penisku ke vaginanyanya. Croot, cruut, crruut, keluarlah spermaku di dalam rahim istri gelapku ini. Napasku seperti terputus. Kenikmatan luar biasa menjalar kesuluruh tubuhku. tante Tadi menggigit pundakku. Dia juga sudah mencapai puncak. Beberapa detik dia saya tindih dan dia merangkul kuat-kuat. Akhirnya rangkulannya terlepas. Kuangkat tubuhku. Penisku masih di dalam, saya gerakkan pelan-pelan, aduh geli dan ngilu sekali sampai tulang sumsum. Vaginanya licin sekali penuh spermaku. Kucabut penisku dan saya terguling di samping tante Tadi. tante Tadi miring menghadapku dan tangannya diletakkan di atas perutku. Dia berbisik, "Paa, Nia sudah cukup besar untuk punya adik. Mudah-mudahan kali ini langsung jadi ya paa. saya ingin dia seorang laki-laki. Sebelum Papa tadi mengeluh Rina belum hamil, saya memang sudah berniat untuk membuatkan Nia seorang adik. Sekalian untuk test apakah Papa masih joos apa tidak. Kalau saya hamil lagi berarti Papa masih jooss. Kalau nanti pengin menggendong anak, ya gendong saja Nia sama adiknya yang baru saja dibuat ini." Dia tersenyum manis. saya diam saja. menerawang jauh, alangkah nikmatnya bisa menggendong anak-anakku.
Malam itu saya bersetubuh lagi. Sungguh penuh cinta kasih, penuh kemesraan. Kami tuntaskan kerinduan dan cinta kasih kami malam itu. Dan saya menunggu dengan harap-harap cemas, jadikah anakku yang kedua di rahim istri gelapku ini? Salam. Demikian cerita tante girang kali ini, sukses terus semoga anda terhibur denganc erita cerita yang kami suguhkan. tetep positif thingking dan liat tante tante yang memang layak dijadikan korban :P , jangan sembarang tante dijerumuskan ya :D




